JAKARTA, Balipolitika.com– Jatuh dari Lantai 4, Ibu Timothy Menepis Narasi Bullying dan Ungkap Titik Buntu Skripsi.
Kisah tragis Timothy, mahasiswa Universitas Udayana, mengguncang publik. Berbagai narasi liar beredar di media sosial. Ibunda Timothy, Sharon, akhirnya buka suara menepis semua isu tersebut. Ia menceritakan momen terakhir Sang Putra. Kisah ini bukan tentang perundungan, tetapi tentang titik buntu seorang mahasiswa.
Klarifikasi Ibu Timothy yang lugas itu disampaikan dalam podcast bersama Denny Sumargo di kanal youtubenya. Ia, Sharon, menceritakan detik-detik sebelum kepergian putranya tersebut.
Panggilan Pagi dan Kronologi Faktual
Pagi itu, sekitar pukul 07.30 pagi, Sharon menerima panggilan darurat. Dosen pembimbing skripsi Timothy, Pak Wahyu, menghubunginya. Sharon diminta segera menuju IGD Sanglah. Ia tiba saat Timothy masih dalam keadaan sadar.
Timothy sempat berbicara kepada ibunya. Sang putra mengatakan bahwa dia jatuh dari lantai 4. Ini menepis semua isu yang beredar luas di media sosial. Timothy meminta untuk dibius karena merasakan kesakitan yang hebat.
Tante Sheren menyaksikan penanganan medis Timothy. Saat beliau keluar mencari sinyal telepon, nafas Timothy terhenti. Di tengah kepasrahan itu, Tante Sheren merasakan “damai sejahtera” besar. Beliau yakin ini adalah tanda Tuhan lebih menyayangi Timothy.
Meluruskan Isu Mental dan Perundungan
Isu bullying di kampus menjadi sorotan utama masyarakat. Tante Sheren dengan tegas menepis narasi perundungan itu. Beliau percaya Timothy memiliki mental yang sangat kuat. Anaknya telah belajar merespons tekanan sejak dini.
Dahulu, Timothy sempat mengalami keterlambatan bicara. Masalah itu disebabkan oleh kotoran telinga besar saja. Ia juga pernah menjalani sesi psikolog untuk bersosialisasi. Sesi tersebut dihentikan saat Timothy SMA.
Keterlibatan psikolog itu bukan karena gangguan mental serius. Itu merupakan upaya orang tua mengajarkan Sang Putra mengatasi tekanan. Tante Sheren menegaskan Timothy tidak pernah dibully selama perkuliahan. Narasi rekaman tangisan serta video CCTV kampus Udayana juga dibantah.
Titik Buntu Skripsi di Malam Terakhir
Hari terakhir Timothy diisi dengan upaya penyelesaian skripsi. Sehari sebelum kejadian, Timothy curhat pada ibunya. “Mami, saya mentok,” kata Timothy. Skripsinya membahas studi literatur David Harvey.
Tante Sheren, yang seorang mantan dosen, langsung membantu. Mereka bekerja bersama merapikan draf skripsi. Mereka bekerja hingga pukul 10 malam. Timothy tidur normal setelahnya.
Pagi pukul 08.00 pagi, Timothy berpamitan. Ia berencana berjalan santai sebelum bimbingan skripsi. Bimbingan skripsi dijadwalkan pukul 12.00 siang. Ini merupakan gambaran aktivitas normalnya.
Dua Tuntutan untuk Perbaikan Sistem
Keluarga sepakat mengajukan laporan polisi. Laporan itu bukan untuk menuntut pidana. Tuntutan itu bertujuan mempercepat respons kampus Universitas Udayana. Keluarga mengajukan dua permintaan serius.
Permintaan pertama adalah kronologi lengkap peristiwa. Informasi ini harus diberikan secara privat kepada keluarga. Permintaan kedua adalah perbaikan sistem di kampus. Kampus harus melakukan review dan improvement terhadap layanan.
Perbaikan itu termasuk membuat layanan konseling lebih proaktif. Tujuannya agar kasus serupa tidak terulang kembali. Tante Sheren memaafkan mahasiswa yang berkomentar tidak pantas. Mereka diyakini tidak mengenal Timothy secara pribadi.
Beliau memberi sanksi moral “wajib lapor” kepada beberapa mahasiswa. Mereka diminta menjadi anak angkatnya. Mereka harus membawa semangat Timothy untuk melayani orang lain. Misi Tante Sheren adalah mengubah tragedi ini menjadi panggilan bangsa. Panggilan itu adalah membenahi sistem pendidikan anti bullying dari akar. (BP/CHA).










