Pengakuan
hatiku, barangkali
medan magnet yang retak,
menarik rindu
dari bentangan jarak.
bayangan yang bersisa
mengalir di membran memori,
neuron-neuron menari sendiri.
dan kau probabilitas
yang tak terdefinisi,
di antara ada dan tiada.
cinta telah mencipta ketegangan
yang meremukkan keseimbangan,
juga menyisakan resonansi
yang tak bisa kutahan lagi.
2025
Terikat
dari segala sepi, dari segala duri,
dari segala duka, dari segala luka,
dari segala mata, dari segala kata,
dari segala sunyi. inilah penyerahan diri;
dari segala langkah yang tersesat, aku mencari;
hanya satu yang kuingin, hanya satu yang kurindukan, hanya kau.
apabila langit runtuh, apabila angin terbelah, apabila hampa menekan,
apabila kesedihan mengendap, barangkali aku hanya dapat mengingau, mengikat kau.
2025
Ladang
di sini, kami menakar waktu sebelum hari bergerimis,
membiarkan langit gersang, tapi tubuhmu adalah ladang
yang tabah memanggil hujan. matahari yang terlipat,
membuat kulit bumi enggan menumbuhkan benih.
kami, para pemetik luka dan harapan,
menyisir tanah dengan tangan gemetar,
dengan gerak cangkul kami, hingga menyatu dengan doa murni.
maka berkahi bumi ini, dan biarkan kami menjadi biji;
yang tumbuh di kemudian hari. karena kami percaya,
apa yang kami tanam, kebusukan yang akan kami tuai.
tapi kami akan setia menunggu,
benih baru, menembus tanah kerasmu.
2025
Pada Suatu Hari
aku kira begini pada akhirnya;
tanganmu masih setia menanam cinta,
dan membiarkan usia kenangan menua
di sela-sela ingatan kita.
2025
BIODATA
Wiwit Atra Putra, tinggal di Yogyakarta. Aktif di Komunitas Ampas, Yogyakarta. Menulis puisi, cerpen, esai, dan resensi.













