Memasuki kawasan Denpasar Selatan yang kini dipenuhi pusat bisnis dan hunian modern, barangkali tak banyak yang menduga bahwa penamaan wilayahnya berakar dari drama cinta terlarang dan keajaiban seorang bocah di tengah hutan paku. Sejarah Kelurahan Panjer bukan sekadar kronik pemerintahan, melainkan kisah tentang keteguhan hati seorang ibu bernama Luh Semi yang terbuang demi menyelamatkan nyawa janin keturunan ningrat.
DENPASAR, Balipolitika.com- DRAMA ini bermula di singgasana Kerajaan Toh Jaya. Sang raja, Arya Tegeh Kori atau Arya Benculuk, terlibat asmara tersembunyi dengan Luh Semi, putri cantik dari patihnya sendiri, Patih Dukuh Melandang. Ketika permaisuri mencium aroma perselingkuhan yang berujung kehamilan, perintah kejam pun turun: Luh Semi harus dilenyapkan.
Sebagai abdi yang setia, Patih Dukuh Melandang memikul dilema berat antara tugas negara dan naluri seorang ayah. Ia membawa putrinya ke hutan lebat di selatan Tonja. Namun, keajaiban muncul. Setiap kali sang patih menghunus pedang, seekor anjing hitam besar menghalangi aksi tersebut. Peristiwa ini melahirkan tempat bernama Setra Buung Keneng di Kesiman—sebuah pengingat akan niat membunuh yang akhirnya urung atau “batal” (buung).
Demi mengamankan sang putri dari amarah istana, Dukuh Melandang menyembunyikan Luh Semi di sebuah hutan yang dikelilingi ribuan pohon paku. Tempat perlindungan ini kemudian dikenal sebagai Pakubon atau Pakuon, yang berarti tempat tinggal di tengah hutan paku. Di sinilah, sejarah Kelurahan Panjer mulai menumbuhkan tunasnya lewat kelahiran seorang putra raja yang dirahasiakan.
Keajaiban “Ancer” dan Penobatan Nama
Bertahun-tahun berlalu, hutan Pakuon yang sunyi kedatangan rombongan besar Raja Dalem Klungkung yang hendak menuju Pura Sakenan. Saat beristirahat di hutan tersebut, sebuah fenomena aneh terjadi. Para pengawal raja tidak mampu menancapkan sarana upacara seperti tombak, pengawin, dan tedung ke dalam tanah. Berkali-kali dicoba, semua usaha tersebut menemui kegagalan total.
Di tengah kebingungan itu, muncul seorang anak kecil penghuni hutan—putra dari Luh Semi. Dengan tangan mungilnya, ia dengan sangat mudah menancapkan (ng-ancer) seluruh perlengkapan kerajaan tersebut ke tanah. Kejadian luar biasa ini menyadarkan Raja Klungkung bahwa bocah tersebut bukan anak sembarangan, melainkan keturunan ningrat yang memiliki kekuatan spiritual tinggi.
Tindakan menancapkan sarana upacara atau “Ma-Ancer” inilah yang kemudian mengalami pergeseran fonetik menjadi Panjer. Sang raja yang bijaksana kemudian mempertemukan bocah tersebut dengan ayah kandungnya, Arya Tegeh Kori, dan meminta sang raja untuk mengakui serta merawat putra mahkota yang sempat terbuang itu.
Warisan yang Tetap Tegak
Hingga detik ini, bukti fisik dari narasi sejarah Kelurahan Panjer masih bisa dikunjungi oleh para wisatawan maupun warga lokal. Keberadaan Pura Pakuon di area Ijo Gading, Panjer, menjadi saksi bisu tempat Luh Semi membesarkan putranya dalam kesederhanaan hutan. Selain itu, Pura Benculuk di Tonja juga memperkuat keterkaitan sejarah antara Panjer dengan garis keturunan Arya Tegeh Kori.
Memahami asal-usul Panjer memberikan perspektif baru bagi siapa pun yang melintasi jalanan sibuknya. Di balik modernitasnya, Panjer berdiri di atas tanah yang menghargai keajaiban masa kecil dan pengorbanan seorang ibu.













