DENPASAR, Balipolitika.com– Waspada Kejahatan Siber. Pemilik usaha toko bahan kue UD Ayu di kawasan Panjer kini tengah berjuang menghadapi serangan siber yang merusak reputasi bisnisnya. Sindikat peretas profesional secara ilegal menyusup ke dalam akun profil bisnis Google Maps milik toko tersebut untuk mengganti identitas kontak. Para pelaku mengubah nomor telepon resmi menjadi nomor ponsel pribadi mereka guna menjebak calon pembeli yang melakukan pencarian informasi melalui mesin peramban digital.
“Nomor WhatsApp kami diretas melalui layanan Google Maps sehingga muncul nomor telepon yang bukan milik toko kami pada layar pencarian pelanggan. Nomor resmi kami juga kena hack dan berganti pemilik,” ujar pemilik UD Ayu, I Made Widana, saat memberikan keterangan kepada wartawan, Selasa, 20 Januari 2026.
Aksi kriminal ini pertama kali terdeteksi saat seorang pelanggan mendatangi toko di Jalan Tukad Pakerisan, Panjer, Denpasar Selatan itu untuk mengambil pesanan belanjaannya. Korban mengklaim telah melunasi seluruh pembayaran melalui transfer bank ke nomor rekening yang ia peroleh dari kontak WhatsApp palsu. Namun manajemen toko terkejut karena tidak pernah merasa menerima dana masuk ataupun mencatat pesanan atas nama pelanggan yang bersangkutan secara resmi.
“Saya baru menyadari kejadian ini pada 6 Januari saat ada pelanggan komplain karena merasa sudah mengirimkan uang namun barangnya tidak ada,” kata Made Widana menjelaskan awal mula terbongkarnya kasus tersebut.
Peretas mengganti nomor lama toko 081999013485 dengan nomor baru 087761024806 untuk berkomunikasi langsung dengan para korban yang berniat melakukan pemesanan. Nomor 081999013485 ini terkena serangan hacking hingga bisa berganti pemilik.
Para pelaku kemudian memberikan instruksi kepada pelanggan untuk mengirimkan sejumlah uang ke rekening pribadi yang sama sekali bukan milik UD Ayu. Manajemen kini merilis nomor resmi 08124678391 sebagai satu-satunya jalur komunikasi valid demi menghindari jatuhnya korban baru dalam skema penipuan ini.
“Estimasi kerugian total dari para pelanggan sekitar Rp 25 juta. Memang tidak sampai ratusan juta, tapi karena mereka sangat mempercayai reputasi toko kami selama ini, kini nama baik kami yang jadi taruhannya,” tutur Widana yang mengeluhkan tercemarnya nama baik usaha yang ia bangun sejak 2017 lalu tersebut.
Tim hukum korban telah melayangkan laporan resmi kepada Kepolisian Daerah Bali guna mengusut tuntas keterlibatan sindikat peretas akun bisnis tersebut. Pengacara mendesak pihak berwenang segera memutus akses nomor telepon pelaku yang masih aktif menjaring korban di berbagai platform digital hingga saat ini. Langkah hukum ini menjadi sangat krusial mengingat data digital pada Google Maps sangat mudah disunting oleh oknum yang memiliki niat jahat.
“Kami meminta kepada teman-teman Polda terutama unit siber untuk segera memblokir nomor telepon yang digunakan pelaku pada Google Maps maupun WhatsApp,” ujar pengacara Made Widana, Agus Sujoko, saat mendapingi kliennya di kantornya.
Berdasarkan laporan STPL/2500/XII/2025/SPKT/Polda Bali, penyidik siber kini tengah berupaya melacak identitas pemilik nomor rekening penampung yang digunakan oleh pelaku. Identitas rekening yang berbeda-beda memperkuat dugaan bahwa kejahatan ini dilakukan oleh jaringan terorganisasi dengan pembagian peran yang sangat sistematis. Pihak pengacara mengingatkan aparat agar tidak membiarkan kasus ini berlarut-larut karena berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap seluruh ekosistem transaksi daring.
“Laporan polisi ini harus segera ditindaklanjuti dengan cepat supaya tidak ada lagi korban penipuan berikutnya yang mengalami kerugian materiil,” tegas Agus Sujoko.
Widana juga telah mengirimkan surat elektronik kepada kantor pusat Google di Amerika Serikat untuk meminta pemulihan otoritas akun secara permanen. Ia mengimbau sesama pelaku usaha untuk rutin memeriksa informasi bisnis mereka pada aplikasi peta digital agar tidak menjadi sasaran empuk peretas. Kini UD Ayu mewajibkan seluruh pelanggan untuk memverifikasi nomor rekening melalui panggilan video atau melakukan pembayaran setelah barang benar-benar mereka terima.
“Pesan saya kepada pengusaha lain adalah harus selalu berhati-hati dengan akun Google Maps karena profil bisnis kita bisa saja diedit oknum tak bertanggungjawab,” pungkasnya. (BP/CHA).













