TEHERAN, Balipolitika.com- Majelis Ahli Iran resmi menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran untuk menggantikan ayahnya yang telah wafat. Penunjukan putra kedua Ayatollah Ali Khamenei ini berlangsung di tengah eskalasi konflik militer yang sangat hebat pada kawasan Timur Tengah. Keputusan strategis tersebut menjadi sinyal kuat bahwa otoritas Teheran tetap mempertahankan garis politik keras dalam menghadapi tekanan militer Amerika Serikat.
“Jalan Imam Khomeini dan jalan Imam Khamenei yang gugur telah dipilih sehingga nama Khamenei akan terus berlanjut,” ujar salah satu anggota Majelis Ahli Iran dalam keterangan resmi, Senin, 9 Maret 2026, dilansir dari berbagai sumber.
Mojtaba Khamenei yang kini berusia lima puluh enam tahun sebelumnya tidak pernah menduduki jabatan publik melalui proses pemilihan umum. Namun ia dikenal memiliki pengaruh yang sangat luas pada lingkaran dalam pemerintahan serta memiliki hubungan sangat erat dengan Garda Revolusi. Penunjukan ini mengakhiri spekulasi panjang mengenai sosok yang akan menakhodai negara para mullah tersebut di tengah ancaman serangan udara musuh.
“Ia adalah penjaga gerbang ayahnya yang mengadopsi posisi keras terhadap Amerika Serikat dan Israel sehingga kita akan melihat pemimpin konfrontatif,” tulis laporan Al Jazeera mengenai profil sang pemimpin baru.
Struktur kekuasaan di Iran kini berada pada kendali penuh kelompok konservatif yang sangat membenci campur tangan negara-negara barat di wilayahnya. Penunjukan Mojtaba dianggap sebagai bentuk perlawanan politik yang nyata terhadap upaya penggulingan rezim oleh kekuatan asing dari luar negeri. Banyak pengamat menilai bahwa suksesi ini akan semakin menutup celah negosiasi damai antara Teheran dengan Washington dalam waktu dekat.
“Ini adalah tindakan pembangkangan karena Iran ingin mengatakan kepada dunia bahwa mereka tetap berdiri tegak meski pemimpinnya telah dibunuh,” kata Distinguished Public Policy Fellow di American University of Beirut, Rami Khouri.
Di lain pihak, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan reaksi yang sangat keras terhadap pengumuman suksesi kepemimpinan di Teheran tersebut. Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan memberikan pengakuan diplomatik kepada pemimpin baru yang ia anggap sangat tidak dapat diterima. Ketegangan verbal antara kedua pemimpin negara ini semakin memperburuk situasi keamanan pada jalur perdagangan energi dunia yang sangat vital.
“Ia harus mendapatkan persetujuan dari kami karena jika ia tidak mendapatkannya maka ia tidak akan bertahan lama,” tegas Donald Trump kepada awak media ABC News.
Pernyataan provokatif dari Gedung Putih tersebut langsung mendapatkan penolakan tajam dari jajaran petinggi parlemen serta ulama senior di Teheran. Rakyat Iran menegaskan bahwa kedaulatan negara dalam menentukan pemimpin merupakan hak mutlak bangsa tanpa ada intervensi dari pihak luar. Penunjukan Mojtaba dilakukan berdasarkan nasihat terakhir dari mendiang Ali Khamenei yang menginginkan sosok pemimpin yang berani dibenci oleh musuh.
“Nasib Iran yang sangat berharga akan ditentukan hanya oleh bangsa Iran sendiri bukan oleh pihak luar yang tidak relevan,” tulis Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf melalui akun media sosial pribadinya.
Kini dunia internasional terus memantau setiap langkah kebijakan luar negeri yang akan diambil oleh Mojtaba Khamenei pada pekan pertamanya menjabat. Apakah ia akan meluncurkan serangan balasan yang lebih masif atau justru mencari celah diplomasi guna menyelamatkan ekonomi negara yang hancur. Stabilitas kawasan Timur Tengah kini bergantung pada keputusan-keputusan besar yang lahir dari balik tembok istana kepemimpinan di Teheran. (BP/CHA).








