FRANZ KAFKA pernah menasihati penyair Georg Mordechal, “Setiap orang harus membaca setiap hari satu puisi, bukan dua.”
Sejak aku baca nasihat Kafka dari buku berjudul Ketika Kafka di Depanku… (Als Kafka mir entgegenkam…), aku ingin mempraktikkannya. Cuma masalahnya puisi siapa yang harus aku baca? Apakah puisi dari berbagai penyair? Aku teringat ucapan Borges, di kala usia sudah menanjak, maka ia sadar tak banyak waktu tersisa lagi. Ia bersumbar ingin membaca karya dari abad 19 ke bawah yang penulisnya sudah tiada.
Bali adalah entry menuju Omphalos dunia literasi. Tujuh tahun (1988-1996) aku menjadi pemandu wisata di Bali. Aku berhutang banyak pada Bali dan timpal-timpal Bali. Tanpa Bali aku tak bisa mengenal peradaban dunia lebih luas, terutama sastra. Bisa dipastikan, aku tak mengenal Kafka, siapa itu James Joyce?
Berkat uluran ringan tangan Wayan Jengki Sunarta, aku bisa bertemu dengan mahaguru puisi Umbu Landu Paranggi. Ini kejadian langka dan merupakan hadiah istimewa.
Sebelum aku bertemu muka dengan Umbu, buku-bukuku Menyusuri Lorong-Lorong Dunia tiga jilid aku titipkan secara bertahap ke satpam Bali Post di Jalan Kepundung, Denpasar, pada malam hari, termasuk fokopian tentang Kafka. Sastrawan idolaku.
Buku bertemu Umbu dulu, baru aku menyusul. Berekor puisi-puisiku belakangan dimuat di Bali Post. Sekitar 18 atau 21 puisi.
Sekitar empat atau lima kali aku bertemu Umbu, berawal di kedai Bali Post di malam hari, setelah memasuki pukul 02.00, berpindah ke warung Padang di Jalan Hayam Wuruk.
Aku tahu kesukaan Umbu adalah topi biru tua dan syal hitam. Aku kirimkan beberapa kali topi biru tua yang kubeli di Pulau Rhodos, Yunani atau topi biru tua bertuliskan Gran Canaria, yang kubeli di Spanyol.
Berkesan sekali, ketika dari jauh melihat foto Umbu di media sosial memakai topi biru tua bertuliskan Rhodos.
Ketika aku pulang ke Bali membawa topi biru tua lagi, Umbu sudah meninggalkan kita semua. Kubertemu GM Sukawidana, salah satu asuhan Umbu yang belum pernah kukenal. Topi biru tua kuberikannya, sebagai pengganti Umbu. Dan ia selalu pakai, khususnya kalau ke JKP (Jatijagat KehidupanPuisi).
Buku Blengbong sampai di kampungku di Boja, Kendal, Jawa Tengah berkat kebaikan GM. Di warung Tarzan, Batubulan, Phalayasa Sukmakarsa telah membocorkan arti Blengbong, dari bahasa Bali artinya badai. Nelayan pun tahu, katanya. Umbu mensyaratkan judul dengan 9 huruf.
Sebagai ucapan terima kasihku, buku ini kubawa ke Swiss menemaniku setiap hari di atas meja ruang tamu.
Ada tiga buku puisi yang sudah kusantap setiap hari sebelumnya.
Pertama, buku puisi berjudul Faust karya Goethe. Kedua, buku puisi berjudul Komedi Ketuhanan (Die Göttliche Komödie) karya Dante Alighieri.
Ketiga, buku puisi berjudul Larenopfer; Praha dalam Puisi (Larenopfer. Prag in Gedichten) karya Rilke. Ketiga buku puisi bahasa Jerman itu telah khatam kubaca.
Kini, giliran buku puisi Blengbong. Setelah tiga puisi dari masing-masing penyair kubaca, aku coba membuat catatan kecil. Kesan yang terdalam sebagai pembaca, bukan sebagai kritikus sastra, aku seperti bertemu murid-murid Umbu yang tersebar di mana-mana yang sebagian besar tak kukenal. Bahkan beberapa penyair telah meninggal.
Kadang kumerasa, ada aura Umbu bersembunyi di sela-sela hutan diksi. Hanya dengan cara sederhana ini, kumencoba menyapa-teman-teman penyair yang lebih lama secara intens atau jarak jauh bertemu dengan Umbu.
Dari buku ini aku banyak belajar puisi. Lompatan imajinasi, jeritan kata dan cara melipat makna. Setidaknya mulai memetakan, siapa saja di lingkaran terdepan Umbu.
Umbu memberi wangsit yang cukup umum kita dengar, bahwa puisi tak perlu dibela, karena ia akan membela sendiri.
Pablo Neruda punya pesan senada itu, “Aku selalu mengerjakan hal yang sama. Aku tak pernah akan berhenti melakukan hal itu, yaitu menulis puisi. Menulis puisi bagiku seperti pekerjaan tukang sepatu, yang tidak makin baik atau makin buruk.”
Buku Blengbong aku khatamkan selama 170 hari. Sejak tanggal 10 April 2025 hingga 27 September 2025. Mungkin tiga atau empat hari terabaikan, karena kesibukan. Tetapi aku susul ulang, selama hampir enam bulan buku ini selalu kubaca.
Buku itu aku bawa dari Bali pada 8 April 2025, tiba di Swiss, 9 April. Mulai baca buku puisi Blengbong pada 10 April 2025.
Yang mengiris keharuanku, pertama aku meninggalkan Bali untuk boro kawin dengan Claudia Beck, orang Swiss, yakni 14 April 1996. Tepat 29 tahun silam aku datang membawa mimpi dan kini datang membawa catatan badai Blengbong.
Di tepi Danau Zug, Switzerland, 27 September 2025.
Aan Almaidah A:
Puisinya menghentak, luluh dalam ending-ending yang ritmis. Seperti letupan-letupan kecil pada bara api gunung meletus. Ada urat nadi yang kuat, tak menyerah, apalagi pasrah. Lompatan narasi dan diksi: menggigit.
*Favoritku puisi: Mata Bicara
Achmad Saichu Imran
Bersahaja, Mendekati Senja, kenapa tak Menjelang Senja? Bukankah itu lebih merasuk di benak? Mendekati Sang Pacar, mungkin lebih pas. Tapi itu pilihan. Sunyi Tak Pernah Sembunyi, judul yang sama bersahaja. Tak ada pergolakan di awal judul. Kubayangkan, Imran, orang sopan, polos, tak suka ribut. Kreasi pilihan diksi biasa, tanpa akrobatik. Pun ending baru ; i, g, masih ada. Puisi lugu, tetapi menyaru dalam.
*Favoritku puisi: Negeri Prahara.
Adhy Ryadi
Semoga Adhy Ryadi beratap Pantheon bersama Umbu, Sang Guru,
Aku suka formasi baris puisinya bercampuran. Ia tak menyukai keseragaman, kelurusan. Yang bengkok itu naluri estetika.
Ia suka akrobatik bahasa dan bunyi;
malam memalamkan,
…
dari tanah kau tatah
ke tanah aku pasrah
…
mengais-ngais kaki-kakiku
*Favoritku puisi: Rumah Pertama
Ngurah Adil Widana
Puisi pertama, Episode Malam Tanpa Cahaya, mengingatkan prosa Bungker (Der Bau) karya Kafka. Tokoh aku membuat lubang di bawah tanah dan lubangnya lebih besar hingga tokoh aku tidak tahu di mana ia berada. Labirin gelap. Ngurah mempertanyakan, kelak manusia akan memasuki labirin gelap; kematian. Kenapa harus berkelahi dengan senjata?
Tarian Pada Layar Tembok, jeritan batin mistis dibalut dinamika kekinian.
Lubdakha, Sang Pemburu Dewa, puisi favoritku. Pada puisi ini aku menemukan langgam beda. Lubdakha, selalu terngiang buatku, ketika aku masih sebagai pemandu di Bali, Lubdakha kami terjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan kami muat di majalah Cakrawala, milik HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) Bali. Pada pura Beji si Buleleng, seorang guide bahasa Jerman, berseloroh lirih, Suksuma Bli, cerita Lubdakha sering kuceritakan kepada tamu.
Made Adnyana Ole
Bli Ole sedang berdialog panjang dengan pohon. Pohon jangan ditebang. Pohon menjadi kayu. Pohon menjadi pekerjaan tukang kayu. Puisinya cukup menyadarkan kita.
Aku lama membayangkan, sebelum Greenpeace melindungi alam, orang Bali sudah mensakralkan pohon beringin.
Aku teringat Sartre kecil berusia 9 tahun. Ia sengaja duduk di bawah pohon menuliskan apa saja yang ia rasakan dan lihat pada pohon di atasnya. Pun, Kafka, ia mengaku jenuh kerja di kantoran. Cita-citanya sebagai tukang kayu. Ia kagum keahlian tukang kayu, yang mencipta lonjoran pohon menjadi jendela dan lemari. Jika ada waktu, ia ingin berlama-lama menunggui kerja tukang kayu.
Rumi menyebut, jadilah pohon dan biarkan dedaunan jatuh. Bli Ole menjadikan pohon sebagai lawan bicara dan mempertanyakan eksistensi alamnya.
*Suksuma, aku pernah numpang semalam di rumahnya di Buleleng bersama Puthut EA, Jengki, Didin Tulus dan Gede. Pulang pagi gelap, ketika tuan rumah masih menjelajahi mimpi.
*Puisi favoritku: Memilih Pohon Sebelum Pinangan.
Agoes Andika
Ada nuansa mempertanyakan jati diri, eksistensialisme. Mempertanyakan semesta. Ada gundah membuncah.
*Puisi favoritku: Padang Bai – Lembar.
Agung Bawantara
Puisi-puisi Bli Agung melompat ke awan yang siap meneteskan diksi-diksi tajam. Lompatannya menukik. Aku suka baris:
….
Jika asap yang kauhirup itu kata
Hatimu penuh bahasa
….
*Puisi favoritku: Negeri Asap
Alit S. Rini
Puisi-puisinya mempertanyakan laku semesta pada tempat-tempat seperti Sanur, Kuta, Besakih. Ada kegundahan, apa benar penataan ruang sudah benar; di mana yang sakral dan nakal, seperti pudar.
*Puisi favoritku: Labirin Kuta
Arif Bagus Prasetyo
Membaca puisi Arief seperti pantun. Cerdik menyusun baris dan sampiran. Dua pulau ia sebut; pulau lama menghilang dan pulau lain menjelang. Barangkali Arief membayangkan pulau Jawa yang ia tinggalkan dan pulau Bali sekarang . Baris yang paling kusuka ; matahari membanting sejuta telurnya ke selat.
Diksi sejuta biasa dipakai orang barat dengan sebutan million of people, million of houses ect.
Mungkin Arief terbiasa dengan teks asing. Kita di Indonesia punya takaran angka maksimal seribu; Bali seribu pura, pulau seribu, nyuwun sewu, lawang sewu, curug sewu. Bandingkan dengan baris puisi Gde Artawan berjudul Tubuhmu Selembar Daun; sudah lewat seribu purnama.
Gde Artawan
Puisi-puisinya bernuansa masa silam, seolah masa lalu lebih indah dari sekarang. Puisiku yang dimuat Umbu di Bali Post dan aku baca ulang pelan-pelan dan berkali-kali. Sebenarnya puisi seperti apa yang Umbu sukai?
Aku menemukan, sepertinya Umbu menyukai puisi bernuansa masa silam dan berpadu dengan narasi alam, sedikit mistis.
Puisi Gde Artawan pada takaran seperti itu, kalau aku boleh berpendapat. Tapi ada daya tarikku lain pada puisi-puisi Gde Artawan ini, karena bentuknya yang tanpa titik koma. Aku jadi teringat buku puisiku yang terbit tahun 2023 berjudul Jejak-Jejak yang Tertinggal. Bentuk puisinya juga tanpa koma, hanya satu titik di akhir. Aku mencoba meniru model Monolog Interior dari novel Ulysses karya Joames Joyce, nyaris 40 halaman pada bab 18 (akhir) novel tersebut tanpa koma, hanya ada dua titik. Kutekuni novel itu pada reading group di Yayasan James Joyce di Zürich. Setiap Selasa kuayunkan kaki dan mata selama 16 tahun dan katam 6 kali.
I Wayan Arthawa
Puisi-puisi Arthawa menggunakan bahasa alam.
Belajar lewat deburan ombak/kapal telah berangkat/memenggal laut.
Aku suka diksi memenggal dan objek laut. Penyair sedang membayangkan, seolah laut itu kayu, leher kaku untuk dipenggal.
Kita sama-sama membawa kunci surga/masuk lewat pintu berlainan.
Di sini tampak Arthawa hendak menunjukkan, berbeda itu indah, meskipun tujuannya sama baiknya.
Ada lagi ungkapan yang tak pernah aku bayangkan:
di pohon-pohon gamelan
Aku takjub dengan ilustrasi seperangkat gamelan menjadi pohon-pohon gamelan. Temuan ini kuanggap langka. Ia melampau batas fantasi konvensional.
Komang Berata
Puisi-puisi Komang Berata pendek dengan diksi tajam. Aku suka dua baris ini:
(1)
setelah membaca waktu yang menulis di angin
Aku bayangkan menulis di angin ini, sebuah metafora yang berarti tak akan menjadi tulisan. Aku teringat film Il Postino yang menceritakan Pablo Neruda mengajari tukang pos membuat surat cinta dengan metafora. Langit menangis. Apa artinya? Tanya Neruda. Tukang pos menjawab; gerimis.
(2)
di atap rumah nenek bulan
Temuan serasi.
Chandra Yowani
Puisi-puisi Chandra Yowani membetot akalku. Coba lihat puisi berjudul Aku adalah Perempuan. Judul ini diulang lima kali, seolah semacam force-show, menekankan begitu kuat. Diksi adalah seperti to be or not to be, mempertanyakan eksistensi antara hidup dan nilai dari Shakespeare. Chandra Yowani bukan memilih Aku sebagai Perempuan, tapi
adalah.
Aku luruh dalam baris-barisnya:
Aku adalah perempuan
yang susuri pesisir moyangku
dalam diam.
Saat diam-diam langit meminang rembulan
Ketika aku pertama merantau di Bali, melihat perempuan berkebaya membawa sesaji di jalan kecil, aku longsor jatuh cinta pada Bali. Di tengah arus modernitas, identitas lokal tetap terpatri.
Cok Sawitri
Kesan pertama membaca puisi Cok Sawitri ini, secara bentuk seperti prosa. Tapi itulah keampuhan licencia poetica.
Lalu aku teringat saat menghadiri festival sastra di kota Lucern, Swiss, ada penyair asal Belanda bernama Jab Blonk.
Kami duduk semeja, aku tanya, “Puisimu bunyi-bunyian, ada suara gong, kendang, kempul, bonang. Apa maksudmu?”
Ia jawab, “Aku memang suka bunyi dari berbagai alat musik dan semua dari suara gamelan Indonesia. Puisiku termasuk puisi keras beraliran futuristik.”
Aku masih belum paham, maksud puisi jenis itu. Tapi setelah ia baca puisinya di panggung, aku mulai paham. Puisi yang andalkan bunyi-bunyian itu dibaca menggelegar, mirip puisinya Hugo Ball, tokoh Dadaisme. Semua mata memandangnya. Tiap usai baca, lembar kertasnya ia buang.
Paling mengejutkan, usai baca ia turun, bukan kembali ke kursi di sebelahku, melainkan menuju jendela besar dan sembunyi di balik gorden putih. Penonton masih terhipnotis dengan ulahnya. Beberapa saat kemudian ia keluar dari gorden dan berjalan keluar gedung menuju taman. Baru tepuk tangan membuncah.
Kembali ke puisi Cok Sawitri. Ia menulis sebaliknya dari puisi keras dan bunyi-bunyian. Cok mencoba menjabarkan Sakyamuni dengan paradoksalnya. Ia mengajak memaknai Weisheit Buddha itu ke dalam kehidupan sehari-hari untuk menakar jungkirbalik isi dunia yang semakin membingungkan.
IBM Dharma Palguna
Tiga puisi Dharma Palguna merupakan puisi yang paling pendek di buku Blengbong. Aku
langsung teringat jurnal Les Temps modernes yang mengusung perdebatan antara Sartre versus Camus. Sartre menyatakan, ia tak suka menulis puisi. Ia anggap puisi itu genre literasi pelit, tidak murah kata untuk mengungkapkan fantasi. Sebab itu ia akui tak pernah menulis puisi, ia lebih suka prosa.
Puisi Dharma Palguna dari judul sudah irit, satu kata: Sia-sia, Kelahiran, dan Mari. Ia mencoba memadatkan ungkapan yang berseliweran di angannya. Kadang satu baris tak mulus berdiri dan juga dengan baris lain. Kesanku, kelenturan rasa bahasa tak menjadi prioritasnya. Tetapi diksi-diksi itu mewakili poin yang dituju.
Ida Bagus Dharmadiaksa
Puisi Ida Bagus Dharmadiaksa buatku seperti refleksi jati diri. Eksisteansialis ala Bima dalam Dewa Ruci.
Judul puisi: Penyair di Kaki Langit, seperti membuka diri, penyair bisa apa? Heinrich Böll punya aforisme, “Puisi bagai dinamit yang akan mengatur tatanan dunia.”
Putu Fajar Arcana
Puisinya naratif, kalau aku boleh mengumbar rasa. Puisi yang seperti prosa punya alur cerita. Puisi berjudul Gayam, bukan menceritakan tentang pohon Gayam secara fisik, namun lebih pada mitos yang melingkupi.
Aku teringat Iman Budhi Santosa sering menulis puisi tentang tanaman, juga dikaitkan dengan filsafat dan nama-nama orang.
Puisi berjudul Obituari Made Wianta. Dek, membacanya. Ketika aku masih bekerja sebagai guide yang berkantor di Jalan Pandu, Hayam Wuruk, masih memakai udeng, usai kerja ke rumah Made Wianta, ternyata di jalan sama. Aku lihat Putu Wijaya datang. Kulihat dari jauh.
Ketika aku sudah di Swiss dan berjalan kaki dengan istri di Zürich, bertemu tiga orang; Budi S. Otong, Itok dan Made Wianta. Aku dibetot diajak bergabung, minum kopi di tepi kali Limmat. Made Wianta tanya aku; apa kegiatanku? Akhirnya kutengok pameran Made Wianta di Museum Basel. Di pintu masuk tergeletak segepok buku puisinya tulis tangan.
Gm. Sukawidana
Kritikus Swiss di Literatur Club, TV Swiss bilang, “Saya lebih suka membahas buku yang belum kenal dengan penulisnya.”
Lha, Buku Blengbong ini kudapat dari Bli GM sendiri yang dikirim ke kampungku di Jawa. Bagaimana aku harus membincangkan karya dari seorang yang sudah kukenal dan diberi buku olehnya. Akhirnya kami sudah bertemu muka tiga kali.
Aku ingat Kafka ketika disuruh mengkritik buku puisi Gustav Janouch, penyair muda usia 17 tahun, anak teman kerja Kafka.
Kafka punya gesture humanis. Tangannya ditaruh di atas bahu penyair muda itu, sambil bilang, “Puisi kamu masih ramai, belum ada seninya.”
Tanganku pun akan kutaruh di bahu Bli GM, sambil bilang, puisi Di Pura Jagatnatha, aku bisa menikmati. Selain aku tahu di mana letaknya, yakni di puputan Badung, sebelah museum Bali.
Ia memotret laron, terbang dan sayap-sayapnya lepas.
Puisi Pulang ke Ubud, aku nikmati lanskap dinarasikan seperti travel writing. Lompatan diksinya menancap. Apik.
Puisi Sajak Tentang Made Badeng. Nah, aku tak bisa menikmati. Too much realis. Bukankah puisi yang baik bisa mengungkapkan dengan bahasa yang irit? Kafka yang seorang prosais pun dianalisis, oleh Reiner Stach, penulis biografi Kafka 3 jilid, sekitar 2000 halaman, menyebut bahwa Kafka menggambarkan banyak peristiwa dan kompleks dengan sedikit kalimat.
Gede Gunatama
Puisi-puisi Gede Gunatama bertaburan nuansa alam; matahari, bulan, hujan, angin, daun, Tuhan. Ia melipat guratan lingkungan berujung pada penciptanya.
Puisi berjudul Di Pelataran Jurang Batur, Semua Masih Bergerimis. Ia memotret saat itu, ia ada di lorong-lorongnya.
Gerimis dan hujan, sepertinya disukai anak kecil dan penyair. Anak kecil ingin mandi di alam bebas saat hujan dan penyair menumpahkan dalam rasa bahasa.
Gungun
Aku seperti diajak masuk ke pura dan duduk bersemadi dan hening. Mencoba melepaskan memori yang sedang bergelantungan guna menatap sang pencipta.
Diksi-diksi spiritual, asesoris ritual dan mencoba kembali pada diri sendiri.
Hartanto
Nama Hartanto sudah sering kudengar dari timpal-timpal penyair Bali, tapi bertemu muka belum pernah. Membaca puisinya terasa semacam pengingat peristiwa kejam pada puisi berjudul Lapangan Tianamen. Kebetulan aku pernah mengunjungi Tianamen dengan rombongan pelancong Swiss. Naas, aku ditangkap polisi, mungkin dikira aku tidak ikut
grup bule itu. Ditambah jalanku di paling belakang dan istriku datang bilang, “He is my husband,” Dilepaskanlah.
Puisi berjudul Stadion Sarang Burung, Kepada: Ai weiwei. Ditulis di Beijing, 2012. Seketika aku diingatkan oleh sastrawan China bernama AiWu yang menulis novel berjudul Candi di Ngarai (Der Tempel in der Schlucht). Tapi maksud Hartanto bukan itu melainkan tertuju pada sosok seniman China bernama Ai weiwei.
Helmi Y. Haska
Puisi-puisi Helmi cerdas, mencari diksi terutama yang ending satu tun, sehingga berefek pada bunyi selaras.
bagi setitik terang
….
bersekutu dengan bayang
bayang kucing belang
yang bersarang dalam gudang
layar-layar rombeng perahu
….
gelisah menjahit waktu
Kesanku, Helmi berhati-hati memilih diksi. Jika puisi harus mengemas banyak cerita dalam sedikit kata, Helmi telah melakukannya.
Terima kasih Helmi telah menemani ngopi bersamaku bertemu Umbu, baik di kedai Bali Post maupun warung Padang, di Jalan Hayam Wuruk.
Herry Wijaya
Puisi yang paling kusuka berjudul Rumah Kita. Herry sedang menarasikan sosok Dayu, tetangganya. Ia paralelkan,
jika matahari timur menghangatkan kamarmu,
senja hari ia bertandang di ruang tamuku
…
Dayu, tahukah kau?
Sejak mulanya rumah kita telah bersebelahan
Pada akhir puisi ini menggambarkan rumah kita menjadi semakin tua. Bisa jadi Dayu menjadi istri sendiri atau tetangga imajiner. Tapi indah paparannya.
Wayan Jengki Sunarta
Kumengenal Jengki pertama kali bersama Riki Dhamparan Putra dibawa oleh Puthut EA di rumahku di Batubulan pada tahun 2004. Sekitar 21 tahun silam.
Sejak itu kami makin sering bertemu, bahkan Jengki pernah kuajak mudik ke kampungku di Jawa Tengah tiga kali pada acara sastra.
Ketika ia masih bekerja di Ababi, Karang Asem, aku datangi dengan Puthut EA memakai motor. Beberapa kali puisi jengki dalam terjemahan bahasa Italia dan Inggris, Pada Lingkar Putingmu, kami gantungkan di acara Gedicht Pflüchen (Petik Puisi) di tepian danau Zug, Swiss.
Sajak-sajak Jengki sudah lama aku kenal. Ia membangun cerita dengan padat, penuh ironi. Berkisar gejolak jiwa yang kadang memberontak, tapi dengan dibalut lapisan halus.
Ia paling lihai menggambarkan jiwa-jiwa berahi khas anak muda yang kadang mistis.
Puisi berjudul Barangkali Hanya Puisi, mempertanyakan apakah puisi seperti dikatakan Henrich Böll sebagai dinamit yang bisa mengatur tatanan dunia. Jengki mempertanyakan, apakah puisi hanya menempel di tembok balai kota.
Solilokui, jejak langkah sang penyair. Ia rindu melihat pohon juwet, termasuk gadis yang pernah ia cium malu-malu. Jengki membuat refleksi dengan bahasa hati yang halus melankolis.
Pinjam istilah pada Ulysses bab Penelope, Jengki sedang membaca monolog interior. Molly Bloom, rebahan di ranjang, Yes, apakah kau mencintaiku, oh yes, Boylan, sang pimpinan konser yang menaksirnya, yes. Tapi aku yes, punya suami sendiri, yes.
Serenade Malam mempertanyakan lewat sloki ke sloki yang membuat Bali carut marut.
DG Kumarsana
Puisi Kupelihara Cinta Ini Dalam Selapis Waktu, menggambarkan pergolakan cinta yang dibungkus waktu. Waktu di sini adalah bentangan zaman. Cinta di sini bukan terhadap sesama manusia, tapi cinta dari manusia pada Sang Pencipta.
Puisi Nocturne, sebuah memoar pada sahabatnya, Wayan Arthawa. Suara sunyi kembali ke
asal; cahaya ke cahaya, api ke api, air ke muara.
Puisi Perempuan Menyulap Kupu-Kupu, merupakan potret kehidupan malam seorang sundel dengan lelaki luka. Ia gambarkan secara naratif, siapa sebenarnya yang membuat mereka saling melepas libido itu?
Buatku sebagai pembaca, puisi-puisi Kumarsana sebuah refleksi dari kehidupan riil sehari-hari. Ada percakapan dengan Sang Pencipta, ada gundah ketika temannya pergi, ada gelisah dengan kehidupan remang.
Kumarsana tinggal di Lombok Barat, semoga suatu saat bisa bertemu. Kebetulan kami sering tinggal lama di Sandik, dekat Ampenan.
K. Landras Syaelendra
Puisi Fragmen Pasar Malam, sungguh menyentil batin. Bagi orang yang sering datang pagi sekali atau malam di pasar Kumbasari, akan mudah menangkap aura puisi ini.
Apalagi ada semacam autokritik kepada kaum lelaki;
Perempuan Bali itu
Barangkali lelaki yang sesungguhnya, gumam
Turis itu di atas jembatan
….
Inilah tarian sesungguhnya serunya lagi
Sambil membidikan kamera
Belakangan aku baru pertama kali berkenalan dengan Bli Landras di JKP pada acara novelku Si Bolang dari Baon. Kami saling barter buku, aku dapat buku darinya Fragmen Perkawinan. Judul puisi Mata Penyair, telah kubacakan di tepi danau Zug dan kuunggah di akun youtubeku. Suksuma!
Lilik Mulyadi
Aku teringat ucapan hakim Artidjo Alkostar. Sosok hakim supersederhana yang langganan naik angkutan umum di Jakarta. Ia sarankan, agar masyarakat membaca novel dan puisi.
Ia melakukan sendiri, karena dari sana ia mulai tahu nilai kebenaran yang harus diperjuangkan.
Pun Kafka, doktor ilmu hukum di Praha menyarankan tiap orang baca puisi.
Pada puisi Perkampungan Nelayan Bali XVIII, Lilik Mulyadi sebagai hakim, lebih memotret suara nelayan pesisir Bali. Ia ingatkan jerih nenek moyang. Gejolak anak manusia
dalam mengarungi bahtera hidup.
Puisi Pohonpohon Mantra. Ia mengudar dunia gaib Balian, roh leluhur. Mewanti-wanti anak-cucu. Ia pertanyakan ke mana sumber gaib ini harus berhadapan dengan kehidupan modernitas.
Sajak Pawang Buaya, ia bergelimpang pada hutan bakau, bulan, samudra, nyawa terbang. Lilik menebar ironi dengan metafora alam dan dunia gaib. Pawang buaya barangkali diibaratkan kita semua, generasi muda penjaga bumi, harus berani menaklukkan buaya darat yang berbahaya.
Puisinya panjang. Sebagai orang yang menggeluti bidang hukum, tapi tak menyusupkan diksi hukum seperti yang Kafka lakukan, dengan cerpen terkenalnya Di Depan Hukum (Vor dem Gesetz), Keputusan (Das Urteil), Novel Proses (Der Prozess).
Mas Ruscita Dewi
Tiga Puisi Mas Ruscita Dewi menggambarkan sang pencipa yang ada, tetapi tak bisa dijangkau. Hanya bisa dibaca lewat tanda-tanda, tapi tangan sang pencipta itu ada.
Ia juga mempertanyakan eksistensi cinta dan manusia. Membaca puisi-puisi ini membuat kita bertanya pada diri sendiri; bagaimana kita menjadi penghuni bumi?
Membaca buku Esai-Esai Iwan Simatupang mengarah ke kemandirian manusia. Eksistensialisme merupakan produk barat yang diusung Sartre dan Camus. Jika setiap individu sudah mandiri, niscaya seluruh tatanan masyarakat akan mandiri. Masyarakat individu barat adalah produk negara industri maju.
Bagaimana dengan Indonesia sebagai masyarakat komunal yang agraris? Yang cocok menurutku ideologi marxisme. Bahwa kesejahteraan hanya bisa dicapai jika kaum proletar bersatu. Dalam konteks agraris, bersatu bisa diartikan spirit gotong-royong.
Nanoq Da Kansas
Puisi-puisi Nanoq Da Kansas ada yang mengenang pertemuannya dengan Made Wianta. Puisi berjudul tentang sungai, mempertanyakan ulang apakah sungai-sungai itu masih berfungsi seperti dulu. Ada kegelisahan. Saya teringat puisi yang aku kirim ke Umbu berjudul Kapal Selam di Kali Desaku. Dugaanku tak akan dimuat Umbu, ternyata puisi eksperimen tak masuk akal itu dimuat di Bali Post.
Puisi kopi merah muda, sebuah pengandaian, seandainya rumput itu berwarna merah muda.
Keliarannya yang abstrak ia kaitkan dengan tempat di sekitarnya.
Nur Wahida Idris
Puisi Stateless, sepintas akan terbawa ke buku Tanah Air yang Hilang karya Mas Martin Aleida. Sebuah kisah orang-orang klayaban yang terhalang pulang, karena perbedaan ideologi. Tapi isi puisi Stateless bukan karena ideologi, karena pesimisme yang mengakar, sehingga bahaya mengancam individu. Dua baris ini mewakili:
kapan dan di manapun
selalu terancam bahaya
Puisi Rumah, terkait segenggam tanah yang melingkupinya, ya ari-ari dan memori yang tertinggal. Puisi itu mengingatkanku Jean Couteau, pernah bilang kira-kira, “Saya tertarik pulau Bali, bukan karena keindahannya, tetapi bau tanah yang bercampur dupa.” Itu ia ucapkan pada kongres HPI (Himpunan Pramuwisata Bali) di Bali Beach Hotel sekitar tahun 1990-an.
Puisi Pembatas Halaman seirama dengan dua puisi sebelumnya, yakni tonggak, batas, garis, rambut sebagai batas, bahwa manusia punya keterbatasan. Orang tak perlu rakus dan bermimpi pada yang bukan haknya. Di sana ibu menjadi catatan kaki.
Nuryana Asmaudi SA
Ketika aku membaca judul puisi Senja di Candidasa, aku langsung mencari novel dengan judul sama, Senja di Candidasa karya Gde Aryantha Soethama. Puisi ini dibuka dengan baris,
senja melukis duka pada ombak pada hulu rindu.
Versi novel Gde Aryantha Soethama berkisah hilangnya lukisan Bisma Gugur karya seorang ayah yang dihormati. Antara puisi dan novel dengan judul di atas, sama-sama memikul duka. Candidasa tempat seksi untuk diangkat menjadi karya. Puisi ini ditulis tahun 1996, sedang novel ini diterbitkan tahun 2002.
Candidasa buatku tidak asing, karena sebagai pemandu wisata, aku sering mengantar tamu dan menginap di pantai Candidasa.
Pada puisi Lelaki Laut, aku terggangu dengan baris,
pohon-pohon yang dikerdilkan merayakan
kebebasan dari penjarahan.
Sebagai pembaca aku tak menyukai mengerdilkan pohon. Ada dua diksi bonsai dua kali di puisi ini. Aku teringat taman Versailles di Paris, dimana pohon-pohon dan pagar digunting dan dibentuk kotak, kaku, banyak menuai kritik, karena menciderai estetika liar yang indah.
Puisi Lelaki Laut, sesungguhnya sebuah gambaran ketakperdayaan alam, ibarat lelaki, tak elok menangis.
Puisi Gembala Jiwa, membawaku ke sabana, Sumba, kampung halaman Umbu. Di sana juga banyak kuda liar. Jika membaca baris pertama,
bukan penunggang kuda tapi penggembala jiwa
Mungkinkah puisi itu dimaksudkan untuk Umbu, Sang Gembala Jiwa? Selain Umbu penyuka kuda putih, seperti judul puisinya, Kuda Putih.
Baris, “Bacalah dengan cinta yang membuat diri betah bertahan!”
Ajakan membaca dengan cinta, mengajakku kembali pada baris puisi Jelaluddin Rumi. Ia tulis, Kesabaran akan mati di malam hari dan di situ cinta lahir.
Ada 20 kata yang dalam 3 puisi di atas. Judul Senja di Candidasa ada 1 yang, judul Lelaki Laut terdapat 9 yang dan pada judul Gembala Jiwa terdapat 10 yang.
Pada tahun 2024, tiba-tiba Wayan Jengki Sunarta muncul di bawah pohon beringin, di sebuah kedai di Jalan Udayana, Mataram. Ia ada acara di Lombok dan diculik komunitas Akarpohon, asuhan Kiki Sulistyo untuk mengumbar ilmu puisi, sekaligus membacakan salah satu puisi Riki Dhamparan Putra. Sebelum baca puisi, Jengki mengatakan, tak suka puisi yang ada kata yang.
Aku hadir di situ dan dengar, dek. Kok sama denganku ya? Mungkin Jengki dan aku sama-sama Gemini dan selisih sehari, aku lahir 21 Juni dan Jengki lahir 22 Juni. Jengki tak memerinci alasannya. Aku punya alasan, memang kata yang, seperti akan ada lanjutan kalimat berikutnya atau yang mewakili orang lain. Katanya puisi harus irit kata, tapi luas makna? Tapi itu selera, bebas saja orang berkreasi.
Oka Rusmini
Aku baca dua kali dan mengulangi beberapa baris pada puisi panjang berjudul Tanah Bali. Aku menangkap ada kegundahan batin Oka terhadap masa kecilnya yang sering bermain di sekitar kali Badung. Kini sudah berbeda. Bahkan hilang. Dengan untaian indahnya, ia menanyakan, di mana bunga, tarian, dongeng, upacara yang dulu bisa di dapatkan di kali Badung. Ia sedang melakukan autokritik, seperti pada baris ini,
pribumi tololkah yang menempati sepetak tanah?
Keterasingan membungkus setiap bumi yang dipijak
Ia juga mengkritik pendatang, seperti pada baris ini,
orang-orang dari pesisir menyeberang
menanam beratus bangkai baru
pribumikah yang menangis di sudut-sudut kota
tak lagi bisa merangkai upacara dengan bau tanah miliknya
Aku teringat ucapan gubernur Oka dulu, kira-kira, …wahai pendatang, Bali jangan hanya kamu kencingi. Mungkin Oka sedang menyindir para investor yang mengeruk untung dari pariwisata Bali, tanpa ikut andil membangun.
Puisi panjang Oka bernuansa protes, tapi tak menghentak. Halus dan perlahan menikam. Seperti pada novelnya Tarian Bumi yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman menjadi Erdentanz oleh Birgit Lattenkamp. Sebuah protes halus.
Ida Bagus Gde Parwita
Tiga puisi Gde Parwita, kutangkap lebih dominan nuansa nostalgia.
Puisi berjudul Kerta Ghosa, ada baris,
dan denyut masa silam
Puisi Lukisan Tua, ada baris,
membasuh ingatan
bayangan masa silam
Puisi Sajak Ulang Tahun, ada baris,
Cahaya yang kutiup mengingatkan sisa waktu
Beberapa puisiku yang dimuat Umbu di Bali Post, sering kubaca ulang, ada nuansa masa lampau juga. Sepertinya Umbu juga tertarik menarik masa ke belakang selangkah, untuk perenungan langkah ke depan sebagai pegangan yang hati-hati. Meskipun praktiknya, Umbu sering menghindari bertemu teman-teman lamanya di Yogya dahulu, seperti Korrie Layun Rampan pernah kutanya pada Kemah Sastra di gunung Medini, “Apakah pernah bertemu Umbu di Bali?” Ia mengaku, sudah dua kali menunggu Umbu di Bali Post dan Umbu tak muncul. Ketika aku lanjut bertanya, untuk keperluan apa? Ia ingin menerbitkan puisi-puisi Umbu.
Puisi Kerta Ghosa, menggambarkan gerimis senja di pelataran kota Klungkung. Aku pribadi cukup akrab dengan Kerta Ghosa, ya karena sering menceritakan kepada tamu tentang lukisan-lukisan di dinding atap Kerta Ghosa, dari hukuman di neraka bagi orang yang suka kentut, sampai kepala digergaji, karena karakter buruknya.
AG Pramono
Ketiga puisi AG Pramono aku suka semua. Judul puisi Bunga Tanah Air, sebuah ajakan kepada Si Anak untuk mendengarkan
lagu Indonesia Raya,
sebelum air mata menjadi abu di taman ini.
Luar biasa penghayatannya, air mata menjadi abu, sebuah lompatan paradoks indah.
Puisi judul Fragmen Negeriku, sebuah keprihatinan memuncak, bahwa kita sudah terlalu tua, mengamini industrialisasi.
Rumput-rumput seperti menjelma batu-batu berdarah
Mempertanyakan langkah kita apa sudah benar?
Puisi berjudul Pondok Itu, mempertanyakan, apakah masih ada cinta. Cinta dianggap sebagai senapan untuk kedamaian.
Gde Pudanarya
Ketika Pablo Neruda kecil pernah menyelamatkan angsa yang terluka ditembak pemburu. Ia menyuapi dan diajari berenang di danau.
Paruhnya berwarna oranye serta matanya merah. Sungguh sebuah angsa yang indah. Namun matanya tetap sedih menunggu ajal.
Ketika kegelisahan Neruda memuncak dan mendorong untuk membuat coretan-coretan tangan, dia mengakui hasil coretan-coretannya menjadi terasa asing dan berbeda dengan bahasa harian. Itulah puisi awal Neruda. Dia menulis dengan perasaan waswas yang dalam, antara rasa takut dan kesedihan.
Tiga puisi Gde Pudarnarya, berjudul Tumbal, Bukit Lingga, dan Terminal, aku merasakan seperti ungkapan Neruda. Baris-barisnya bukan mewartakan seperti berita koran. Tapi ada endapan dalam mencabik naluri dengan sentuhan seni.
Puisi Tumbal,
Getar rahasia daun jatuh
….
Seekor elang memutar jagat raya
….
*Baris-baris indah.
Puisi Bukit Lingga,
menapaki tanjakanmu bukit lingga
….
batu-batu berlumut
….
diamku membatu kepada sunyi
….
memanah rembulan yang purnama
….
*Sebuah gambaran abstrak alami.
Puisi Terminal,
nunggu penunggu menunggui beban
….
terminal menunggu dimana-mana
….
meninggalkan bangku-bangku tua
*Unsur bunyi dalam diksi, juga menjadi pertimbangan.
Putera Manuaba
Puisi Penyanyi Kelana, menggambarkan seorang yang mengumbar cerita, tentang orang terasing, kaum manula, difabel, bahkan orang yang tak bersuara.
Puisi Jadilah Kuntum, sebuah ajakan menjadi orang yang dirindukan. Ajakan menjadi bunga, karena bunga menebar keharuman, jadilah satria, pada akhirnya untuk menjadi diri sendiri.
Sampai di sini aku teringat ucapan Rumi, “Kemarin aku pintar, ingin mengubah dunia. Sekarang aku bijak, ingin mengubah diriku.”
Meskipun puisi ini seperti pamflet. Seolah sebuah doktrin dari seorang guru. Puisi tak lagi memasuki dunia bebas. Bebas yang sesungguhnya dalam kriteria nihilisme.
Puisi Merpati Putih, mengilustrasikan sebuah angan yang terbang jauh menembus embun dan langit. Tokoh aku menjadi termangu, karena itu hanya igauan tanpa suara.
IDK Raka Kusuma
Membaca tiga puisi IDK Raka Kusuma, aku seperti dituntun memasuki sebuah asram. Di sana aku dilatih, bagaimana cara duduk bersemadi dengan mudra yang benar, ritme napas, termasuk di mana menaruh imajinasi.
Puisi Doa Sepanjang Kemarau, bercerita tentang air
yang mengalir.
kualirkan ke barat jadi sungai kuning.
….
mengalir dari jiwa pemberi hidup,
….
hendaknya segera di jiwaku ada.
Puisi Belajar Menari, seperti potret sebuah kegiatan tari di sanggar tari, ada guru dan calon penari.
berdiri dalam kalangan
….
minta bergerak tangannya
seraya menggerakkan tanganmu
….
sebab dua raga
membawakan tarian
….
pejamkan mata
kalau ada
….
Puisi Pondok di Dasar Hati, mengajak pembaca mencari jejak dalam raga, isi tubuh dalam makna.
ada pondok di dalam hati
berbentuk teratai
….
pintunya jangan diketuk
seketika kau remuk
….
di dada
cakupkan tangan
….
Seandainya judul-judul puisi itu tidak realis, mungkin lebih berkekuatan simbolis. Sebab ketiga puisi ini sangat simbolis.
Puthut EA pernah menulis buku biografi seorang pelukis dengan judul Menanam Padi di Langit. Pembaca sudah akan menebak, tentang cita-cita sang pelukis. Kafka, menulis prosa berjudul Di Depan Hukum. Dalam bahasa Jerman Vor dem Gesetz. Judul itu di Jerman tidak umum, sebab Gesetz itu Hukum dan bersifat abstrak. Jika Di depan Pengadilan, masih bisa ditarik logika. Pembaca tak perlu dimanjakan dan tahu dengan cepat. Biarkan pembaca mencari dan menginterpretasikan sendiri temuannya.
Raudal Tanjung Banua
Puisi Amurang, ada 4 diksi yang asing buatku, Google membantu dan terjawab semua. Amurang, sebelumnya bernama Tombasian, merupakan sebuah kecamatan sekaligus menjadi ibukota dari kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara.
Pinamorongan dan Kawangkoan, dua tempat di Sulawesi Utara juga. Kalau Amoor, seperti disebutkan Raudal, lidah Portugis menyebutnya begitu yang berarti Cinta. Kalau dalam pergaulan di Eropa, orang lebih sering menyebut dalam bahasa Italia Amore: cinta dan Amore Mio artinya Sayangku. Raudal sedang mengaitkan nama tempat Amurang dan Amoor, secara tune, ada kemiripan. Semacam akrobatik bahasa yang membuat Raudal terpana. Teknik ini mirip 3 nama penyair klasik Eropa pada novel Finnegans Wake, halaman 539 karya James Joyce. Ia plesetkan nama Shakespeare menjadi Shopkeeper, Goethe menjadi Gouty dan Dante menjadi Daunty.
Puisi naratif ini menggambarkan warisan penjajah Portugis di belahan Sulawesi Utara. Raudal
tulis baris,
yang dibangkitkan, mereka panggul sisa jangkar
sebagai salib besar
Ketika kami berada di pelabuhan Lisabon, Portugal, mendapati patung kapal yang dipakai Vasco Da Gama ke negeri timur. Di tengah patung kapal dari beton itu berdiri tegak salib besar.
Puisi Candi Muara Takus. Puisi ini membawa ke daerahnya sendiri di Sumatera. Candi ini dicoba dihidupkan menjadi gadis, ibu pantun dan vegetasi sekitarnya sebagai semesta. Baris yang mengiris-iris,
badanku kalah, kubawa berjalan
ke kota-kota jalan bersilang…”
Kini aku datang-seumpama telah pulang
menyederhanakan jalan
seperti menara dan undakan
terbuka, telanjang.
Tokoh aku seolah kembali dan lelah menyapa kembali candi itu.
Puisi Ke Barat dari Lovina, jalur ini pernah kulalui. Raudal memotret buah anggur, selusin anak lumba-lumba. Memang benar, di sepanjang jalan ini banyak petani menanam buah anggur. Pun menjelang matahari terbit, ikan lumba-lumba menjadi atraksi pagi pelancong di pantai Lovina.
Wayan Redika
Puisi Zarah Rahim, Wayan Redika sangat halus mengilustrasikan,
….
menuju ke sasar sunyi
ruang lahir pintu bumi
….
Puisi ini tak hanya menggambarkan pintu ke bumi lewat rahim, namun klang nya seperti bunyi, lagu, ritmis dengan ending, a, i, an.
Puisi Ragamaya, awalnya aku terpeleset secara optis, kukira Ramayana, ternyata Raga dan Maya.
….
senandung mantra pada sadhu
Sadhu ini jarang disebut, tapi aku sendiri sering melihat sendiri di trotoar New Delhi. Seorang berpakaian agak kumal, merambut gimbal. Sejatinya ia orang suci, mirip Balian di Bali.
Puisi ini ritmis dan mengingatkan akan asal manusia.
Puisi Perahu Sukma, berkisah bukan raga seperti puisi sebelumnya, tapi nyawa, soul, geist, sukma. Sukma perlu diperlakukan layaknya raga.
Ada diksi yang sudah tak boleh dipakai lagi yakni, cacat, sudah diganti difabel. Aku sendiri pernah mendapat kritik, karena terjemahanku novel Proses karya Franz Kafka, ada 1 diksi di atas.
Saluti, sempre poesie.
Reina Caesilia
Puisi Rumah Hening, membawaku pada sebuah imajinasi tempat abstrak. Tempat berteduh, istirahat. Bisa berupa rumah, sarang yang kelak ditinggalkan burung, juga sebuah negeri yang ditinggalkan.
Puisi Drama, lagi-lagi Reina Caesilia masih berkutat di rumah. Ia memotret keseharian yang terjadi di dalam rumah. Bagaikan drama-drama kecil yang tertimbun. Ibu yang membuat adonan dan anak-anak mulai sekolah.
….
pagi membujuk siang, menggoda malam,…
Puisi Lingkaran Ibu, menggambarkan siklus seorang perempuan menjadi ibu, meneteskan darah dari rahimnya, akankah ia menjadi batu padas?
Puisi ini mengingatkanku pada novel Gorki berjudul Ibu (Di Mutter). Di Jerman novel itu dimainkan dalam drama oleh penyair Marxist, Bertold Brecht. Di Indonesia, novel Gorki diterjemahkan oleh Pramoedya dalam bahasa Indonesia menjadi Ibunda.
Dewa Putu Sahadewa
Dengan bli dokter di Kupang ini aku pernah bertemu sekali di acara APSAS (Apresiasi-Sastra) di Yogyakarta. Seperti biasa sejak 20 tahun silam (2005-2025) komunitas literasi di Internet ini tiap tahun menggelar bedah 10 buku dan buku puisi bli dokter Sahadewa diikutkan dibahas. Selain itu ada dua buku penyair Bali lain, Wayan Jengki Sunarta dan I Made Suantha pada buku puisi berjudul Kukubur Hidup-Hidup Puisiku dalam Hidupku.
Anthon Chekov yang berlatar kedokteran pernah berujar, kedokteran adalah istri sahku, sastra adalah istri simpananku (Medicine is my lawful wife, Literature is my mistress).
Puisi Air Aksara, mengajak pembaca separuh air mata menjadi air aksara. Penyair hendak mengajak bening dan kelam kehidupan janganlah berhenti, tapi untuk dibujuk mencari catatan, menjadi sajak.
Puisi Kemana perginya, puisi ini merupakan campuran kegundahan antara anak-anak yang lahir menjadi perkasa dan orang-orang yang pergi, sekaligus menenangkan sang kekasih.
Puisi Untuk Apa Hidupku, sebuah refleksi apa perlunya hidup itu. Untuk menjadi nista, mengukir sejarah demi sebuah nama atau keindahan senyum bayi dalam lelap tidurnya.
I Made Sarjana
Puisi Maafkan Aku Ibu, sebuah ungkapan jujur rata-rata anak. Apakah karena ada kata mutiara; surga ada di telapak kaki ibu. Secara biologis memang ibu yang banyak andil terhadap kelahiran dan karakter anak. Hari Ibu ada di seluruh dunia, hari ayah, belum ada. Ayah? Jarang diungkap.
Puisi Menunggu Waktu, mimpi untuk bertemu yang diuntai dengan puitis,
ufuk berkalung senja di lengkung lehernya
….
Bertemu entah di mana, walau sekadar janji.
Puisi Begitulah, ilustrasi kapan manusia akan diambil nyawanya oleh yang Maha Kuasa? Kapan kehidupan akan berhenti.
Sinduputra
Puisi Dongeng untuk Made Taro, sebuah paduan antara memoar, metafor dan narasi. Kisah masa kecil tentang kupu-kupu debu, tentang bunga yang dapat bicara, tentang hujan yang airnya runcing. Itu potret kecil Made Taro.
Puisi Made Budhiana, Aku Curi Garismu, sebuah adegan drama, seolah Sinduputra sedang menghadap lukisan karya Made Budhiana. Tokoh aku mencoba menangkap garis yang alpa
pada lukisan di kanvas itu. Ia akui hendak mencuri garis yang kasat mata tanpa warna. Ia membuat lukisan baru atas garis-garis imajinatifnya.
Puisi Nyoman Wirata. Seekor Singa Mengaum Dari Kanvasmu, lagi-lagi Sinduputra mempertanyakan kebisuan, kenapa seekor singa mengaum dari bungkamku. Ada semacam dialog senyap antara Sindhuputra dengan Nyoman Wirata. Berawal seekor singa mengaum dari kanvasmu. Perlahan singa itu kehilangan menu karnivoranya, berubah menjadi vegan, menjadi singa sawah makan rumput. Sebuah ironi perubahan ritme kehidupan.
Sri Jayantini
Puisi Kepada Ibu, seperti sebuah igauan linier. Damai, pasrah, menerima kodrat. Aku teringat Surat untuk Ayah, karya Kafka. Surat itu mengkritik sang ayah dari memori masa kecilnya. Ketika mash kecil merengek minta perhatian, malah Kafka kecil digendong sang ayah ditaruh di lorong gelap sendirian.
Sri Jayantini, bukan mengkritik sang ibu, sebaliknya meratapi sebagai sesama perempuan. Lewat puisi sebagai senjata ungkap kepada sang ibu.
Puisi Saat Kudengar dari Bibirmu Terucap Doa. Rapal mantra atau doa dipertanyakan, apakah doa dipanjatkan karena ada keinginan yang akan dicapai. Doa sebagai harapan alami seperti kehendak semesta.
Puisi Membayangkan Senja. Sebuah kegundahan batin akan senja. Tak lagi ada cerita, tak ada lagi tanah lapang, kisah pohon sirna. Senja ibarat waktu menua. Tak perlu dilawan, akan surut sendiri.
Sthiraprana Duarsa
Puisi Bayi-bayi yang Dibuang Ibunya, menggoreskan memori duka nasib manusia. Aku teringat percakapan kecil di pesawat Easy Jet dari Jenewa menuju Nizza, Prancis. Pramugara muda itu berwajah Asia. Ketika ia lewat dan kusapa, “Where are you from?” Ia kaget dan terdiam. Dengan lirih bilang, Indonesia. Gentian aku yang kaget. Ketika aku ajukan beberapa patah kata bahasa Indonesia, ia tak paham. Kemudian ia bercerita, ia diadopsi keluarga Swiss. Aku tak berani melanjutkan pertanyaan. Ada batas luka. Tapi ia bercerita, saat masih bayi ditaruh di trotoar jalan di Yogyakarta dan ada turis Swiss lewat diambilnya.
Puisi Sthiraprana Duarsa sedang memotret suasana itu.
Puisi Penunggang Kuda, menggambarkan sosok Umbu yang ada suara, namun tak tahu darimana berasal. Kisah legendaris ini sering kita dengar dan baca, ia memegang tas kresek plastik hitam dan hilang di pertigaan jalan. Zawawi Imron pernah kuberitahu, bahwa aku
barusan bertemu Umbu. Ia berkomentar bahwa Umbu bagaikan Begawan Puisi. Tapi puisi ini mengingatkanku pada prosa mini Kafka berjudul Sang Penunggang Ember (Der Kübelreiter). Penjual arang terbang menggunakan ember kosong hendak membeli arang di tempat pengepul arang, karena arang mulai langka dan musim dingin tiba.
Puisi Sambil Membayangkan. Sebuah ilustrasi bagaimana hubungan Tuhan dan interaksi seksual Adam. Teringat Nikos Kazantzakis dengan novel The Last Temptation tahun 1960-an. Novel ini menguncang dunia dan diblack list Vatikan, termasuk dilarang di Indonesia.
I Made Suantha
Puisi Cuaca Menggigil di Mulut Dermaga. Sejujurnya tak kutemukan ada nuansa menggigil di mulut dermaga. Narasinya loncat-loncat dan sulit ditangkap muara yang menuju judul.
Puisi Liturgi. Semacam aneka rupa kegamangan, kegusaran yang terbalut narasi alam. Ada bunga, bintang, gerimis, cahaya, luka. Ada diksi burung yang muncul di puisi sebelumnya.
Burung-burung luka berlabuh dalam getar sarang.
Pada puisi ini diksi burung muncul lagi.
Dan musim burung melintasi gerimis.
Puisi Rumah Tua Sanur. Sebuah ironi, bahwa kini di Sanur banjir kupu-kupu. Mungkin penyair ingin mengkritik berjamurnya kupu-kupu malam. Muara sungai dan nelayan, petani dipertanyakan.
Diksi burung muncul lagi.
Burungburung yang tak lagi menakar ketinggian.
Puisi-puisi I Made Suantha masih senapas dengan buku puisi terbarunya Kukubur Hidup-Hidup Puisiku Dalam Hidupku.
I Wayan Suartha
Puisi Dongeng Sang Lelaki. Sebuah angan dimulai dengan baris,
Bulan mulai mengapung
…
dimana anak-anakku tertidur telanjang
…
Kemudian satu satu bintang menggeser
…
Penyair lihai menggambarkan lompatan abstrak.
Dongeng Burung Burung. Burung sebagai imajinasi abstrak, bisa mewakili ocehan anak-anak atau penghuni bumi yang semakin tak terdengar suaranya.
Kusanegara Kusamba. Kusamba aku kenal, sebuah pantai berpasir hitam dan kala itu masih banyak gubuk pembuat garam. Kusamba di depan gua lawah. Kusanegara aku belum tahu, tapi aroma puisi ini bisa kupahami menagih masa lalu yang selalu lebih indah. Kusamba hari ini kehilangan mistis, dulu kulihat orang bersembahyang melepas anak ayam dan ditangkap lagi. Kusamba jalur berat truk dan aneka kendaraan menuju Bali timur dan pelabuhan Padang Bai.
Putu Sudjana
Puisi Tanah Bali ditulis di Denpasar, pada tahun 1993-1994. Tahun-tahun itu aku berada di Denpasar dan kucoba meraba, apa saja yang ditangkap dalam puisi ini. Diawali dari mimpi.
Kita bangun mimpi
Dari khayal anakanak lahir
Dilanjutkan roda kereta, terus memanjat langit. Tentu ini metafor, karena pada tahun-tahun ini masih ada bemo roda tiga dari terminal Ubung ke terminal Kreneng dengan suara knalpot memekakkan. Ada Januari tahun anjing dan petani pulang pada kata kata. Ruang yang menyempit. Ada rasa bangga sebagai manusia dan menyimpan kenangan itu di almari. Penyair merindukan keindahan sunyi, sayang sudah terkubur.
Puisi menggugat kesunyian, itu ada gambar kakek menuntun cucu, untuk menghadap matahari pagi. Keindahan itu bagai di lukisan yang tertutup jamur.
Puisi Bunga Api. Sebuah ironi mempertanyakan jejak manusia yang menari-nari di bunga api di bawah purnama. Purnama di sini sebagai cahaya sekaligus sebagai pembatas waktu.
Nyoman Sukaya Sukawati
Jalan Kata Kota Denpasar. Puisi ini ditujukan untuk Umbu. Penyair ingin membungkus rutinitas sesibuk apapun rutinitas sehari-hari di Denpasar, perlu juru catat, yaitu kata.
Sepenggal baris puisi di atas:
karena setiap kata mencari pusat malam.
Petani Garam. Puisi ini ingin menyoroti geliat laki-laki, seperti pada baris ini.
tak ada yang lebih indah dari doa matahari
ia yang memaksa laki-laki
bersedia memikul nasib pulau ini
pada baris selanjutnya:
merekalah para penjaga, berjaga agar pulau tak membusuk
Ada kegundahan dan sekaligus kecintaan merawat pulau. Tapi buat pembaca yang belum pernah ke Bali dan berpaham isu gender, akan dipertanyakan, bagaimana dengan kaum perempuan?
Seperti Hujan. Pada puisi ini penyair membaurkan tiga komponan alam; hujan, angin, laut. Tiga diksi itu diolah menjadi mantra kesadaran manusia.
I Ketut Sumatra
Penjala Langit. Puisi ini seperti menakar ulang langkah yang sudah lewat, dengan rendah hati mulai mengeja langkah baru. Aku teringat ungkapan Rumi, dahulu aku pintar, ingin mengubah dunia dan kini aku sadar ingin mengubah diri sendiri.
Kreasi topografi puisi, menarik.
Pawang Matahari. Membaca baris-baris puisi ini seperti memangku buku Sekala & Niskala bersampul kuning dengan gambar wayang kemasan, seperti yang menempel di dinding Kerta Gosa, Klungkung. Tapi ada sedikit menyerempet organ tubuh; kedua tangan, kulit dan rambut. Seperti Frida Kahlo, usai musibah ditabrak mobil dan difabel, ia tumpahkan seluruh organ tubuhnya dalam kanvas.
Ida Pedanda Made Sidemen. Nama Pedanda terkenal ini sudah sering kudengar saat di Bali dan sebagai guide dulu aku sering membawa tamu melewat keindahan desa Sidemen. Kubayangkan, Bli Sumatra sedang menggengam wejangan sakral dan menyimpan menjadi, seperti pada baris-baris ini:
matahari lain dari nadanada purba nyanyianku
yang bersambut antara sayup
dan suntuk sesama mahluk
Suni Astiti
Dalam Perjalanan Pulang. Ini puisi sedih, kekasih penyair telah pulang. Menyisakan getir dan luka yang harus disangga guna menatap esok hari.
Perempuan Matahari. Ada sebuah rasa self-confident baru dari puisi sebelumnya. Ia ingin menjadi perempuan matahari. Pada buku Blembong ini, banyak sekali matahari diusung sebagai asesoris simbolis. Dulu ada percakapan kecil. Eka Kurniawan menanyakan di mailing list
bumimanusia yahoo groups. Kenapa Puthut EA menulis matahari selalu dengan M besar? Penyair Suni Astiti hendak menjadi matahari yang akan bertahan dan menjaga bahkan melawan musuh-musuh kekasihnya yang telah pergi. Seperti pada baris-baris ini:
jadikan aku perempuan matahari yang menjaga
…
jadikan aku segarang singa
menerkam semua yang kau benci
Hutan Bakau Suwung. Sang penyair sedang menganyam investigasi alam hutan bakau di Suwung. Ia catat gerak anak-anak kepiting yang sedang mencari lubang, batu-batu karang. Petani garam lenyap di saat bulan remang. Sebuah ironi. Puisi ini ditulis pada tahun 1997. Tentu petani garam masih banyak ditemukan. Entah, sekarang.
IAO Suwati Sideman
Tiga puisi berjudul Sinta, Duarawati dan Drestarasta, Kaukah itu, merupakan kisah yang kukenal lewat pewayangan. Tapi puisi Sinta di sini bukan sedang beromantika dengan Rama apalagi bersedih digondol Rahwana. Sinta di sini sedang bermonolog interior, menguji jejak diri. Sinta bukan meratapi sebagai perempuan, lebih permisif sebagai insan kodrati.
Puisi Duarawati. Sejak kecil aku sering dengar tetangga memanggil ibuku Dorowati. Aku sempat berpikir, apakah ibuku cerewet, sehingga dijuluki Dorowati? Belakangan, aku sadar, nama ibuku Suwati, dan tetangga guyonan mlesetkan Doro Wati. Doro atau Ndoro panggilan seorang ibu bangsawan. Padahal ibuku orang biasa. Puisi Duarawati, digambarkan, tokoh bijak, anggun dalam kegentingan perang.
Puisi Drestarasta, Kaukah Itu. Lelaki buta yang dipertanyakan, apakah kebutaan hanya sebagai simbol. Tokoh aku masih belum puas membaca gemilang khayalnya sendiri.
Ketut Syahruwardi Abbas
Puisi Aku belum Ingin Mati. Ketika aku baca puisi ini, kuingat ia sudah mati, setahun lalu, pada tahun 2023. Warih Wisatsana membuat Obituari di media. Aku teringat puisi serupa karya penyair Austria bernama Erich Fried berjudul Bevor Ich sterbe (Sebelum Aku Mati). Ini puisi lengkapnya dalam bahasa Jerman:
Bevor Ich sterbe
*Erich Fried
Noch einmal sprechen
von der Wärme des Lebens
damit doch einige wissen:
Es ist nicht warm
aber es könnte warm sein
Bevor ich sterbe
noch einmal sprechen
von Liebe
damit noch einige sagen:
Das gab es
das muss wes geben.
Noch einmal sprechen
vom Glück der Hoffnung auf Glück
damit noch einige fragen:
Was war das
wann kommt es wieder?
Puisi Eric Fried ini ingin mengenang ulang sebelum mati: apa arti kehangatan dalam hidup, cinta dan keberuntungan, walau tidak selalu mudah.
Puisi Ketut Syahruwardi Abbas, hampir senada menggambarkan papan catur dan perempuan tua dengan tariannya.
Bagaimana aku ingin mati?
Bagaimana jika aku rindu pada papan catur?
Bagaimana jika aku ingin jumpa tarian bambu?
…
Hidup Adalah tumpukan kesalahan
Dan tawa di atas papan catur
….
Perbedaannya, Eric Fried dengan iklas menerima takdir alam, sedang Abbas ingin melepas kematian terlalu berat, karena khawatir nanti mati, ingat main catur. Sebab itu ia senada dengan Chairil Anwar, ingin hidup seribu tahun lagi. Perbedaan lain, Eric dengan baris kata yang langsung menusuk, sebaliknya Abbas lebih menyukai narasi.
Puisi Bara Satria, menggoreskan replika gerak sang satria. Baris pertama;
Kelahiran adalah kuncup bunga.
Ia paparkan, agar pohon lahirkan bunga baru. Ia tak harapkan, anak panah melesat kembali ke arah busurnya. Puisi ditutup dengan dua baris pendek yang memompa anak muda:
dengarlah. Kau lelaki
ayunkan cahayamu.
Puisi Nayla. Puisi ini mungkin dari nama cucunya, seperti pada catatan kaki disebut; Nayla Lunazahira, cucu kecil yang tidak pernah berhenti menari dan berlari. Tetapi Nayla digambarkan sebagai sebuah nyanyian, panggilan tarian sederhana dan gerimis. Terselip nasihat simbolis, bahwa dalam pergulatan masa depan, perlu membangun jembatan pelangi.
Tan Lioe Le
Puisi Co Kong Tik. Puisi naratif ini mencampurkan praktik ritual kepada luluhur dan mantra. Aku teringat penyair Dayak Ngaju bernama Ben Abel yang kini tinggal di New York. Judul puisinya,
Sajak Makan Ikan Kering Lais
Tukang Taking rindu ikan asin
ikan lais kering terbayang-bayang
yang ketika kau bakar lemaknya menetes; bes, bes, bes.
Puisi Co Kong Tik,
Lihat nyala api dan kepulan sayap
Pejamkan mata
Hentakkan kaki:
(Taabb! Taabb! Taabb!)
Aku tertatik ungkapan bes, bes, bes dari tetesan ikan yang dibakar dan taabb, taabb, taabb, Bagai sihir dengan hentakan kaki.
Puisi Tan Lioe Le sebuah ritual sakral kepada nenek moyangnya, sedang puisi Ben Abel mengemas pesta bakar ikan dari mitos leluhur, yang selalu beruntung mendapatkan ikan.
Puisi Exorcism. Puisi ini sering menggunakan nada seru;
Enyah kau! Sebuah ungkapan kegelisahan akan datangnya petaka. Sebagai ancaman, sebagai sepatu kuda besi yang sering ditaruh di atas pintu masuk rumah, sebagai tolak bala.
Puisi Perempuan dan Hutan. Puisi ini bagai kemilau pantulan kaca.
Kau tahu,
hutan di dalam diri
lebih memukau
Tan mengajak pembaca untuk lebih memberi makna pada nilai yang tak kasat mata. Jangan gembira dengan pameran visual.
Warih Wisatsana
Puisi Kota Kita, sebuah parodi apakah wajah kota itu juga wajah kita sendiri? Metamorfosis kota pada pembuka puisi ini bisa cari contoh kota Sanghai. Warga lama akan tak mengenali kotanya sendiri yang berubah menjadi supermodern. Mao Tze Tung konon pernah ingin uji coba membuat kota kapitalistik di Sanghai.
Warih menagih janji kesetiaan manusia, seperti Didi Kempot yang menulis lagu-lagu putus hati, sehingga dijuluki sebagai The Lord of Brochenheart.
Tuhan juga menjadi sasaran kesalahan tata kota tata diri sendiri.
Puisi Bersama Hendra Gunawan. Puisi travel drawing, dengan slogan; seeing is believing di desa Trunyan. Bukan warga dan angin yang menyambut mereka, tapi ikan-ikan girang berlompatan. Orang mati tertidur di alam sunyi, sebagai penanda kelak manusia akan kembali ke bumi lagi.
Puisi Hikayat Seekor Burung. Sebuah monolog seekor burung akan nasib dan impian. Istilah Prabowo pidato di PBB di New York. It is dream, but the beautiful dream. Burung bermimpi akan padi menguning, di saat lahar mencakar.
Ketut Widiyazid Soethatma
Sajak Boneka. Boneka terdiam, saat dimasukkan ke dalam kotak maupun dipasang di dinding. Tapi boneka itu ada di jiwa tokoh aku, mungkin penyairnya. Ketut bukan sedang berpersonifikasi dari benda mati, tapi benda yang sudah dibentuk makhluk dunia.
Ketika Siang di Rumah Sakit. Puisi ini bernuansa sedih. Seperti maut akan menjemput. Peri datang bersama matahari.
Daun Gugur di Jendela. Baris puisi ini dimulai,
Musim gugur.
Daun terhempas di jendela
Bayanganku, musim gugur di Eropa. Tapi aku tersandung baris,
Mengirimkan bunga-bunga akhir tahun
…
Dari sini aku sadar, ini tidak terjadi di Eropa, karena bunga tak akan tumbuh di akhir tahun. Penyair ingin menekankan daun-daun yang jatuh di jendela, kau tak ada di sana.
I Nyoman Wirata
Pohon Kesayangan. Puisi ini menggambakan pohon sebagai simbol, replika kehidupan manusia. Tempat manusia berasal dan pulang. Daun-daun kering yang jatuh itu pertanda sebuah usia yang semakin menua. Aku teringat Kafe di Praha, tempat para pengarang di era Kafka bertemu. Digambarkan, di pohon ada berbagai burung, tupai, semut dan serangga, aneka ragam makhluk hinggap tanpa saling mencakar. Seperti kafe di Praha itu, sastrawan bertemu, mengedit naskah, memperbincangkan karya, bahkan ada yang membuka-buka majalah erotika. I Nyoman Wirata lihai memarodikan kehidupan. Seolah mengajak pembaca, belajarlah dari filsafat pohon. Pohon kesayangan itu toh akhirnya akan tumbang seperti kodrat manusia. Pohon itu tak menyalahkan musim yang berganti. Pepatah lama kita; jadilah padi, semakin berisi akan menunduk.
Aku Menemukan Sebuah Nama. Puisi ini seperti menceritakan sebuah sosok, entah diri sendiri, entah negeri bernama Indonesia, entah sebuah keyakinan, entah sebuah pohon atau gunung. Penyair memotret igauan abstrak, agar pembaca bisa menafsir sendiri, tetapi tak jauh dari sebuah temuan nama sesuatu.
Kepada Pendongeng Pak Taro. Puisi ini sedang mengharapkan agar Pak Taro terus bercerita tentang isi bumi. Bukan bercerita yang maha agung, tetapi tentang tabiat kepiting, akar pohon, lumpur, kuil Sakyamuni, jalan setapak di garis pantai. Puisi ditutup,
Sekali pun kelak hanya jadi kenangan.
Penyair ingin menandai bahwa sesuatu itu pernah ada. Benda bisa hilang dimakan masa, tapi dongeng Pak Taro tetap menggelinding dari mulut ke mulut, dari masa ke masa. Istilah James Joyce, aku sengaja menuliskan banyak enigma pada novel Ulysses, agar para profesor terus membahasnya bertahun-tahun, dengan begitu aku masih ada.
Ketut Yuliarsa
Romansa Laut. Puisi ini ditulis di Yogyakarta, pada tahun 1979. Aku masih di kelas III SMP. Tetapi kurun waktu 46 tahun berselang, kurasa puisi ini masih punya jiwa. Ketut Yuliarsa menata angan dan kecamuknya sangat apik. Halus dan membetot rusuk jiwa. Ia andaikan seorang nelayan, melaut dan istri menunggu dengan setia. Ia menanyakan di mana nilai kemuliaan, selain di wajah sang istri. Ia dipeluk istri dengan senyum. Sebuah ungkapan simbolis berkekuatan.
Cahaya Obor. Penyair memosisikan sebagai obor dan sang istri sebagai cahaya. Ia memosisikan berada di neraka? Sang istri di surga. Ia ingin meletakkan istri pada tataran yang superlatif, sementara ia komperatif.
Kalau Bisa. Puisi ini lebih imperatif, bukan berseloroh lirih seperti puisi sebelumnya. Namun imperatif yang bukan doktrin, lebih pada ajakan. Seperti pada baris-baris ini.
Tangkaplah makna
…
lebarkan jati dirimu
…
Kalau bisa, selusuri jalan
…
*penulis tinggal di Swiss.












