DOA DARI STASIUN
Dari atas kereta kulihat
orang asing itu meletakkan tangan kanan di dadanya
menitipkan doa di sudut hati yang mungkin saja carut
bagi mereka yang akan meninggalkan stasiun
yang penuh sesak dengan perjumpaan
Dan rasaku pun luruh,
berjatuhan dalam isak senyap
saat kusadari ada luka yang kembali lebam
mengingat sebuah perjumpaan
yang berakhir dalam setangkup peluk
Desember 2024
PERCAKAPAN DUA ORANG ASING
Dua orang asing bertemu
larut dalam gelombang senyawa yang sama
menutur kisah tentang luka-luka
hingga menyentuh bilik hati di ruang paling sunyi
Namun waktu telah menggegas percakapan
“Aku harus segera pergi,” ucap perempuan
yang kemudian terhenyak
menatap telaga sesal yang dalam
bermuara di mata lelaki itu
Dan sebelum waktu menjelmakannya menjadi hening
lelaki itu berkata,
“Kelak kita akan menjadi orang asing.”
Lalu hening menyusup membentang jarak
meninggalkan jejak rasa tak terkata
yang tetap disulam perempuan itu
untuk merawat ingatan, menemu jalan pulang
menuju bilik hati untuk menumpahkan sedu seperti dulu.
Namun, perempuan itu hanya menemu
bilik hati itu kembali dingin dan sunyi
Dengan kenang yang tersisa,
perempuan itu menutup ruang sunyi
yang kini hanya membekas perih
lalu pada kediaman batu-batu,
perempuan itu merajahkan sisa percakapan dua orang asing,
“Aku akan merindukan dia yang tak bisa kurindukan.”
Desember 2024
PERJAMUAN SENGKUNI
dia menggelar sebuah perjamuan
yang tak pernah dia impikan
hanya berbekal bara dan bisik sengkuni
dia pun membuatku hadir di sana
lalu bara itupun berkobar
di atas meja perjamuan
menguarkan caci, meletup amuk
menghujaniku dengan segala tuduh
berharap perjamuan itu akan menjatuhkanku
namun menatapku pun dia tak bernyali
sebab bisik sengkuni telah menguasai mata hati dan nalarnya
Ketika kebenaran tak pernah ingkar
Sengkuni menyaksi bara yang makin layu
Karena sesungguhnya dia telah keliru
kemudian terburu berlalu berbalut malu
meninggalkan aku menekuri perjalanan waktu
yang membawaku pada perjamuan itu
dan akhirnya kusadari
jika adaku telah memeram dendam Sengkuni
Pada diam
kubisikkan air mata, luka dan sedu
pada kerasnya batu-batu
kurajahkan serapah, kesumat dan segala maki
agar aku terlahir kembali
untuk melangkah pergi dari Sengkuni
September 2024
ADA YANG TAK TERKATA
Rasaku padamu
Adalah bahasa tak terjamah
Yang tak terbaca pujangga
Hingga mengaburkan isyarat
Yang pernah ditulis para penyair
Rasaku padamu
Adalah degup jantung
Yang mendenyutkan rindu
di sepanjang alir nadiku
merajut waktu menanti bertemu
rasaku padamu tak pernah butuh alasan
kenapa, bagaimana bisa, atau sejak kapan
sebab rasaku adalah senyawa
tanpa syarat juga aba-aba
tersihir bisikan Rumi,
“Jauh di balik benar dan salah,
Kutemui kau di sana.”
Maka berbekal serapal doa di tiap lingkar malam
Kutempatkan kau di tempat terindah
Bernama mimpi
Agar saat fajar mengetuk pagi
Ada sepetak hati
Yang kuyup oleh kenang tentangmu
Desember 2025
BIODATA
Ika Permata Hati lahir di Jakarta. Mulai aktif menulis puisi ketika bergabung di Sanggar Cipta Budaya SMP N 1 Denpasar. Saat ini tinggal di Temanggung, Jawa Tengah.













