DENPASAR, Balipolika.com– Nama Anggota DPD RI Bali, Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa atau disingkat Arya Wedakarna (AWK) kembali menjadi sorotan publik setelah beredarnya video yang memperlihatkan dirinya mengenakan bawa atau ketu kepada seorang perempuan.
Video yang beredar sejak Jumat, 3 April 2026 tersebut memicu berbagai respons dari masyarakat, khususnya umat Hindu di Bali.
Merespons hal itu, AWK membuat klarifikasi yang diunggah oleh admin media sosial (medsos) @aryawedakarna yang hingga Senin, 6 April 2026 pukul 09.11 Wita direspons sebanyak 140 orang dan 121 share serta 1.526 like.
Dalam postingan berjudul “Tanggapi Pertanyaan Semeton Terkait Seorang Rohaniawan Hindu Yang Meminta Dipakaikan “Ketu” oleh AWK dalam Acara Pemayuh Jagat 2 April 2026”, AWK menegaskan bahwa foto dan video diabadikan dalam kunjungannya ke Songan, Kintamani, Bangli.
“Om swastyastu, Sementon. Tiang ingin menjawab beberapa pertanyaan masyarakat terkait dengan adanya foto dan video Arya Wedakarna sedang memakaikan semacam ketu atau semacam mahkota kepada seorang ibu yang itu ada dalam sebuah acara yang bernama acara Pemayuh Jagat Kerthi, Wana Kerthi, dan Atma Kerthi yang diadakan ring Kintamani, tepatnya Songan, Kintamani, Bangli,” ucap AWK dalam video tersebut.
AWK menegaskan hadir di lokasi tersebut karena undangan resmi dari panitia acara.
“Pertama, tiang diundang resmi oleh Ida Sulinggih titiang yang kebetulan adalah Shri Bhagawan yang mengundang secara resmi dan dalam pertemuan itu titiang diminta untuk membuka acara nggih, sebagai simbolis lah. Ya, seperti Murdaning Jagat atau sebagai wakil masyarakat. Jadi, tiang hadir untuk menghormati para rohaniawan. Ada sulinggih, pandita, pinandita, pemangku akeh di sana dan ada banyak tokoh adat. Jadi tiang hadir karena ada penglingsir-penglingsir juga dari puri juga dari rohaniawan, sehingga tiang hadir, dan tiang ikut berpartisipasi, walaupun sekadar berpunia, tapi tiang senang dengan acara itu,” jelas AWK.
Sebagai seorang yang ditokohkan, khususnya dalam kapasitas sebagai Senator RI Perwakilan Bali, AWK menekankan bahwa dirinya kerap melayani permintaan warga untuk berswafoto tanpa membeda-bedakan latar belakang.
“Di dalam perjalanan, pada saat menjelang acara puncak, sebelum tiang meninggalkan lokasi acara, ya seperti biasa, umat yang menyapa, meminta foto, kemudian bersalam-salaman, dan tiang sebagai ksatria kan siapa pun yang meminta foto, siapa pun yang bersalaman, siapa pun yang ingin merapat ya tiang harus layani dengan baik dan tiang tidak boleh memilih-milih siapa dan siapa,” imbuhnya.
Lebih jauh, AWK mengisahkan ada dua kejadian menarik dalam kunjungannya tersebut, pertama saat seorang perempuan bersujud menyentuh kakinya selain seorang ibu dan ketu yang mendadak viral itu.
“Ada kejadian menarik, ada dua. Saat ada Shri Bhagawan Istri waktu itu memanggil seorang pemedek yang waktu itu meminta pemedek istri nike, ada seorang gadis itu untuk berfoto dan kemudian Beliau menyarankan untuk geknya, pasti seorang gadis, walaka, untuk dapat hormat kepada tiang, ya mungkin dianggap tokoh atau bagaimana dengan cara menyentuh cokor (kaki) tiang. Ya, otomatis di tengah keramaian ya silahkan saja kalau memang Beliau percaya. Kan seperti itu, nggih. Jadi si gadis niki berfoto seperti itu dan ada fotonya. Dan itu keinginan dari si gadis. Cukup banyak sebenarnya dalam beberapa acara, ada yang mencium tangan, ada yang menyentuh cokor, ya tradisi-tradisi Weda itu sudah biasa dan tiang biasa-biasa saja,” tandas AWK.
“Yang nomor dua, yang mungkin membuat heboh itu ada visualisasi tiang lagi menyerahkan ketu. Tiang sebagai penglingsir tentu tiang tahu ketu nike napi, tiang pahamlah. Dan tiang bisa menilai mana seseorang nike sampun madwijati. Kan nggak mungkin seorang Arya Wedakarna yang merupakan penglingsir Nararya Dalem Benculuk Tegeh Kori, sebagai tokoh Hindu yang tiang punya banyak guru-guru hebat itu nggih, para nabe juga datang ke griya-griya, AWK tahulah mana niki yang Ida Sulinggih dari berbagai soroh dan tiang terbuka. Karena jujur manten, tiang niki sangat mendukung kesetaraan sulinggih,” sambung AWK.
“Ada seorang ibu dengan mengenakan pakaian hijau-hijau, selendang hijau yang seperti di gambar, datang menghampiri AWK. Beliau didampingi oleh seorang wanita Jepang, pecinta Hindu. Ya, jujur tiang tidak kenal sama ibu tapi beberapa kali pernah bertemu, seperti itu. Artinya pernah terlintas dalam beberapa acara. Dan acara itu memang acara lintas spiritual. Tokoh-tokoh ada, semua soroh ada, acara yang sangat bagus, universal. Nah, tiba-tiba, di sebuah acara nike, ketika tiang sedang persiapan untuk, waktu itu tiang diminta memberikan doa dan restu terkait dengan yadnya, kurban; tiang diminta untuk datang ke lokasi upacara. Si ibu, rohaniawan nike datang dengan membawa ketu. Kemudian Beliau meminta dengan hormat, Ajik, bisa Ajik pasangkan atas kepala saya? Disaksikan sama banyak orang. Nggak mungkin dong seorang AWK akan nolak. Begitu,” jelas AWK.
AWK menambahkan bahwa atas permintaan tulus rohaniawan perempuan itu, dirinya berpikir positif dan sebelum sampai ke tangannya, ketu dimaksud sempat dipegang sejumlah sulinggih dan tokoh puri.
“Mengenai Beliau ini tingkatan kerohaniannya nike, apakah pandita, pinandita, sebagai spiritualis apapun tiang serahkan sebenarnya kepada Beliau. Jadi tiang, nggih raris yening berkenan. Waktu itu, sebelum tiang memasangkan, juga banyak tokoh-tokoh, terutama dari sulinggih, penglingsir puri, yang diminta untuk memegang ketu nike. Jadi bukan hanya AWK. Jadi diminta kita memegang untuk meminta restu dan terakhir giliran tiang,” urainya.
“Ratu Aji, tiang mohon kehormatan untuk memasang dan tiang pasang saja, kan seperti itu. Tetapi tentu dengan doa, dengan mantra. Jadi tiang sebenarnya positif saja. Dan jujur manten, ya tidak mungkin kalau seandainya, misalkan seseorang madwijati, tiang sebagai walaka, tiang sebagai ksatria, walaupun AWK niki sudah pernah diwinten misalkan, sampun pernah acara macam-macam, tapi tiang memberikan ketu kepada sang sulinggih tentu, memasangkan nike tentu tidak elok. Kan begitu. Jadi buat tiang nike kehormatan manten karena Beliau datang sebagai umat sepertinya nggih,” terang AWK.
Diberitakan sebelumnya, Ketua PHDI Bali, Nyoman Kenak mengungkapkan pihaknya menerima banyak tanggapan dari umat, mulai dari pertanyaan hingga kritik atas tindakan yang dinilai tidak sesuai dengan etika (sesana) kesulinggihan.
“Sangat banyak yang menghubungi kami. Ada yang bertanya, ada juga yang menilai itu tidak sesuai etika,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, PHDI Bali menyatakan akan menindaklanjuti dengan komunikasi langsung kepada pihak terkait.
“Kami akan mencoba menghubungi AWK untuk mendapatkan penjelasan langsung terkait konteks acara tersebut,” kata Kenak.
Menurutnya, langkah ini penting agar tidak terjadi kesalahpahaman di tengah masyarakat, sekaligus menjaga ketenangan umat.
Kenak menegaskan terlepas dari belum jelasnya konteks upacara dalam video tersebut, secara etika seorang walaka tidak tepat mengenakan bawa kepada sosok yang berstatus sulinggih atau sedang menjalani proses diksa.
“Dalam pandangan sesana, itu kurang tepat,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa bawa bukan sekadar atribut, melainkan simbol sakral kesulinggihan yang memiliki makna spiritual mendalam.
Karena itu, penggunaannya tidak bisa dilepaskan dari aturan dan tata nilai yang berlaku dalam ajaran Hindu.
Di sisi lain, Sekretaris PHDI Bali, Putu Wirata Dwikora, menilai penting adanya langkah penyikapan yang bijak, termasuk kemungkinan penghaturan bendu piduka sebagai bentuk tanggung jawab moral jika terjadi kekeliruan.
Peristiwa ini sekaligus menunjukkan tingginya perhatian masyarakat terhadap simbol-simbol sakral dalam tradisi Bali.
Di tengah arus digital yang cepat, respons publik menjadi bagian dari kontrol sosial terhadap praktik yang dianggap menyentuh nilai-nilai keagamaan.
Bagi PHDI Bali, kritik yang muncul tidak semata-mata dipandang sebagai reaksi negatif, tetapi sebagai bentuk kepedulian umat dalam menjaga kesucian simbol dan tradisi. (bp/ken)









