Tak Ada Lagi yang Dirahasiakan
tak ada sunyi yang serahasia ini
segala ketersembunyian terjaga
seringkali sepi: riuh membisikkan
ketidakterungkapan yang temaram
dan kau senyap menyelinap-ruap
lamat-lamat kau kehilangan ayat
dengan kedua sayapnya ia lesat
ke langit — tempat kelak kau pun lenyap
tak ada lagi yang dirahasiakan
kepadamu, selain aku:
keakuanmu.
Ungaran, Januari 2026
Kembara Rindu di Lautan Cinta
tak ada jatuh cinta
tanpa rindu yang kembara
lalu kenapa ditunda?
ia adalah aroma laut, gulungan ombak,
sepoi angin, dan senja.
kemana cinta menepi?
jika gulungan ombak rindu menghanyutkan
dan laut perasaan menawarkan pelukan.
di mana debur menghantam rindu?
mungkin di karang cinta yang menguatkan
tempat kekasihku selalu singgah.
ia kah yang disebut kekasih: peracik aroma laut,
penggulung ombak, penyeru sepoi angin, dan pelukis senja?
mungkin, ia juga yang memahat karang kerinduan
di tengah laut cinta yang menghanyutkan.
Ungaran, Januari 2026
Sedia Rindu Sebelum Hujan
(1)
tak ada yang lebih romantis
selain rindu perdu pada gerimis
dipeluknya rintik-rintik ingatan
yang beraroma tanah basah
tempat di mana kenangan
tak henti berkisah
(2)
sesekali dikedipkan gigil
dari sepasang mata awan
yang menyimpan gemuruh
lirih bisik angin memanggil
air mata hujan: yang mengguyur
rindu tak berkesudahan
(3)
rindu bersulur tunas
di dahan-dahan perasaan
yang sebelumnya ranggas
pada pucuk-pucuk hijau daun
embun memeluk pertanyaan
tentang syahdu hujan
di hati yang kemarau
Ungaran, Februari 2026
Luruh
rintik hujan luruh
pada rindu yang lupa dibasuh
sesekali perasaan tumbuh
di dada langit yang rapuh
rintik hujan luruh
pada cinta yang gemuruh
sesekali perasaan rubuh
di pelukan gigil tubuh
rintik hujan luruh
pada air mata yang keruh
sesekali perasaan tak lagi utuh
di pangkuan senja yang bertabuh
rintik hujan luruh
pada luka-luka yang sembuh
sembuhlah sembuh
Ungaran, Februari 2026
Sayap Malam
dalam sayap malam ajal berjejal
di antara dahan-dahan kekal
darinya dedaunan tanggal
menuju sebuah amsal
gundukan takdir tertinggal
di mata tanah yang pejal
tak ada kesaksian disangkal
selain bisik langit yang dirapal
bayang bulan di pusara dangkal
sekujur sunyi terbaring janggal
memeluk pertanyaan muasal
di liang kesendirian yang diramal
Ungaran, Februari 2026
Puisi Kitab Suci
tidak ada puisi
di dalam kitab suci
jika sebatas kesucian
yang disakralkan
lalu,
puisi perlahan disucikan
sebelum akhirnya dikebumikan
sebagai pendosa
tak adakah sabda: Yang Maha Puisi?
dalam metafora sakral puitis
yang telah diwahyukan
pada tanah yang tersucikan
Ungaran, Februari 2026
BIODATA
Chris Triwarseno, alumnus Teknik Geodesi UGM, dan karyawan swasta yang tinggal di Ungaran. Penulis puisi, cerpen, resensi dan esai. Buku antologi puisi tunggalnya berjudul: Staycation Sepasang Puisi (2024), Sebilah Lidah (2023) dan Bait-bait Pujangga Sepi (2022). Buku Staycation Sepasang Puisi lolos dalam kurasi keikutsertaan dalam Festival Sastra Internasional Gunung Bintan ((FSIGB) 2024. Buku Sebilah Lidah lolos dalam kurasi keikutsertaan dalam Festival Sastra Internasional Gunung Bintan (FSIGB) 2023.













