“Every moment existence confronts us with the alternatives of resurrection or death; every moment we give an answer. This answer lies not in what we say or think, but in what we are, how we act, where we are moving.” (Erich Fromm)
Harapan dan Keterasingan
Dalam pusaran kehidupan masyarakat modern yang serba cepat dan kerap kali mekanistis, filsuf dan psikoanalis terkemuka, Erich Fromm, menghadirkan sebuah gagasan radikal sekaligus mendalam: ‘Revolusi Harapan’. Ini bukan sekadar optimisme naif, melainkan sebuah seruan mendesak untuk perubahan mendasar dalam jiwa dan tatanan sosial kita.
Bagi Fromm, harapan bukanlah sekadar menunggu pasif atau sekadar berangan-angan; ia adalah kondisi eksistensial, sebuah mode keberadaan aktif yang berakar pada kesadaran mendalam akan kemungkinan. Harapan sejati mengandung keyakinan bahwa masa depan dapat lebih baik, dikombinasikan dengan kemauan untuk bertindak demi mewujudkannya. Ini melibatkan dinamika psikologis yang kompleks, melampaui ketakutan dan sinisme, menuju komitmen yang teguh pada potensi kemanusiaan. Harapan adalah ketegangan antara apa yang ada dan apa yang seharusnya.
Fromm mengamati bahwa ciri khas masyarakat modern adalah meluasnya keterasingan. Manusia menjadi asing dari hasil kerjanya, dari sesamanya, bahkan dari diri sendiri. Kita menjadi robot dalam birokrasi dan mesin konsumsi, kehilangan kontak dengan esensi batiniah kita. Kehidupan yang berpusat pada kepemilikan materiil (memiliki) ketimbang eksistensi batiniah (menjadi) telah menciptakan kehampaan dan kecemasan. Dalam konteks ini, harapan palsu (false hope) sering kali muncul sebagai mekanisme pelarian, bukan sebagai kekuatan transformatif.
Fenomena keterasingan yang diuraikan Fromm terasa nyata di tengah masyarakat Indonesia yang kian terintegrasi dengan kapitalisme global. Pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi telah mendorong banyak individu beralih dari pekerjaan komunal yang berbasis menjadi (misalnya, bergotong royong) menjadi pekerjaan di sektor formal yang bersifat mekanistis. Di kota-kota besar, kita melihat pekerja pabrik atau karyawan korporat yang merasa asing dengan hasil jerih payah mereka, hanya menjadi ‘sekrup’ dalam mesin besar birokrasi dan produksi. Kehilangan kontak dengan esensi pekerjaan ini memicu kehampaan, yang lantas coba diisi melalui kepemilikan materiil.
Menuju Humanisasi dan Revolusi Eksistensial
Masyarakat Indonesia diserbu oleh arus konsumerisme yang agresif, didorong oleh iklan dan media sosial. Kebahagiaan dan kesejahteraan (well-being) sering kali disamakan dengan kemampuan untuk memiliki gawai terbaru, kendaraan mewah, atau brand tertentu. Orientasi dari menjadi ke memiliki ini menciptakan kecemasan sosial (social anxiety) dan mendorong lahirnya harapan palsu Fromm—yaitu harapan yang pasif, seperti menunggu keberuntungan instan (misalnya, dari skema cepat kaya atau judi online) atau kepuasan sesaat dari pembelian, alih-alih harapan aktif yang berlandaskan pada komitmen dan usaha transformatif. Kemacetan parah di kota-kota besar, misalnya, adalah simbol fisik dari alienasi ini: ribuan individu yang terisolasi dalam kendaraan pribadi, terperangkap dalam ‘rutinitas jalanan’.
Untuk mengatasi krisis ini, Fromm menyerukan sebuah revolusi, namun bukan revolusi politik dalam arti konvensional. Ia mengadvokasi humanisasi sebagai tujuan akhir, sebuah proses di mana individu merebut kembali kemanusiaannya. Revolusi yang diimpikan Fromm adalah pergeseran radikal dalam orientasi karakter sosial dan struktur masyarakat. Perubahan ini menuntut setiap individu untuk mengembangkan kesadaran diri (self-consciousness) yang kritis, memahami kondisi mereka yang teralienasi, dan berjuang untuk kemandirian serta produktivitas sejati.
Revolusi Harapan adalah penolakan terhadap kepasrahan dan penerimaan pasif terhadap status quo. Ini adalah pergerakan dari masyarakat yang berorientasi pada “memiliki” menuju masyarakat yang berorientasi pada “menjadi,” di mana nilai-nilai kemanusiaan, cinta, dan pemikiran kritis diprioritaskan di atas akumulasi modal dan kekuasaan. Dampaknya tak terelakkan: kesejahteraan sejati, yang diukur bukan dari aset, melainkan dari kedalaman dan kekayaan pengalaman batin, serta koneksi bermakna kita dengan dunia.
Maka, pesan Erich Fromm tentang Revolusi Harapan adalah sebuah reminder abadi: masa depan kemanusiaan bergantung pada kemampuan kita untuk menumbuhkan harapan yang berani, aktif, dan kritis, yang mendorong kita untuk menciptakan tatanan sosial yang benar-benar melayani kebutuhan mendasar jiwa manusia.
Penting untuk dipahami bahwa upaya menumbuhkan harapan transformatif ini bukanlah tugas yang hanya dibebankan pada individu. Fromm melihat adanya keterkaitan erat antara kondisi psikologis dan struktur sosio-ekonomi. Harapan sejati hanya dapat berkembang subur dalam lingkungan yang kondusif. Ini berarti mendesak kita untuk meninjau kembali institusi-institusi kita, dari sistem pendidikan yang sering kali menghasilkan pekerja patuh daripada pemikir kritis (critical thinker), hingga ekonomi yang mengutamakan keuntungan di atas kesejahteraan manusia.
Panggilan mendesak dari Revolusi Harapan adalah penjelmaan hakiki dari “demokrasi partisipatif,” suatu tatanan yang melampaui formalitas prosedural. Ini bukan sekadar tentang memberikan suara periodik di pasar komoditas atau di bilik pemilu, yang acapkali terasa hanya sebagai fatamorgana dari kebebasan sejati, melainkan tentang penegasan kembali kendali fundamental setiap individu atas narasi dan realitas kehidupannya. Dalam bingkai pikir ini, proses humanisasi diletakkan sebagai sebuah cetak biru kolektif, sebuah upaya sinergis yang menuntut perlawanan terhadap arus deras masyarakat konsumtif yang terus-menerus memproduksi kecemasan dan alienasi.
Akhirnya, tujuan utama perjuangan kolektif ini adalah transisi mendalam menuju formasi komunitas yang didasarkan pada prinsip-prinsip pertumbuhan diri yang bermakna, solidaritas yang mendalam, dan cinta yang diwujudkan dalam tindakan produktif dan konstruktif. Perubahan yang dicanangkan bukanlah reformasi kosmetik, melainkan transformasi dari jantung cara kita berinteraksi, berproduksi, dan mengorganisasi seluruh aspek kehidupan bersama. Hanya dengan berlandaskan pada harapan yang tercerahkan dan cerdas, yang tidak naif namun visioner, maka kita dapat merajut jaring-jaring kesejahteraan yang autentik—sebuah keberadaan yang tidak hanya makmur secara materi, tetapi juga terbebaskan secara hakiki dari cengkeraman keterasingan yang mematikan jiwa.
*penulis tinggal di Malang, Jawa Timur.













