BOGOR, Balipolitika.com – Institut Pertanian Bogor (IPB University) menyelenggarakan Simposium dan Focus Group Discussion (FGD) Hilirisasi 2025 bertema “Model Destinasi Wisata Rendah Karbon Berbasis Budaya” pada 27 November 2025 di Kampus IPB Gunung Gede, Bogor. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Hiliriset Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) yang bertujuan mempercepat pemanfaatan hasil penelitian perguruan tinggi bagi masyarakat, pemerintah daerah, dan industri pariwisata. yang difasilitasi oleh Tim Pakar dari Politeknik Internasional Bali (PIB) dan pakar IT professional sebagai tim penilai kelayakan proposal risetnya.
Simposium ini menghadirkan tiga narasumber utama, yaitu Fadjar Hutomo, selaku Staf Ahli Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Achmad Zakaria selaku Sekretaris Ikatan Arsitek Indonesia Provinsi Banten, dan I Kadek Alamsta Suarjuniarta, selaku CEO Zona EBT. Acara ini juga dihadiri oleh akademisi, praktisi, dan pemangku kepentingan pariwisata dari Kabupaten Sukabumi, termasuk Kepala Bappelitbangda, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pariwisata, Dinas Kebudayaan Pemuda dan Olahraga, Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Pertanian, Dinas Peternakan, Dinas Komunikasi dan Informatika, serta perwakilan Setda Kabupaten Sukabumi dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.
Dalam sesi pemaparan, Fadjar Hutomo menegaskan pentingnya transformasi menuju pariwisata rendah karbon, mengingat sektor transportasi menyumbang hingga 49 persen emisi karbon pariwisata global. Ia menekankan bahwa Indonesia akan memasuki fase pelaporan karbon sukarela tahun 2026–2030 sebagai persiapan menuju kewajiban pelaporan setelah 2030. Sementara itu, Achmad Zakaria menyoroti pentingnya penggunaan material hijau dan pendekatan arsitektur berkelanjutan dalam pengembangan kawasan wisata. Narasumber ketiga, I Kadek Alamsta, memaparkan inovasi perhitungan emisi bidang energi melalui Carbon Calculator zonaEBT yang dapat dimanfaatkan desa wisata untuk memetakan jejak karbon dan merancang transisi energi bersih.
Simposium ini juga mempresentasikan hasil riset hilirisasi IPB melalui Program Hiliriset Diktisaintek berupa platform kalkulator karbon dan model destinasi budaya rendah emisi. Proyek ini memasuki tahap validasi teknis, sosial, dan finansial sebagai dasar implementasi di tingkat desa wisata. Melalui sesi FGD, peserta membahas kelayakan investasi awal, kebutuhan biaya operasional, peluang pendapatan dari sertifikasi hijau, karbon kredit, lisensi teknologi, serta potensi replikasi model ke berbagai destinasi lain. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, desa wisata, dan sektor swasta menjadi fokus utama diskusi dalam mendorong transformasi hijau sektor pariwisata.
Kegiatan simposium dan FGD ini juga diperkuat oleh keterlibatan Tim Pakar, yaitu Dr. Ir. Ar. Deddy Kurniawan Halim, MM, DAP (c), Ph.D yang juga dikenal dengan nama DK Halim (ketua Tim Pakar sekaligus pakar penilai kelayakan aspek kebijakan dan regulasi, Dr. Dinar Sukma (pakar penilai aspek Model Bisnis), Dwi Novita Cahyanintyas P. (pakar penilai aspek Pasar), Dimas Alan Wijaya & Adlhez Devha B.R., (pakar penilai aspek IT/Aspek teknis), Vivi (pakar penilai aspek keuangan). Sementara itu, dari IPB University hadir Tim Peneliti, yaitu: Dr. Eva Rachmawati, S.Hut., M.Si (Social Aspect of Tourism), Dr. Vera D. Damayanti, SP., MLA (Landscape Architecture), dan Resti Meilani, S.Hut., M.Si (Conservation Education & Ecotourism Interpretation)
Simposium dan FGD ini turut dihadiri oleh para pemangku kepentingan Kasepuhan Desa Girijaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, termasuk Adi Gumbara Putra, selaku Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan mewakili Bapelitbangda, dan para pejabat lainnya yang mewakili dinas-dinas terkait di Pemeritah Kabupaten Sukabumi.
Kegiatan ini menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, termasuk standardisasi pelaporan emisi untuk desa wisata, pembentukan green tourism taskforce di tingkat daerah, peningkatan kapasitas digital masyarakat, dan integrasi nilai budaya lokal sebagai fondasi pengembangan destinasi berkelanjutan. Melalui penyelenggaraan simposium dan FGD Hilirisasi Riset 2025 ini. IPB University menegaskan akan terus mendukung peran akademisinya dalam mengembangkan pariwisata berkelanjutan yang inklusif, inovatif, dan berbasis kearifan lokal, sekaligus mengokohkan komitmen perguruan tinggi dalam mendukung agenda Hiliriset Dikti untuk menghasilkan inovasi yang berdampak nyata bagi pembangunan daerah, khususnya di Jawa Barat. (bp/ken)













