BULELENG, Balipolitika.com- Kuliah di perguruan tinggi atau kampus tentu saja menjadi impian bagi banyak orang.
Namun, jalan menuju bangku kuliah sering kali terasa terjal bagi anak-anak yang salah satu orang tuanya sudah pensiun bekerja.
Akan tetapi, keterbatasan ekonomi justru memunculkan akal kreatif bagi Ni Ketut Ambarika Cahyani (21 tahun) atau yang kerap disapa Yani.
Gadis asal Gilimanuk yang saat ini tengah menempuh studi di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) survive di tengah keterbatasan.
Sebagai anak bungsu yang juga memiliki saudara kembar, Yani berhasil menyiasati strategi bertahan hidup luar biasa demi meringankan beban fisik dan beban pikiran orang tuanya.
Langkah Yani untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah dihantui ketakutan yang sudah pasti menggeluti pikirannya.
Sang ayah telah pensiun dari profesinya sebagai guru saat Yani masih duduk di bangku kelas 12 SMA, sementara ibunya adalah pedagang obat herbal yang tak menentu penghasilannya.
Menyadari bahwa ia tidak bisa menuntut dan bergantung pada keringat orang tuanya, ia memilih bergerak maju mencari peluang lewat dunia ekonomi digital dan mengejar prestasi akademik.
Saat diwawancarai, Yani mengaku telah bergabung dalam dunia ekonomi digital, yaitu menjadi affiliator Shopee sejak tahun 2024.
Peluang itu ia jalankan setelah tamat SMA dan tepatnya setelah ia mendaftar SNBP sebagai calon mahasiswa di Undiksha.
“Karena ada keinginan, saya mencoba untuk belajar dan mendaftar Shopee Affiliate. Kemudian saya mendapatkan komisi hingga enam juta setelah konsiten selama tiga bulan. Selanjutnya ketika komisi tersebut cair saya gunakan untuk kebutuhan selama kuliah,” jelas Yani.
Tantangan Yani tidak berhenti sampai di situ, setelah ia berhasil lolos lewat jalur SNBP dan resmi menjadi mahasiswa baru di Undiksha, ia disibukkan oleh kewajiban sebagai mahasiswa.
Karena minimnya waktu luang, pekerjaannyaa sebagai affiliator Shopee pun ia kesampingkan dan memilih untuk fokus dalam menggali ilmu pengetahuannya agar memiliki IPK (Indeks Prestasi Akademik) yang baik sebagai modal untuk mendaftar beasiswa.
Kemudian saat semester dua, Yani mencoba untuk mendaftar Beasiswa Jembrana dan upaya tersebut berbuah manis.
Ia dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa Jembrana kategori prestasi yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Jembrana tahun 2025.
Melalui seleksi berkas yang ketat ia berhasil membuktikan kelayakannya sebagai putri daerah yang patut diapresiasi.
“Untuk teman-teman yang berada di posisi ekonomi yang tidak stabil dan memilih untuk lanjut berkuliah, kalian harus tetap semangat, tetap berjuang, ingat sama tujuan awal dan pastikan mental kalian sudah siap. Alternatif lain kalian bisa mencari beasiswa atau peluang kerja,” ungkapnya.
Kisah Yani menjadi potret nyata sekaligus tamparan positif bagi generasi muda saat ini.
Ia membuktikan bahwa latar belakang ekonomi yang sulit bukanlah tembok penghalang yang tidak bisa dirobohkan, melainkan sebagai teka-teki yang jika kita mampu mencari celahnya kita dapat menemukan jalan keluarnya. (bp/Ni Luh Ambarini Paramita/4A/Basindo/Undiksha)













