DENPASAR, Balipolitika.com– I Putu Thio Mahapradana, mahasiswa semester 4 Program Studi S1 Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana mencuri perhatian publik karena konsisten menorehkan prestasi riset ilmiah hingga jenjang internasional.
Tak main-main, di usia yang masih sangat belia, yakni 20 tahun, total sebanyak 46 pencapaian telah ia raih hingga namanya familiar di kancah perlombaan karya ilmiah.
Tahun lalu, bersama rekannya, Kadek Adika Ananda Aryana, Thio meraih juara 1 Badung Festival Inovasi 2025 jenjang perguruan tinggi berkat inovasi berjudul “Taksu Usada: Transformasi Digital Kearifan Lokal Usada Bali sebagai Upaya Pelestarian Budaya Guna Mendukung Inovasi Layanan Kesehatan Berbasis Etnomedicine”.
Badung Festival Inovasi 2025 diikuti oleh 22 inovator dari Perguruan Tinggi dan Pendidikan Tinggi Vokasi serta 38 inovator dari SMA/SMK di Bali.
Flashback ke tahun 2020, nama I Putu Thio Mahapradana yang berstatus siswa SMP Negeri 10 Denpasar tercatat meraih juara 2 Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Kejaksaan Negeri Denpasar serangkaian Hari Bhakti Adhyaksa ke-60 Tahun 2020.
Dengan kata lain, sejak masa sekolah menengah, Thio aktif meneliti berbagai inovasi kesehatan berbasis potensi lokal Indonesia, sehingga menjadikannya salah satu peneliti muda yang diperhitungkan.
Thio mengaku ketertarikannya pada dunia sains muncul sejak SD, lalu semakin mendalam saat SMP.
“Riset itu menarik karena rasa ingin tahu saya terpenuhi. Bahkan sebelum materi diajarkan di kampus, saya sudah lebih dulu mengetahuinya lewat penelitian,” ungkapnya.
Bagi Thio, penelitian bukan sekadar tugas akademik, melainkan jalan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ilmiah yang muncul dalam benaknya.
Fokus riset Thio banyak berkaitan dengan pemanfaatan potensi lokal Indonesia, seperti eksplorasi kandungan rumput laut coklat yang jarang diteliti.
Menurutnya, kedokteran dan potensi lokal memiliki benang merah yang kuat.
“Indonesia kaya sumber daya, dari laut hingga ladang. Itu semua bisa menjadi novelty dalam dunia riset,” jelasnya.
Menghasilkan banyak penelitian, Thio yakin semua karyanya berpotensi memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Namun, ia juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi peneliti muda Indonesia, yakni keterbatasan alat dan bahan.
“Solusinya adalah menyederhanakan ide riset tanpa mengurangi validitas ilmiah,” tambahnya.
Jika diberi dana penelitian tanpa batas, Thio menyatakan ingin fokus pada riset kanker.
Ia menilai penyakit multifaktorial ini membutuhkan inovasi terapi yang lebih murah dan terjangkau.
“Pengobatan kanker sangat mahal. Dengan dana besar, kita bisa melakukan trial and error, membeli alat, dan mengembangkan metode terapi yang lebih efektif,” ujar penuh harap.
Dalam pandangannya, pemerintah perlu memperkuat pendanaan riset, menyediakan lebih banyak alat penelitian di laboratorium nasional, serta menjaga integritas publikasi ilmiah.
Ia juga menekankan pentingnya mendukung riset di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) agar bakat generasi muda tidak terpendam.
Sebagai pesan penutup, Thio mengajak generasi muda Indonesia untuk berani mengeksplorasi potensi diri dan lingkungan.
“Tekunlah belajar! Jangan takut gagal dan jadikan hambatan sebagai batu loncatan. Dengan integritas dan semangat, kita bisa membanggakan diri sendiri dan bangsa,” tutupnya penuh motivasi. (bp/Ni Putu Indi Padma Pramayanti/4A/Basindo/Undiksha)













