RIM, seorang anak yang mengendarai kuda besi peninggalan kakaknya. Tangan kirinya memegang karung ukuran besar berwarna putih. Di tengah keramaian ia harus membuang rasa malu. Ketika teman sebayanya melaksanakan kegiatan study tour, ia sudah harus memikirkan risiko sehari-hari. Mau tak mau, ia harus melewati kerumunan teman sekolahnya yang akan berangkat pagi itu.
Perlahan, ia membuka pintu berwarna hijau muda yang agak kusam karena usia. Ia menengok sejenak ke arah jam dinding yang tergantung di dekat jendela. Kemudian kedua matanya beralih pada kursi butut warna cokelat yang di atasnya terdapat tumpukan pakaian belum dilipat. Sosok Burhan, anak dari kakaknya yang telah meninggal masih berada di alam mimpi, padahal usianya di atas Rim. Mulutnya terbuka seolah menikmati lelap tidurnya. Suara dengkurannya terdengar jelas di telinga Rim.
Setiap hari tetap saja seperti itu, pergi pagi pulang malam dan langsung tidur, dengan alasan lelahnya pulang praktik kerja lapangan (PKL). Padahal Rim tahu, saudaranya hanya beralasan, ia nongkrong dengan teman sekolahnya di kampung sebelah. Kelakuannya nyaris tak pernah berubah. Bahkan, sebentar lagi akan menghadapi ujian yang sebenarnya setelah kelulusan. Rim sudah kehabisan cara untuk mengubah saudaranya.
Rim menahan kesal. Telapak tangannya mengepal, terlihat air menggenang di pelupuk matanya. Hanya itu saja yang dapat dilakukannya. Melangkah dengan perlahan, Rim menghampiri ibunya. Bukan ia yang seharusnya mencari nafkah, mengasuh kedua anak yatim piatu, apalagi dirinya juga anak yatim dan masih ingin bebas seperti anak pada umumnya. Bulir bening tak terasa menggelinding menyusuri bagian pinggir kedua pipinya. Ia terisak pelan. Punggung tangannya menyekanya. Ibunya menyadari kehadiran Rim. Rim terkaget saat ibunya menghampirinya.
“Kenapa kamu menangis, Rim?”
“Enggak apa-apa, Bu.”
“Ibu tahu kamu berbohong, ayo cerita.”
Rim hanya menunduk sambil memainkan ujung hijabnya. Namun, ia tak kuasa membendung air matanya. Di depan ibunya, air matanya pecah, ia menangis sejadi-jadinya.
“Kamu kenapa? Apakah ada yang menyakitimu?”
“Aku hanya teringat dengan kakak, kenapa dia pergi secepat itu.”
Padahal dalam hatinya, ada rasa cemburu dan iri kepada teman-temannya. Ketika teman sebayanya menikmati masa mudanya, ia dipaksa dewasa sebelum waktunya. Sekolahnya terpaksa harus berhenti karena sekarang ia adalah tulang punggung satu-satunya.
“Andai kakak masih ada, mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Mungkin aku masih bisa menikmati masa muda seperti orang lain. Pergi ke sekolah, bermain bersama, bukan pergi ke pasar lalu mengasuh dua anak usia dini, dan menjaga warung.” Batinnya.
“Sudahlah Bu, aku mau menjejerkan dagangan yang baru saja dibeli.”
Rim membawa karung yang tadi ia bawa. Satu persatu dagangan dikeluarkan. Ada buah-buahan seperti jeruk, apel, belimbing, mangga, dan pisang. Ada juga sayuran yang masih segar seperti kol, wortel, mentimun, kangkung, brokoli, buncis, dan bayam. Tak hanya itu banyak juga jenis ikan asin, tempe, tahu, telur, dan makanan ringan untuk anak-anak.
Setiap hari warung itu selalu dipadati pembeli. Di pagi hari biasanya para santri menikmati bakwan, goreng tempe, dan goreng pisang. Menuju siang, warga sekitar datang hendak mencicipi bakso, sop buah, es pisang cokelat, dan masih banyak lagi. Ia melanjutkan sendiri warung itu setelah kakaknya meninggal dua bulan yang lalu. Terkadang, ibunya ikut membantunya jika sedang banyak pelanggan. Warung itu tepat berada di pinggir jalan dan dekat pondok pesantren. Orang tua santri yang mengunjungi anaknya di pondok, bisa melepas lelahnya perjalanan di sana sambil menikmati berbagai makanan.
“Bu, boleh bantu aku?” Teriak Rim dari dalam warung.
“Boleh, Nak.”
“Aku mau membersihkan diri dulu. Tolong jejerkan sisanya yang ada ada di dalam karung ya.”
Rim meninggalkan ibunya di warung. Belum selesai dagangan dijejerkan, sudah ada pembeli berdatangan. Salah satu diantaranya adalah Bi Entin, ibu teman sekelasnya Rim. Bi Entin dan Rim sudah sangat akrab. Sudah tidak ada lagi kata sungkan di antara mereka berdua. Layaknya teman, kadang mereka suka bercanda.
“Bi Ucu jaga warung, pasti Rim ikut study tour ya dari sekolah?” Tanya Bi Entin pada ibunya Rim, karena memang biasanya Rim yang melayani pelanggan.
“Study tour? Rim tidak pernah bercerita tentang study tour, dia ada di dalam sedang mengganti pakaian.”
“Loh, berarti Rim enggak ikut?”
“Enggak, kapan emang berangkatnya?”
“Tadi pagi. Sekitar pukul tujuhan.”
Ibunya Rim terdiam. Dia menatap dagangan dengan tatapan kosong. Teringat kembali kejadian tadi saat Rim menangis. Otaknya berpikir, jam tujuh pagi temannya berangkat study tour, saat itu juga Rim di perjalanan pulang dari pasar. Apakah mungkin Rim bertemu dengan mereka? Dan adanya keinginan untuk ikut namun tak tersalurkan? Batin Ibu Rim menebak-nebak.
“Ini belanjaan saya Bi.”
“Sebentar, saya masukkan dulu ke dalam keresek.”
Bi Ucu menyodorkan keresek berisi belanjaan Bi Entin. Tangan kanan Bi Entin merogoh saku. Selembar uang kertas bergambar Ir. H. Djuanda Kartawidjaja yang telah lecek. Bi Entin mengeluarkan uang kertas itu untuk membayar belanjaannya. Semua pembeli yang datang telah dilayani. Kebanyakan yang membeli sayuran, jadi Bi Ucu tidak terlalu direpotkan.
“Rim, kata Bi Entin ada kegiatan study tour ya dari sekolah?”
“Eh, iya Bu.”
“Kamu kenapa tidak mengatakannya pada ibu? Terus kenapa tidak ikut?”
“Enggak ah Bu, malu. Nanti dibilang sekolahnya enggak, study tour ikut. Lagian kasihan anak-anak gak ada yang jaga kalo aku ikut. Terus siapa juga yang akan menunggu warung.”
“Anak-anak kan bisa Ibu dulu yang jaga. Warung, bisa tutup dulu satu hari.”
“Enggak apa-apa Bu, gak tertarik juga sama tempatnya. Mending uangnya ditabung aja.”
“Permisi… Bu, beli bakso.” Teriak pembeli dari luar.
“Duluan ya Bu, ada yang beli bakso.”
Ibunya Rim meneteskan air mata. Begitu tangguhnya ia menanggung banyak beban Rim juga pandai menyembunyikan kesedihan, padahal dalam hatinya, ada keinginan seperti anak yang lain. Ia terus memandang punggung Rim yang semakin menjauh hingga tak terlihat.
BIODATA
Lutpiah Nur Azizah. Lahir di Garut, 03 Februari 2007. Siswa Madrasah Aliyah, pegiat literasi dan penikmat sastra. Beberapa tulisannya tersebar di media massa. Seperti Radar Banyuwangi dan ESNbanten. Telah menulis 14 buku antologi bersama Nimu Club. Selain itu, penyuka dunia kaligrafi Arab.













