BULELENG, Balipolitika.com– Desa Sangsit, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali memiliki kuliner hits yang tidak boleh dilewatkan, yakni jukut buangit.
Hidangan berbahan dasar sayur buangit ini menjadi salah satu masakan tradisional yang bertahan hingga saat ini.
Sayur buangit yang biasanya tumbuh liar di area persawahan ini memiliki cita rasa asam dan gurih yang khas.
Tak heran jika jukut buangit menjadi salah satu hidangan favorit bagi masyarakat setempat maupun wisatawan yang berkunjung.
Toping taburan cabai utuh di atasnya juga menambah cita rasa pedas yang menggugah selera.
Nyoman Widiasih (62 tahun) merupakan salah satu pedagang jukut buangit legendaris yang telah berjualan dari tahun 2009.
Ia tidak hanya menjual jukut buangit saja, tetapi juga belayag dan daluman yang banyak diburu konsumen.
Lokasinya berada tepat di depan Pura Beji Sangsit dengan jam buka mulai dari pukul 10.00 Wita sampai dengan pukul 17.00 Wita.
Nyoman Widiasih mengatakan bahwa kini tanaman buangit yang ia olah merupakan pemberian supplier atau dipasok pembudidaya sayur buangit, sehingga ia tidak perlu repot mencari buangit liar.
“Biasanya ada yang bawain dari supplier (petaninya), khusus dia menanam buangit,” ujar Nyoman Widiasih saat ditemui, Sabtu, 6 Juni 2026.
Menurutnya, cara pengolahan jukut buangit cukup sederhana, yakni direbus hingga matang kemudian ditaburi garam, asam, dan penyedap rasa.
“Air dingin yang berisi sayur buangit direbus. Kalau sudah tidak pahit baru diisi garam, asam, sama piksin (penyedap, red)” tuturnya.
Meskipun tampak sederhana, untuk mendapatkan rasa jukut buangit yang khas dan tidak pahit tidaklah mudah.
Usut punya usut, ternyata Nyoman Widiasih memiliki teknik khusus dalam mengolah sayur buangit ini.
Ungkapnya, buangit harus direbus dengan api kecil hingga rasa pahitnya perlahan berkurang dan teksturnya tidak terlalu matang.
“Sayur buangit direbus, tapi dikecilin apinya supaya rasa pahitnya berkurang dan tidak gebuh (terlalu matang, red)” ungkapnya.
Namun bagi kalian yang tidak ingin repot dan penasaran dengan cita rasa jukut buangit yang autentik, kalian bisa jumpai kuliner ini di sekitar Pasar Sangsit atau langsung ke kedai milik Nyoman Widiasih.
Super murah meriah, Nyoman Widiasih mematok harga yang sangat terjangkau, yakni Rp3.000,00 per bungkus.
Nyoman Widiasih mengatakan sejak dagangannya di-review oleh konten kreator dan viral, ia mendapatkan banyak pelanggan baru.
Tidak hanya warga lokal Sangsit saja, melainkan bahkan wisatawan luar juga mampir dan mencicipi kuliner khas nan legendaris ini.
“Pembeli dari luar, dari Seririt, Gerokgak, pelanggan tetap juga ada,” ungkapnya.
Pelanggannya pun bervariasi dari berbagai kalangan, tidak hanya orang dewasa tetapi juga anak muda.
Hal ini membuktikan bahwa kuliner jukut buangit ini tetap eksis dan mampu menarik minat generasi muda di tengah gempuran varian menu makanan kekinian alias modern.
Meningkatnya antusisme pembeli setelah viral, kini berdampak langsung pada jumlah penjualan.
Jika sebelumnya Nyoman Widiasih hanya menghabiskan 2 kg sayur buangit per hari, kini ia bisa menghabiskan bahan hingga tiga kali lipatnya, yakni 7 kg per hari.
“Awalnya 2 kg, sekarang bisa sampai 7 kg per hari,” ucap Nyoman Widiasih sembari melayani pembeli.
Ia juga bersyukur dengan adanya media sosial seperti tiktok karena dagangannya semakin laris plus dikenal luas oleh masyarakat. (bp/Luh Pradnya Setiadewi/4B/Basindo/Undiksha)













