AKU menuliskan kalimat ini pada suatu tengah malam di atas lembar-lembar daun tal. Kalimat yang tercetus setelah Mpu Bahula menjengukku lewat sebuah mimpi. Dalam mimpi itu, Mpu Bahula mengatakan bahwa Wilwatikta tak akan bertahan lama jika Mahapatih Amangkubumi Gajah Mada menggunakan kekuatan kekuasaan untuk mewujudkan ambisinya pada Sumpah Amukti Palapa.
Gajah Mada lupa, atau mungkin tidak pernah memikirkan bahwa negeri-negeri di luar Wilwatikta yang hendak dia satukan dalam satu panji Getih Getah memiliki adat dan keyakinan yang beragam. Tidak semuanya bisa disamakan dengan perilaku orang Wilwatikta di tanah Jawa. Apalagi dipaksa tunduk dengan menggunakan kekuatan senjata.
Kini, ratusan tahun sesudahnya, ketika tulisan pada kakawin itu—kemudian lekat dengan Garuda, putera Dewi Winata sebagai simbol negeri yang meneruskan kebesaran Wilwatikta—menjadi rebutan orang-orang untuk diakui menjadi manusia paling berjuang membela kebenarannya, mereka serupa mengulang kisah lama: menyulut api dalam sekam Wilwatikta. Api yang kemudian membesar, lalu membakar pondasi negeri hingga bangunannya roboh tak bersisa.
***
Tahun 1256 Saka baru saja bergulir. Bale Manguntur pada tengah malam itu serupa dihajar suara guntur. Sumpah yang diucapkan seorang Mahapatih Amangkubumi yang baru saja dinobatkan oleh Batara ring Wilwatikta, Dyah Gitarja menggetarkan seisi bangunan paling megah di antara bangunan-bangunan yang ada di Trowulan.
“Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, amun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa—Jika telah menundukkan seluruh Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa!”
Semua yang hadir di pendopo itu saling pandang. Sebagian menggeleng-gelengkan kepala tanda tak percaya. Sebagian lagi hanya tersenyum simpul sebab menahan tawa dan tidak berani terbahak-bahak di sebuah pertemuan agung. Sementara lainnya memilih tetap menundukkan kepala, menatap dalam-dalam ke ubin Bale Manguntur.
Bukan tanpa sebab mereka menyangsikan sumpah itu. Dalam ingatan orang-orang Jawa, mulai zaman Sri Dharmawangsa Teguh di Medang, Batara Airlangga di Kahuripan, hingga Sri Kertanegara di Singasari pernah memiliki ambisi serupa dengan Gajah Mada. Namun, semua sebatas angin lalu belaka. Maka, pantaslah jika yang mendengar ikrar pada malam itu tidak lantas yakin begitu saja.
Dari tempat duduknya, Dyah Gitarja yang naik takhta Wilwatikta beberapa bulan setelah Batara Jayanegara mangkat, hanya memicingkan mata, lalu menatap tajam ke arah mahapatihnya. Sesaat Bale Manguntur hening.
“Aku percaya dengan kemampuanmu, Paman,” ucap Dyah Gitarja. “Semua yang hadir pada malam ini menjadi saksi dari sumpah yang baru saja kamu ucapkan. Semua akan ikut mendoakan: Wilwatikta benar-benar akan menjadi sebuah negeri besar dengan menyatukan semua negeri-negeri yang masih tersebar dan tercerai berai itu.”
Semua orang mengangkat sembah. Dyah Gitarja beranjak meninggalkan Bale Manguntur diikuti suaminya, Rahadyan Cakradhara. Sepasukan prajurit Bhayangkara dengan cepat mengiringi di sisi depan, samping kiri, kanan, dan belakang penguasa Wilwatikta itu menuju Puri Kedaton.
Sepeninggalnya, Gajah Mada menutup pertemuan di Bale Manguntur dengan menobatkan beberapa orang menduduki posisi Rakryan Demung dan Rakryan Tumenggung untuk memuluskan ambisinya dalam Sumpah Palapa.
***
Malam itu, di tengah kegelapan Puri Kepatihan, beberapa blencong tampak menyala. Penglihatan yang awalnya tertutup pekat, menjadi bisa menangkap pemandangan meski samar-samar. Blencong-blencong itu terpasang di setiap pilar kayu penopang bangunan yang menjadi tempat pertemuan. Nyalanya sesekali berkelebat-kelebat manakala hembusan angin menerpa. Dari sela-sela kilauan cahaya blencong, nampak pula kepulan asap. Kepulan yang keluar dari prapen, menebar aroma harum dupa asthanggi. Kepulan asap itu menyebar ke segala penjuru, berkelindan membumbung tinggi, menembus atap, lalu lenyap di kegelapan malam.
Kilatan cahaya blencong-blencong itu juga menimbulkan bayang-bayang bagi benda yang ditimpanya. Di antara bayang-bayang pilar, aku duduk berhadap-hadapan dengan Gajah Mada.
“Dengan cara apa Kangjeng akan mewujudkan sumpah itu?” Aku membuka percakapan dengan sebuah pertanyaan.
“Janganlah kau memanggilku dengan sebutan itu, Paman. Panggil saja namaku seperti biasanya. Mada.”
“Tidak boleh begitu. Sekarang Kangjeng sudah menduduki kursi Mahapatih Amangkubumi. Tidak pantas aku memanggilmu tanpa sebutan kehormatan.”
“Ah, terserah Paman Tantular saja,” pungkas Gajah Mada.
“Kembali lagi ke pertanyaanku tadi. Apakah Kangjeng sudah memperhitungkan segala konsukuensi dari sumpah Kangjeng malam itu?”
“Tentu saja sudah, Paman.”
“Bolehkah aku tahu, apa yang akan dilakukan Wilwatikta?”
“Aku sudah memerintahkan para Rakryan Tumenggung dan Rakryan Demung untuk menambah jumlah pasukan di Canggu, Ujung Galuh, dan Banger. Tiga tempat itu akan menjadi pemasok utama pasukan laut Wilwatikta. Kekuatan kita tetap bertumpu di lautan, mengingat daerah-daerah yang akan aku satukan di bawah panji Wilwatikta terletak di pulau seberang tanah Jawa,” jelas Mpu Mada panjang lebar.
“Kenapa harus menggunakan kekuatan senjata, Kangjeng?”
“Perjuangan tanpa mengangkat senjata sama saja dengan mimpi belaka, Paman.”
“Tak adakah cara lain?”
“Tentu saja ada. Aku akan mengajak negeri-negeri itu secara baik-baik untuk bergabung dengan Wilwatikta.”
“Semoga tak ada darah yang tumpah, Kangjeng,” pungkasku sambil mengangkat sembah dada.
***
Kotaraja Trowulan menggeliat dengan kedatangan pasukan Mahapatih Amangkubumi Gajah Mada dari pulau seberang. Tersiar kabar bahwa mereka baru saja berhasil menjadikan Gurun dan Seran, sebuah negeri nun jauh di timur sana sebagai bagian dari Wilwatikta. Setiap hari orang-orang selalu membicarakan kabar itu di warung-warung, sawah, kebun, kedaton, hingga ke pelosok kabuyutan.
Selang beberapa waktu, kabar yang belum reda dari perbincangan orang sekotaraja itu disusul kabar lainnya. Bahwa Dompo dan Bali telah pula menjadi bagian dari kekuasaan Trowulan. Kembali orang-orang membicarakan kabar itu siang malam. Tanpa mencoba menelisik, dengan cara apa misi Sumpah Palapa diwujudkan?
Pikiranku makin terusik dengan kabar demi kabar yang terus dibawa pasukan Wilwatikta setiap pulang dari perjalanan jauh itu. Menurut mereka, Tañjungpura, Haru, Pahang, Palembang, dan Tumasik sudah berada di bawah panji-panji Wilwatikta. Hanya satu yang belum tersentuh: Sunda di belahan barat tanah Jawa.
Sementara, Mahapatih Amangkubumi Gajah Mada sudah makin sulit kutemui. Entah di mana keberadaannya. Beberapa kali aku mencoba mendatangi kediamannya di timur Trowulan, tetapi selalu sia-sia. Hanya ada beberapa prajurit kepatihan yang mengatakan bahwa junjungan mereka belum kembali. Atau jika sudah kembali, katanya sedang menghadap Ratu Dyah Gitarja di Bale Manguntur.
Ingin sekali aku berbicara empat mata dengan Gajah Mada. Sekadar menanyakan kenapa akhirnya darah harus ditumpahkan di tanah-tanah seberang yang kini menjadi bagian dari Wilwatikta? Kenapa dia ingkar dengan ucapannya ketika suatu malam kami menghabiskan waktu berbincang-bincang di tepi Segaran?
Berkali-kali tak kunjung bisa menemui Mahapatih Amangkubumi itu, akhirnya membuatku memutuskan mencurahkan segala persoalan yang mengganjal di hati, yang sebenarnya hendak kusampaikan langsung kepada Gajah Mada ke sebuah tulisan kakawin.
Aku menorehkan aksara demi aksara pada lembaran-lembaran daun tal yang sengaja kukeringkan beberapa hari setelah aku unduh dari sebuah lembah di kaki Gunung Anjasmara. Tentang pedoman perilaku orang-orang di negeri yang berambisi menjadi besar ini.
Kutuliskan sepuluh dasasila di antara kisah penuh wejangan mulis tentang perjalanan hidup seorang dari kasta kesatria bernama Sutasoma, ‘Aja sira anlarani hati nin wong. Aja amidanda tan sabenere. Aja amalat duwe nin wadwa nira. Aja tan asih in daridra. Luluta rin pandita. Aja Sira katunkul ing kagunan, amujya nabhaktya. Aja memateni yen tan sabenere. Uttama si yen sira akalisa rin pati. Sampuraha rin tiwas. Anulaha saama daana aja apilih jana—Jangan menyakiti perasaan -oOrang. Jangan menjatuhkan hukuman yang tidak adil. Jangan menjarah harta rakyatmu. Janganlah menunda kebaikan terhadap mereka yang kurang beruntung. Mengabdilah pada mereka yang sadar. Jangan menjadi sombong, walau banyak orang menghormatimu. Janganlah menjatuhkan hukuman mati, kecuali menjadi tuntutan keadilan. Adalah yang terbaik, jika kau tidak takut mati. Bersabar dalam keadaan susah. (adalah yang terbaik) Jika kau berjiwa besar dan memberi tanpa pilih kasih.’
Bukan itu saja, perjalanan suci Pangeran Sutasoma ketika menyatukan dua perbedaan keyakinan, Kasogatan dan Kasyiwan juga menjadi bagian penting dari pupuh demi pupuh kakawin yang kutulis.
Aku berharap Gajah Mada dan para petinggi di Wilwatikta membaca kakawin ini. Bukan hanya sekarang, tetapi terus turun-temurun hingga ke zaman setelah Kaliyuga kelak. Bahwa ada pendekatan budaya, perilaku, dan keyakinan yang bisa digunakan untuk menyatukan negeri yang beragam ini. Bukan sekadar menggunakan tangan besi penguasa. Apalagi menempuh jalan pertikaian.
Tengah malam setelah menyelesaikan pupuh akhir kakawin itu, aku kembali bermimpi didatangi Mpu Bahula. Seperti pada mimpi-mimpi sebelumnya, mendiang ayahku meninggalkan pesan yang entah hanya sebuah kembang tidur atau benar-benar teka-teki yang harus kupecahkan artinya.
“Ngger, Anakku Tantular. Kelak tulisanmu ini akan menjadi roh dari perilaku orang-orang di negeri kita. Ia akan abadi sepanjang zaman, asalkan tidak ada yang meninggalkan marwahnya. Kelak kau juga akan terlahir kembali dalam awatara Tantular, menjadi manusia baru yang menjadi bagian dari pendiri Wilwatikta baru pula.”
Kata-kata itu terus aku ingat sepanjang hari. “Benarkah aku akan berinkarnasi menjadi manusia baru di negeri ini kelak?”
Hingga menjelang menutup usia di lereng Gunung Anjasmara karena sakit sesak napas di tahun 1389 Saka, pertanyaanku itu tetap tak kunjung pergi.
***
Satu hari setelah Wilwatikta Baru berdiri, lelaki itu mengurung diri di dalam kamar semalam suntuk. Dalam benaknya berlintasan pikiran bahwa negeri yang baru terlahir kembali ini belum memiliki fondasi kokoh. Belum ada pedoman etika bagi orang-orang yang kelak akan menjadi penggawa, juga bagi kawulanya.
Dalam kegamangan, ia teringat pada Kakawin Sutasoma yang pernah aku tulis untuk menyangkal kebijakan Mahapatih Amangkubumi Gajah Mada. Lelaki itu berpikir tak ada salahnya dasasila yang pada lontarku beratus-ratusa tahun lalu itu kembali diangkat kembali. Tentu saja dengan membuang yang tidak perlu, meringkas kalimat yang memiliki arti sama, dan menambahkan apa yang dibutuhkan.*
Lelaki itu memangkas sepuluh kalimat pada Sutasoma menjadi lima saja. Datang seorang lelaki lain menemuinya di suatu pagi, membawa sebuah gambar yang akan disusulkan menjadi lambang Wilwatikta baru. Lelaki pertama memandang tajam gambar itu. Sesekali Memutar-mutar gambar ke beberapa posisi untuk melihatnaya lebih tajam dari berbagai sudut.
“Akan aku utus Hatta untuk menyerahkan gambar hasil rancanganmu. Tetapi, ubahlah simbol pada bagian pita merah putih yang dicengkeram kaki burung Garuda ini. Tambahkan kutipan dari pupuh seratus tiga puluh sembilan Kakawin Sutasoma.”
“Baiklah, Pak,” sahut sang tamu.
Begitulah, gambar dari lelaki Borneo yang mengutip sebuah gatra dari Kakawin Sutasoma akhirnya dibawa ke sebuah pertemuan agung. Ia menjadi lambang bersama lima sila yang menjadi pedoman perilaku orang-orang Wilwatikta baru.
Sejak itu orang-orang dengan gigih membela ideologi yang lekat dengan simbol sosok putra Dewi Winata sedang mencengkeram pita bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika. Tetapi mereka justru melupakan inti dari semboyan itu sendiri. Mereka kerap menganggap orang lain yang tidak sekeyakinan dengannya bukanlah saudara. Tak jarang pula mencaci maki yang berseberang pemikiran, demi membenarkan pendapat mereka sendiri.
Danghyang Angsokanata (*)
Catatan kaki:
- Tal = Sejenis pohon palma, nama ilmiahnya borassus flabelliformis.
- Wilwatikta (bahasa Sanskerta) = Kata dasarnya wilwa (maja) dan tikta (pahit).
- Getih Getah (bahasa Jawa) = Merah putih, warna panji-panji Wilwatikta (Majapahit) yang kemudian mengilhami warna bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia.
- Kakawin = Syair Jawa kuno.
- Bale Manguntur = Nama lain Bale Tatag Rambat, pendopo tempat menghadap Raja Majapahit, sebagaimana tercatat pada Kakawin Nagarakrtagama karya Pu Prapanca.
- Batara ring Wilwatikta (bahasa Jawa kuno) = Baginda di Majapahit.
- Blencong = Lampu hias kuno, biasa digunakan untuk pementasan wayang kulit zaman dahulu.
- Prapen = Tungku pembakaran kemenyan.
- Astanggi = Dupa yang terbuat dari campuran beberapa ramuan sehingga beraroma harum.
- Segaran = Kolam kuno peninggalan Majapahit di daerah Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.
- Pupuh = Bab, bagian pada karya sastra Jawa .
- Ngger (bahasa Jawa) = Kependekan dari angger (anak).
- Awatara = inkarnasi, manifestasi.
- Dasasila (bahasa Jawa kuno) = Sepuluh etika/perilaku/sikap.
*) Merujuk resensi buku Sandi Sutasoma, Menemukan Kepingan Jiwa Mpu Tantular – Anand Krishna oleh T.N. Angkasa, Spd. yang menyebutkan bahwa Bung Karno adalah salah satu manusia yang mewarisi roh ke-Mpu-an Danghyang Angsokanata.
- Bhinneka Tunggal Ika (bahasa Jawa kuno) = Beraneka satu itu (berbeda-beda tetap satu jua).
- Mpu Wiranatha, Danghyang Angsokanata = Nama lain Mu Tantular, penulis Kakawin Sutasoma versi Babad Manik Angkeran.
BIODATA
Heru Sang Amurwabumi, Pendiri Komunitas Pegiat Literasi Nganjuk dan Sanggar Omah Sastra. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di media massa dan memenangi beberapa sayembara menulis tingkat nasional. Tahun 2019 terpilih sebagai emerging writer di Ubud Writers & Readers Festival.













