AKU MENCINTAIMU DENGAN SABAR
perjalanan kita masih panjang
seperti lautan yang tiada bertepi
aku bahkan masih belajar pada ombak
bagaimana menyelami palung hatimu
agar mampu beradaptasi
dari temperatur suhu tubuhmu
sementara terpaan gelombang prahara
gencar menghunjam marwah kesetiaan
namun tekad telah terukir dalam jiwa
mencintaimu dengan sabar
layaknya kapal pesiar arungi
luas samudera
sampai suatu saat nanti
terlihat uban memenuhi rambut
yang kuyup oleh keringat
aku tak merasakan lagi gersang
udara di pesisir pantai
sebab suatu hari nanti
tubuh ini menyatu dengan karang
melarung usai senja menyapa
Subang, 1 Mei 2025
KALI INI AKU PERGI
Nyanyian tembang cinta mengiringi
Saat kita tiba di persimpangan jalan
Saling merangkul mimpi dalam altar suci
Namun, buih-buih itu mengaburkan tekad
Aku terhenti bertualang
Dari rangkaian perhelatan waktu
Menjadi rumah tuk berteduh
Pundak penopang wajah sembapmu
Mentari menerangi jejak episode
Agar tak terhapus mendung
Kerap dicumbui bayang hari-hari
Dalam keriuhan rindu bersarang
Maaf kali ini aku pergi
Bersama kumpulan kisah
Serta semerbak aroma kesturi
Dan ukiran nama pada nisan
Subang, 17 Maret 2024
KEPADA WANITA PEMILIK HATI
Tahukah kau
setiap embusan napasku
serta derap laju langkah kaki ini
ialah deskripsi relung kasih
yang kelak bermutasi rindu
Tahukah kau
bintang yang kerlip di atas sana
lalu bertahan dari gelapnya langit
sebuah jawaban bahwa rasaku
akan terus benderang di tengah getir
Tahukah kau
pada malam sunyi
aku bercengkrama dengan jam dinding
merayu waktu agar berhenti bergulir
lantas kita berbaring bersama
tak terpisahkan
Subang, 14 Februari 2025
PERIHAL PULANG YANG SENTIMENTAL
Kota yang dulu kita singgahi
Ialah jejak memoar indah
Nuansa nostalgia menyeruak
Dari kabar embus angin
Riuh bertabur potret histori
Seperti lintasan rel kereta
Menyusuri rimbun dinamika
Gencar menghunjam kepala
Kau hadir pada fase musim hujan
Yang rinainya mengusir sepi
Namun, kala itu kita angkat kaki
Dipisahkan rintik-rintik gerimis
Meninggalkan potongan replika kasih
Kini jiwaku telah berada di fase rindu
Gerombolan kenang berdatangan
terus menyerbu gerbong ingatan
Sementara sesal tampak di guratan kening
Dari berseminya kelindan kisah lalu
Aku menemukan persinggahan sesungguhnya
Menyusuri jalan terjal belantara dunia
Telah mengubah arah navigasi hidup
Setelah sekian purnama di rantau
Aku ingin pulang
Menebus kesalahan yang menjurang
Lalu kita kembali seperti seharusnya
Menyambung asa sempat terputus
Semoga rasamu masih sama
Subang, 12 Maret 2025
YANG LALAI
Semua tentang bercak-bercak noda
Dari pergolakan hidup
Kata-kata yang terlontar terlanjur mengudara
Menjurai prahara menganga
Sehabis pedang mengiris hati
Aku seperti ditampar bayangan di cermin
Menguar akumulasi penyesalan
Segera maaf terucap yang lalai
Tak menjaga lisan
Sebelum waktu menggilas jiwaku
Subang, 3 April 2025
BIODATA
Dewis Pramanas lahir di Subang, 1 Maret 1987. Seorang guru di SD Negeri Ciberes, Subang. Buku Puisi tunggalnya berjudul Perindu Hujan. Beberapa karya puisinya juga termuat di media daring.













