JAKARTA, Balipolitika.com- Produsen teknologi asal Korea Selatan baru saja merilis ponsel pintar terbarunya untuk pasar kelas menengah dunia. Samsung Galaxy A57 hadir membawa perubahan estetika yang sangat mencolok melalui desain bodi ramping dan bobot ringan. Namun, ulasan dari pakar gawai menunjukkan bahwa ponsel ini seolah tertahan pada zona nyaman tanpa peningkatan spesifikasi yang berarti.
“Samsung nampak terlalu santai karena peningkatan pada seri ini terasa kurang signifikan jika kita bandingkan dengan generasi pendahulunya,” kata David dalam unggahan video saluran GadgetIn, Kamis, 9 April 2026.
Transformasi fisik menjadi nilai jual utama yang paling menonjol pada perangkat seri A terbaru ini. Insinyur Samsung berhasil memangkas ketebalan ponsel hingga menjadi hanya enam koma sembilan milimeter saja. Pengguna kini akan merasakan sensasi genggaman yang jauh lebih ergonomis karena bobot perangkat menyusut hingga angka seratus delapan puluh gram.
“Bobot Galaxy A57 kini sepuluh persen lebih enteng sehingga tangan pengguna tidak akan cepat lelah saat mengoperasikan ponsel,” ujar David saat menjelaskan rincian dimensi perangkat tersebut.
Layar ponsel ini juga mendapatkan polesan baru melalui bezel atau bingkai hitam yang nampak lebih tipis. Samsung menyematkan proteksi durabilitas yang lebih tinggi melalui sertifikasi ketahanan air dan debu tingkat IP68. Inovasi ini memungkinkan perangkat tersebut bertahan di bawah air sedalam satu setengah meter selama tiga puluh menit penuh.
“Peningkatan rating IP68 merupakan kabar baik bagi konsumen yang menginginkan daya tahan ekstra untuk penggunaan aktivitas luar ruangan,” tutur David mengenai fitur ketahanan perangkat.
Sayangnya, sektor dapur pacu ponsel ini justru menuai kritik tajam karena minimnya lompatan teknologi yang ditawarkan. Penggunaan chipset Exynos 1680 ternyata hanya merubah konfigurasi inti tanpa membawa arsitektur prosesor yang benar-benar mutakhir. Performa mesin saat menjalankan gim berat masih sering mengalami kendala kestabilan serta peningkatan suhu yang cukup tinggi.
“Skor benchmark memang terlihat lebih tinggi namun secara teknis tidak ada terobosan besar pada bagian komponen pemrosesan datanya,” ungkap David dalam analisis teknisnya.
Kapasitas daya baterai perangkat ini masih bertahan pada angka lima ribu mAh seperti seri yang meluncur tahun lalu. Teknologi pengisian daya cepat empat puluh lima watt memerlukan waktu satu jam sepuluh menit untuk mengisi penuh. Spesifikasi kamera belakang juga tidak mengalami perubahan karena tetap mengandalkan lensa utama beresolusi lima puluh megapiksel tanpa sensor telefoto.
“Hasil jepretan foto terlihat identik dengan seri sebelumnya sehingga pemilik seri lama tidak perlu terburu-buru melakukan pembaruan perangkat,” jelas David sambil membandingkan hasil tangkapan gambar.
David sangat menyarankan calon pembeli agar tidak meminang ponsel ini pada harga peluncuran resmi yang menembus angka delapan juta rupiah. Harga pasar yang jauh lebih masuk akal berada pada kisaran tujuh juta rupiah agar dapat bersaing dengan kompetitor. Konsumen memiliki pilihan yang lebih baik jika mengejar performa murni pada kelas harga yang sama dari merek lain.
“Jangan membeli pada harga awal karena posisi harganya terlalu mepet dengan seri flagship yang memiliki spesifikasi jauh lebih superior,” ucap David. (BP/CHA).
Selengkapnya di SINI.










