Pagi Pisang Goreng dan Ketan
sepagi itu kau merengek ngidam pisang goreng dan ketan
di kedai Tek Rani yang tersuruk, namun tak pernah lengang
oleh asap rokok dan bualan receh pensiunan
atau gelitik gibah tak sengaja gadis enampuluhan
tak lupa kutambahkan seplastik kecil sala lauak
dan bakwan yang menawan
agar di rumah kita dapat saling bicara
dalam waktu yang agak lama
tentang dendang tak sudah
meruah di tiktok dan instagram
hari pun meninggi, kita belum mandi
tiba-tiba teringat utang yang masih lama akan terlunasi
kau pun tertawa saat kuyakinkan sebuah mimpi
betapa esok sore aku pulang dari kantor
menyetir Mercy
2025
Seiris daun Kemangi dan Sambal Terasi
makan siang kali ini ingin aku kau ramaskan
seulas bada goreng, sambal terasi dan daun kemangi
aku sudah bosan makan dengan gaya orang pesohor
di gerai-gerai mahal kota metropolitan
di kecut-asam-manis kemangi
ingin aku mandi dalam cinta suci
yang telah lama tak henti berenang
di samudra luas takdir percintaan kita
sebelum dipertemukanNya di rumah makan Sari Bundo
waktu aku masih cungkring dan belajar
menghayati denyar-denyar bahagia
semoga apa pun yang kau hidangkan di atas meja makan
memberkahi seluruh puisi
yang kemungkinan besar masih akan lahir
dari seluk-beluk penasaranku
pada dunia yang semakin alergi
dengan kewarasan
2025
Duduk di Lepau Samping Kantor Pos
lautan senyum terlantar
memandang jalan berdebu
usai Pemilu yang hiruk
segelas kopi panas melipur paras
terpana pada sepasang balon
merah muda dan kelabu
tapi bukan untuk pesta ulang tahun
soto bercampur paha ayam
melintas di kerongkongan gatal
batuk semalaman
tak mampu mengikis rindu
pada masa lalu yang tertambat di pagar rumah dinas
sang penguasa gila hormat
lorong-lorong yang pernah kita lalui
dengan segumpal keyakinan tak berkarat
lantas siang memukul kaki
agar berlari melintas jam-jam sepi
lantas puisi ini tak ingin lagi mendaki
ranjau-ranjau janji
2025
Gado-Gado Berlumur Dendam
di antara reruntuhan hari yang kadang tak berjarum
kau sibak belukar diriku yang rengkah oleh ranting pilu
hingga di titik peluh terakhir, kau tak menyerah
kau tak sudah
di antara lenyai asam manis kuah gado-gado
yang menyusup lubang jakunku
kau cari masa silam yang gosong
bagai membidik camar tersesat
di pantai hantu
di antara gemuruh orang-orang
menggapai kekasihnya
yang hilang ditelan kusut zaman
kau gergaji kecemasan
yang betah hinggap
di sudut bingkai lukisan usang
di sekonyong-konyong desah paru
yang mulai lelah menggotong resah jantung
kau tawarkan asin terasi yang menyembur
memandikan dendamku
pada arus waktu
2025
BIODATA
Mohammad Isa Gautama, kelahiran 1976, mengajar di Universitas Negeri Padang. Menulis puisi sejak remaja, dimuat di kompas.id, Media Indonesia, Republika, Bali Post, Lampung Post, Jurnal Puisi, Indo Pos, Majalah Sastra Horison, bacapetra.co, borobudurwriters.id, balipolitika.com, ompiompi.co.id, dan basabasi.co serta seluruh media cetak Sumatra Barat. Puisinya juga dimuat di belasan antologi bersama, yang terbaru “Share” (Puisi-puisi Pilihan Bali Politika 2024). Tiga buku puisi tunggalnya, Jalan Menangis Menuju Surga, (Basabasi, 2018), Bunga yang Bersemi Kala Aku Sunyi, (Bitread, 2019) dan Syair Cinta tanpa Kopi (hyangpustaka, 2022). Buku kumpulan cerpennya, Pada Sebuah Khuldi (basabasi, 2023). Emerging writer dalam ajang Ubud Writers and Readers Festival, 2017, terpilih pada Borobudur Writers and Culural Festival, 2019. Dapat disapa di IG @mohammadisagautama.













