HARI-HARI ini kita kembali dipertontonkan bagaimana lemahnya komunikasi publik akhirnya membuat konflik sosial melebar ke banyak arah.
Efeknya mulai terasa, dari menguras energi birokrasi, memecah opini masyarakat, menyeret aktivis, memunculkan laporan hukum, hingga menciptakan ketegangan dalam relasi sosial.
Seorang pejabat di era kekinian tidak hanya dituntut mampu mengambil keputusan yang benar secara administratif, tetapi juga harus bisa menjelaskan arah kebijakannya dengan tenang, terukur, dan selektif dalam memilih diksi.
Ketika hendak menulis catatan ini, saya kembali menemukan jejak pikiran mendiang Harold Dwight Lasswell seorang pakar komunikasi modern.
Lasswell pernah mengingatkan bahwa dalam politik, cara sebuah pesan disampaikan sering kali sama pentingnya dengan isi kebijakan itu sendiri.
Karena itu baginya komunikasi publik bukan sekadar pelengkap kekuasaan, tetapi bagian dari legitimasi kekuasaan.
Sehingga menurut saya, seorang pejabat boleh saja percaya diri dan yakin dengan dasar administratif untuk membenarkan keputusannya.
Namun dalam banyak pengalaman, sebuah keputusan sering kali gagal bukan pada aspek hukumnya, melainkan pada cara kebijakan itu dikomunikasikan kepada publik.
๐๐ผ๐บ๐๐ป๐ถ๐ธ๐ฎ๐๐ถ, ๐๐บ๐ฝ๐ฎ๐๐ถ, ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐๐ฒ๐ฝ๐๐ถ
Di era medsos, persepsi publik sering kali menentukan legitimasi sosial sebuah kebijakan.
Di titik ini muncul gejala menarik, pejabat publik akhirnya dipersoalkan bukan pada substansi kebijakannya, tetapi pada cara ia mengelola komunikasi publik.
Dari sini lahir krisis komunikasi yang membuat seorang pejabat dipersepsikan sebagai sosok yang defensif.
Padahal di sisi lain mungkin saja ia sedang ingin menunjukkan bahwa dirinya bekerja berdasarkan aturan, tidak pandang bulu, dan berani mengambil risiko untuk tidak populer.
Namun persoalannya, persepsi publik sering bergerak berbeda dari maksud pemerintah. Emosi publik di medsos bekerja jauh lebih cepat daripada klarifikasi birokrasi.
Karena itu tidak perlu heran jika satu video, satu tangisan, atau satu potongan pernyataan bisa membentuk opini sosial yang jauh lebih kuat daripada penjelasan hukum yang panjang lebar.
Ketika sebuah kebijakan telah memicu empati publik, maka komunikasi pejabat yang terlalu keras, defensif, atau personal justru sering memperbesar resistensi sosial.
๐ฅ๐๐บ๐ฎ๐ต ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ง๐ฒ๐ฟ๐ด๐๐๐๐ฟ
Ada sebuah catatan ringkas tulisan Patris Allegro yang sempat beredar di WAG. Ia mengingatkan bahwa rumah bagi masyarakat kecil di Timur, termasuk Flores, tidak pernah sekadar bangunan atau objek administrasi.
Rumah adalah tempat anak dibesarkan, doa malam dinaikkan, leluhur dikenang, dan rasa aman dipelihara.
Karena itu setiap penggusuran selalu lebih dalam daripada suara alat berat.
Ia juga mengingatkan bahwa negara modern sering terlalu percaya pada kekuatan dokumen, seolah-olah semua yang legal otomatis bermoral.
Padahal sejarah dunia penuh dengan kekerasan yang sah secara administratif. Di titik inilah komunikasi publik dan ruang dialog menjadi sangat penting.
Sebab ketika rakyat merasa dipindahkan tanpa empati dan tanpa didengar secara manusiawi, maka persoalannya tidak lagi semata administratif, tetapi telah berubah menjadi luka sosial.
Budaya-budaya lokal di Timur sebenarnya sejak lama mengajarkan bahwa persoalan besar idealnya diselesaikan dengan dialog, ruang bicara, dan menjaga martabat semua pihak.
Karena kemenangan yang mempermalukan sesama sering kali hanya melahirkan luka sosial yang panjang.
๐ฃ๐ฒ๐น๐ฎ๐ท๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ป ๐๐ผ๐บ๐๐ป๐ถ๐ธ๐ฎ๐๐ถ ๐ฃ๐๐ฏ๐น๐ถ๐ธ
Dari sini kita bisa belajar dari banyak contoh. Ada pemimpin yang kuat secara administratif, tetapi jatuh karena gagal membaca psikologi publik.
Sebaliknya, ada pula pemimpin yang mampu menjaga stabilitas sosial karena memahami bahwa dalam demokrasi, rakyat tidak hanya ingin dipimpin dengan aturan, tetapi juga ingin dihargai secara emosional.
Karena dalam demokrasi, legitimasi kekuasaan tidak hanya lahir dari aturan, tetapi juga dari kemampuan negara menjaga empati publik.
Sebab pada akhirnya, sebagaimana pesan Allegro, – ๐๐ฒ๐ท๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ต ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐๐ฒ๐ฟ๐น๐ฎ๐น๐ ๐น๐ฎ๐บ๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ถ๐ป๐ด๐ฎ๐ ๐๐ถ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฝ๐ฎ๐น๐ถ๐ป๐ด ๐๐ฒ๐ฟ๐๐ถ๐ฏ ๐บ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐น๐ฎ๐ป๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฝ๐ฟ๐ผ๐๐ฒ๐ฑ๐๐ฟ. ๐ฆ๐ฒ๐ท๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ต ๐ท๐๐๐๐ฟ๐ ๐น๐ฒ๐ฏ๐ถ๐ต ๐น๐ฎ๐บ๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ถ๐ป๐ด๐ฎ๐ ๐๐ถ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐บ๐ฎ๐๐ถ๐ต ๐บ๐ฒ๐บ๐ถ๐น๐ถ๐ธ๐ถ ๐ต๐ฎ๐๐ถ ๐ธ๐ฒ๐๐ถ๐ธ๐ฎ ๐บ๐ฒ๐บ๐ฒ๐ด๐ฎ๐ป๐ด ๐ธ๐๐ฎ๐๐ฎ. *
Akhir Pekan di Bali,
Sabtu, 9 Mei 2026














