PADA tanggal 21 – 27 September 2026 perupa berkelas internasional asal Bali, Citra Sasmita diundang oleh Cornell University untuk mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh Southeast Asia Program (SEAP). Selain itu, salah satu karya Citra Sasmita juga diakuisisi oleh kampus bergengsi tersebut.
Baru-baru ini, Wayan Jengki Sunarta dari Bali Politika berkesempatan mewawancarai Citra Sasmita terkait kehadirannya di Cornell University. Berikut adalah hasil wawancaranya:
Bali Politika:
Anda datang ke Cornell University berkaitan dengan acara apa?
Citra Sasmita:
Saya mendapat undangan untuk mengunjungi Cornell University dalam rangka simposium seni kelas musim gugur yang diselenggarakan oleh Southeast Asia Program (SEAP). Proses ini berawal dari email pertama yang saya terima dari Astara Light, seorang antropolog yang sedang menulis disertasi mengenai seni rupa Bali dan menjadikan karya saya sebagai salah satu bahan penelitiannya. Ia kemudian mengenalkan saya kepada Dr. Kaja McGowan, Associate Professor di Cornell University yang berfokus pada sejarah seni dan budaya Bali, studi gender, serta tradisi Bali.
Kunjungan ini juga berkaitan dengan ketertarikan kuat Herbert F. Johnson Museum of Art, museum seni kampus Cornell, untuk mengoleksi karya saya. Cornell University mempunyai sejarah panjang untuk mendukung riset yang berhubungan dengan Indonesian studies mencakup seni, musik, politik, dan spiritualitas dan museum juga berfokus mengoleksi karya yang bisa menjadi studi dan program untuk mahasiswanya.
Pada akhirnya, museum tersebut mengakuisisi salah satu karya saya dari Timur Merah Project IX: Beyond Realm of Senses (Oracle and Demons), yang sebelumnya pernah dipamerkan dalam São Paulo Biennale, Brasil, pada 2023. Karya ini bisa dikoleksi oleh Cornell University melalui funding dari George and Mary Rockwell Fund dan Patrick S Walujo pendiri Northstar Group di Indonesia (Gojek, Tokopedia dll) serta alumni Cornell 1997 dan Ayu Walujo melalui program Southeast Asia Cornell University.
Bali Politika:
Terkait proses kreatif Anda dalam seni rupa, apa yang Anda presentasikan di Cornell?
Citra Sasmita:
Tema yang diusung dalam undangan pameran koleksi Herbert F. Johnson Museum of Art di Cornell University adalah Nyegara Gunung, yang juga menjadi bagian dari dialog dengan seminar Dr. Kaja McGowan tentang air dan politik di Asia Tenggara. Dalam acara ini, Wayan Kun Adnyana, Peni Candra Rini, dan I Gusti Sudarta juga turut diundang.
Tema tersebut sangat berkaitan dengan cara saya membaca ulang tradisi visual Bali, khususnya citra Kamasan, melalui perspektif perempuan dan pengalaman tubuh. Dalam korespondensi yang saya terima, Dr. Kaja menyampaikan ketertarikannya pada intervensi feminis yang saya lakukan terhadap imaji Kamasan, terutama karya-karya bertingkat yang digantung dari langit-langit dan mengingatkan pada peran ritual ider-ider.
Ketertarikan ini juga berhubungan dengan koleksi museum yang baru saja mengakuisisi lukisan Kamasan karya Mangku Mura berjudul The Churning of the Sea of Milk atau Pamuteran Giri, yang berasal dari koleksi mendiang John Miksic dan istrinya, Heimun Miksic, dengan kontribusi penting dari Astara Light sebagai mahasiswa bimbingan Dr. Kaja.
Dari konteks itulah muncul kemungkinan untuk mempertimbangkan karya saya yang terinspirasi oleh tema tersebut, sekaligus membuka ruang percakapan tentang hubungan laut dan gunung, kosmologi Bali, politik air, tubuh perempuan, serta pembacaan ulang terhadap tradisi dalam seni rupa kontemporer.
Bali Politika:
Bagaimana kesan-kesan Anda selama kegiatan di Cornell?
Citra Sasmita:
Saya menanggapi undangan ini dengan sangat serius, terutama karena Cornell University merupakan bagian dari Ivy League, memiliki sejarah akademik yang panjang, reputasi intelektual yang prestisius, serta tingkat selektivitas penerimaan mahasiswa yang dikenal sangat ketat. Hal ini memotivasi saya untuk menulis esai akademik bagi simposium tersebut, dengan pembahasan yang lebih kompleks mengenai sejarah seni tradisi di Bali serta perspektif saya tentang perempuan dan ekologi.
Selain terkesan oleh bangunan arsitektur kampus yang indah, saya juga merasa sangat dihargai oleh mahasiswa, peneliti, dan dosen Cornell yang membaca esai saya. Mereka merespons presentasi saya melalui pertanyaan-pertanyaan kritis yang mendalam dan menarik, jauh melampaui pembahasan yang sekadar formalistik atau hanya menyentuh permukaan karya.
Pengalaman mempresentasikan pemikiran di kampus ini memberi saya kesan bahwa, sebagai seniman, tidak cukup hanya menghadirkan karya fisik; yang juga penting adalah bagaimana gagasan didistribusikan dan bagaimana produksi pengetahuan dibangun. Saya merasakan bahwa kebudayaan intelektual semacam ini telah mengakar kuat di Cornell University.
Dari kegiatan ini, saya merasa memperoleh apresiasi dan penghargaan yang tinggi, bukan hanya terhadap aspek artistik karya saya, tetapi juga terhadap kapasitas intelektual dan pengetahuan yang menyertainya.
Bali Politika:
Pengalaman apa yang Anda dapatkan selama di Cornell?
Citra Sasmita:
Saya mengunjungi Cornell University selama satu minggu dan tinggal di Becker House, salah satu asrama kampus yang didirikan untuk menghormati sejarawan Carl Lotus Becker. Salah satu kutipannya yang terkenal, “kemerdekaan hadir bersama tanggung jawab”, sangat berkesan bagi saya karena selaras dengan pengalaman yang saya dapatkan selama berada di sana.
Di Becker House, saya juga memberikan presentasi kepada mahasiswa Cornell mengenai proses berkesenian saya, sejarah seni tradisi Bali, serta kebudayaan Bali secara lebih luas. Para mahasiswa mengikuti materi tersebut dengan penuh perhatian dan konsentrasi.
Salah satu pertanyaan yang paling menantang datang dari seorang mahasiswa yang bertanya: bagaimana menurut saya awal mula manusia memiliki sifat misoginis? Pertanyaan itu membuka ruang refleksi yang sangat penting.
Saya menjawab dengan mengaitkannya pada pandangan bahwa awal peradaban manusia tidak dapat dilepaskan dari peran perempuan. Saya teringat pada esai yang pernah saya baca mengenai lukisan purba dalam gua, yang menyinggung kemungkinan penggunaan pigmen merah yang berhubungan dengan darah pascapersalinan perempuan, serta pembacaan terhadap patung Venus of Willendorf sebagai representasi tubuh perempuan, simbol proteksi, kesuburan, dan bahkan kemungkinan potret diri dari pembuatnya.
Bagi saya, gagasan ini menunjukkan bahwa jejak artistik paling awal dalam sejarah manusia sangat mungkin berkaitan erat dengan pengalaman tubuh perempuan. Dengan kata lain, perempuan bukan hanya objek representasi, tetapi juga subjek pencipta pengetahuan, simbol, dan kebudayaan.
Jika seniman-seniman pertama dalam sejarah manusia adalah perempuan, maka tantangan pertama yang mereka hadapi adalah bagaimana bertahan hidup di tengah alam yang keras dan ancaman kepunahan. Dari situ, pengetahuan awal manusia lahir: bagaimana membaca alam, merawat tubuh, melindungi kehidupan, dan menjaga keberlanjutan manusia.
Namun, dalam perkembangannya, pengetahuan untuk bertahan hidup ini kemudian berubah menjadi dorongan untuk menguasai alam secara berlebihan. Ketika manusia hanya menempatkan dirinya sebagai pusat dan melupakan relasi yang seimbang dengan alam, tubuh, dan kehidupan lain, lahirlah cara berpikir yang eksploitatif.
Dalam pandangan saya, mentalitas misoginis tumbuh dari cara berpikir yang sama: kehendak untuk menguasai, menaklukkan, dan mengontrol sesuatu yang dianggap lain, baik itu perempuan maupun alam.
Karena itu, pengalaman berdialog dengan mahasiswa Cornell memberi saya hikmah penting bahwa pembicaraan tentang seni tidak pernah berhenti pada bentuk visual semata, melainkan dapat membuka percakapan yang jauh lebih luas tentang sejarah peradaban, tubuh perempuan, ekologi, kekuasaan, dan tanggung jawab manusia terhadap kehidupan.
Bali Politika:
Lukisan Anda yang mana dikoleksi oleh Cornell? Bagaimana perasaan Anda terkait karya yang dikoleksi tersebut?
Citra Sasmita:
Karya yang dikoleksi oleh Cornell University adalah salah satu lukisan panjang saya yang sebelumnya pernah dipamerkan dalam São Paulo Biennale, Brasil, pada 2023, yaitu Timur Merah Project IX: Beyond the Realm of Senses (Oracle and Demons). Akuisisi ini menjadi sangat berarti karena Cornell University merupakan kampus Ivy League kedua yang mengoleksi karya saya. Sebelumnya, karya saya juga telah menjadi bagian dari koleksi Dartmouth College di Hanover, New Hampshire, Amerika Serikat.
Di Cornell, lukisan tersebut dipajang dalam ruang koleksi yang mempertemukan karya saya dengan karya-karya seni Bali bertema Nyegara-Gunung serta koleksi Himalayan Art yang menjadi bagian dari koleksi permanen museum.
Proses akuisisi karya ini tidak terjadi secara spontan, melainkan melalui proses kuratorial dan rapat formal komite di Cornell University. Dalam proses tersebut, karya saya dipilih dan dinilai secara ketat, terutama dalam kaitannya dengan relevansi, kualitas artistik, serta kemampuannya berdialog dengan koleksi permanen museum yang telah ada.
Karena itu, ketika karya saya dipajang di ruang tersebut, ia tidak berdiri sebagai karya tunggal yang terpisah, melainkan masuk ke dalam percakapan yang lebih luas dengan relik-relik suci, karya tradisi, dan objek-objek kebudayaan yang memiliki akar sejarah serta wacana spiritual yang kuat. Bagi saya, hal ini sangat penting karena karya tersebut membawa perspektif kontemporer dari Bali, terutama tentang tubuh perempuan, ekologi, mitologi, dan pembacaan ulang terhadap tradisi, ke dalam ruang institusi akademik dan museum internasional.
Dalam konteks acara ini, karya saya menjadi salah satu karya selain karya Mangku Mura yang secara resmi dikoleksi oleh Herbert F. Johnson Museum of Art, Cornell University. Penegasan ini penting karena akuisisi tersebut menempatkan karya saya dalam dialog langsung dengan koleksi seni Bali yang telah diakui secara institusional, sekaligus memperlihatkan bahwa perspektif kontemporer perempuan Bali memiliki posisi penting dalam pembacaan ulang tradisi di ruang museum internasional.
Hal tersebut membuat saya merasa sangat dihargai, bukan hanya sebagai seniman, tetapi juga sebagai bagian dari percakapan pengetahuan yang lebih besar tentang seni Bali, Asia Tenggara, dan posisi perempuan dalam sejarah visual.
Bali Politika:
Apa harapan Anda setelah kegiatan di Cornell terkait dengan ekosistem seni rupa di Bali, Indonesia, dan internasional?
Citra Sasmita:
Harapan saya adalah agar iklim intelektual dalam ekosistem seni rupa Bali dapat terus berkembang sepesat percakapan seni dunia hari ini, yang semakin menaruh perhatian pada infrastruktur pengetahuan yang etis, empatis, dan bertanggung jawab.
Pembacaan terhadap seni tidak lagi cukup jika hanya bertumpu pada aspek formalistik, estetika permukaan, atau penilaian visual semata. Seni semestinya mampu membuka cara pandang baru tentang bagaimana manusia memahami krisis yang sedang dan akan kita hadapi bersama, baik krisis ekologis, sosial, maupun krisis kemanusiaan.
Dari pengalaman saya berpameran dan berdialog di berbagai forum internasional, saya belajar bahwa budaya apresiasi merupakan bagian penting dari kedewasaan intelektual sebuah ekosistem seni. Penghargaan itu tidak selalu hadir dalam bentuk besar; kadang ia tampak dalam hal yang sangat mendasar, seperti mencantumkan nama seniman dan judul karya dengan benar dalam jurnal, berita, katalog, maupun unggahan media sosial.
Hal-hal yang tampak sederhana ini sebenarnya mencerminkan etika kerja, ketelitian, dan penghormatan terhadap kontribusi seseorang. Karena itu, saya juga melihat pentingnya kita mengoreksi budaya abai yang kadang masih terjadi dalam skena lokal, ketika nama, gagasan, kerja artistik, atau kontribusi seseorang mudah terlewat, disederhanakan, bahkan tidak diberi kredit secara layak.
Bagi saya, memberi kredit nama bukan sekadar urusan teknis, melainkan cermin dari keluasan batin, kelapangan berpikir, dan kedewasaan intelektual. Jika ekosistem seni Bali dan Indonesia ingin tumbuh lebih sehat serta sejajar dalam percakapan dunia, maka budaya saling menghargai, membaca dengan serius, dan mengakui kerja intelektual maupun artistik orang lain harus menjadi bagian dari fondasi bersama.
Bali Politika:
Setelah dari Cornell apa lagi agenda ke depan Anda terkait seni rupa?
Citra Sasmita:
Setelah pameran di Cornell University, saya sedang mempersiapkan perjalanan berikutnya ke Kazakhstan untuk memenuhi undangan pameran di institusi seni Tselinny Center of Contemporary Culture di Almaty. Selain itu, saya juga sedang mempersiapkan pameran tunggal saya yang akan berlangsung di West Palm Beach, Miami.
Bali Politika:
Terima kasih atas wawancara berharga ini. Sukses selalu untuk Anda.
Citra Sasmita:
Terima kasih kembali. Sukses selalu untuk Bali Politika. (***)













