APA yang dapat dilakukan seni ketika tanah tidak lagi menjadi ruang hidup? Apa yang dapat dilakukan seni ketika tanah menjadi komoditas? Pertanyaan inilah yang bergelayut pada pameran “Revolusi Setangkai Jerami” di TAT Art Space, Denpasar, Bali.
Pameran yang digelar dari tanggal 15 November hingga 6 Desember 2025 itu menampilkan karya-karya Andi RHARHARHA dan Dwi S. Wibowo. Mereka merespon hancurnya relasi antara manusia dan tanah dalam lanskap agraria Indonesia hari ini. Pameran ini mengartikulasikan kembali urgensi mempertanyakan siapa sebenarnya yang berdaulat atas tanah yang kita pijak.
Andi RHARHARHA adalah seniman multidisiplin yang bekerja dengan medium seni rupa dan performance art. Ia banyak terlibat dalam gerakan aktivisme di Jakarta dan Bali. Sedangkan Dwi S. Wibowo yang selama ini dikenal sebagai penulis dan kurator, kini justru hadir sebagai seniman.
Revolusi Setangkai Jerami adalah frasa yang dikutip dari buku karya Masanobu Fukuoka, seorang petani eksentrik Jepang yang memelopori gerakan untuk kembali pada pertanian alami. Fukuoka melihat bahwa hubungan antara manusia dengan tanah yang baik akan menghasilkan sumber pangan yang baik pula, sekaligus menjaga keberlangsungan lingkungan hidupnya.
Namun ironisnya, di Indonesia dan Bali khususnya, gagasan “pertanian alami” yang diperjuangkan Fukuoka justru tampak semakin menjauh. Alih fungsi lahan, eksploitasi alam atas nama pariwisata, ketidakadilan struktural, hingga keterlibatan militer dalam program ketahanan pangan menjadi tanda betapa tanah kini berada dalam medan persilangan kekuasaan. Pameran ini menjadi arena kritik yang menubuhkan memori, trauma, dan perlawanan terhadap cara negara dan pasar menguasai ruang hidup.
Bali sering dipromosikan sebagai pulau budaya dan agraris, sebuah narasi yang masih dipertahankan dalam brosur pariwisata. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan ironi yang memiriskan hati. Sistem subak yang ratusan tahun menjadi tulang punggung kehidupan agraris kini menjadi dekorasi bagi villa, kafe, hotel dan resort yang tumbuh menjamur.
Andi RHARHARHA menangkap krisis ini dengan peka dalam karyanya “Monument: The Last Farmers in Bali”. Karya ini menampilkan generasi petani terakhir yang terpinggirkan oleh ekonomi wisata. Dibuat pada karung jerami, material yang menandai kerja dan tubuh petani, karya ini memancarkan kehormatan dan kerapuhan petani.
Andi menyajikan paradoks yang terjadi di Bali. Sawah-sawah yang tersisa berfungsi sebagai “pemandangan gratis” bagi wisatawan, sementara petaninya sendiri bekerja tanpa kepastian ekonomi. Ironisnya lagi, banyak petani kini memakai buruh tani dari Jawa karena generasi muda Bali tidak lagi berminat bertani. Jarak antara tanah dan identitas terbelah di sini. Profesi petani yang dulu menjadi pusat budaya agraris kini berada di ujung tanduk.
Dalam konteks seni rupa, karya ini menjadi dokumentasi visual sekaligus gugatan sosio-politik. Andi mengangkat isu regenerasi petani sebagai peringatan bahwa kehilangan petani berarti kehilangan pengetahuan ekologis yang diemban lewat praktik bertahun-tahun. Ketika subak berganti villa, yang hilang bukan hanya lahan, tetapi juga sistem nilai, ritus, dan cara hidup.
Dalam karya “Bali Fiksi”, Andi menghadirkan instalasi video dan performance art yang merebut kembali realitas visual Bali dari dominasi imajinasi pariwisata. Kincir raksasa di Canggu dijadikan titik pembacaan. Kincir itu berdiri tegak di tengah bekas lahan padi, seolah mengumumkan kemenangan kapital atas agrikultur.
Di sini kita melihat bagaimana ruang agraris direduksi menjadi latar bagi konsumsi visual wisatawan. Bali diciptakan ulang sebagai fiksi turistik; identitas budaya dijadikan “hiasan”, bukan prinsip hidup. Andi menjadikan tubuhnya sebagai medium performatif yang menghadapi kincir itu, sebuah gestur yang menunjukkan ketidakseimbangan relasi antara manusia, tanah, dan modal.
Karya ini membicarakan bagaimana Bali berkembang berdasarkan logika investasi. Ketika alam berubah menjadi properti, maka yang hilang adalah ruang bagi kelangsungan komunitas lokal. Seni dalam konteks ini menjadi medan untuk mengungkapkan keganjilan yang telah dinormalisasi.
Di antara karya-karya Andi, “Not My Hero” adalah yang paling eksplisit secara politis. Melalui foto wheat-paste yang dikubur di bawah sekam, wajah Soeharto menjadi situs ingatan kelam Orde Baru. Karya ini membuat kita berhadapan langsung dengan sejarah kelam Indonesia yang selama ini disapu rapi oleh narasi negara.
Karya ini juga menawarkan refleksi tentang bentuk perlawanan. Keterlibatan pengunjung dalam membuat kebisingan menggunakan perabot bekas adalah metafora tentang bagaimana suara rakyat harus terus mengganggu kenyamanan kekuasaan yang sewenang-wenang. Jika tanah Indonesia pernah dilumuri darah dan represi, maka karya ini mendesak kita untuk tidak melupakan bahwa kekerasan selalu meninggalkan jejak pada tubuh bangsa.
Sementara itu, Dwi S. Wibowo menghadirkan pendekatan konseptual dan simbolik melalui seri instalasi “Food, Land and Memories”. Ia meminjam bahasa politik, properti militer, dan benda sehari-hari untuk menunjukkan hubungan antara pangan, negara, dan memori kekerasan.
Dalam karya instalasi “Vote for Your Future”, Wibowo mensimulasikan pemilu ala Orde Baru yang hanya melibatkan tiga partai. Karya ini menyoroti ironi bahwa rakyat hanya “dianggap ada” saat pemilu, tetapi tidak pernah dilibatkan dalam penentuan kebijakan pangan.
Pengunjung diberi “surat suara” untuk memilih jenis tanaman pangan yang seharusnya ditanam dalam proyek ketahanan pangan nasional. Analogi ini menunjukkan betapa ketahanan pangan adalah isu politik. Wibowo menekankan bahwa kebijakan pangan yang lahir tanpa partisipasi rakyat akan selalu menyisakan ketimpangan, konflik, dan kegagalan ekologis.
Kritik ini sangat relevan dengan konteks Indonesia hari ini. Terutama ketika program Food Estate yang dipromosikan sebagai solusi nasional justru menimbulkan kerusakan hutan, konflik tanah, dan pelanggaran hak masyarakat adat.
Karya Wibowo yang tak kalah ironisnya adalah instalasi “Battle On The Ricefield”. Karya ini menggunakan kotak amunisi bekas produksi PT Pindad yang diisi lumpur, padi, dan genjer. Karya ini memperlihatkan absurditas bahwa militer kini digunakan untuk mengelola lahan pertanian dalam proyek Food Estate.
Keterlibatan militer dalam sektor sipil bukan hanya melanggar prinsip profesionalisme pertahanan, tetapi juga berpotensi menciptakan gesekan dengan masyarakat adat yang memegang hak ulayat. Tanah menjadi arena perang baru antara negara dan warganya sendiri. Lewat karya tersebut, Wibowo menegaskan bahwa ketika tanah pertanian harus ditopang oleh senjata, maka kita sedang berada dalam krisis yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar kekurangan beras.
Instalasi “Ladang Hitam” adalah karya Wibowo yang sangat politis. Helm baja tentara diletakkan bersama beras dan infus yang meneteskan cairan merah. Karya ini mengingatkan kita pada sejarah berdarah 1965–66, ketika ribuan petani dan buruh tani dibunuh atau dihilangkan atas tuduhan simpatisan PKI.
Wibowo mengajak kita mengingat bahwa swasembada beras Orde Baru yang sering dibanggakan itu dibangun di atas tubuh-tubuh yang dikorbankan. Ingatan kolektif tentang kekerasan tersebut tidak bisa dipisahkan dari pembicaraan tentang pangan. Jika tanah adalah ibu pertiwi, maka tubuh para korban adalah bagian dari tanah itu sendiri. Karya ini seolah mengembalikan sejarah ke dalam perut. Bahwa setiap nasi yang kita makan memiliki memori tentang represi, hilangnya hak, dan trauma yang diwariskan lintas generasi.
Begitulah. Pameran “Revolusi Setangkai Jerami” menegaskan bahwa persoalan pertanian bukan hanya tentang produksi pangan. Persoalan pertanian adalah persoalan hak asasi, identitas, dan keberlanjutan ekologis.
Setidaknya ada tiga lapisan kritik yang hendak disampaikan lewat karya-karya dalam pameran ini. Yang pertama, krisis regenerasi petani, terutama di Bali, akibat dominasi pariwisata dan ketimpangan ekonomi. Yang kedua, kebijakan negara yang keliru, khususnya proyek Food Estate yang mengorbankan hutan dan masyarakat adat. Yang ketiga adalah ingatan kekerasan yang belum selesai, yang membayangi relasi antara rakyat, negara, dan tanah sejak masa Orde Baru.
“Revolusi Setangkai Jerami” adalah ruang perlawanan terhadap narasi dominan. Pameran ini mengajak kita merenung dan berpikiran kritis tentang hal-hal yang sering luput dari wacana pembangunan. Andi RHARHARHA dan Dwi S. Wibowo berhasil membawa isu agraria ke dalam ranah estetika tanpa menghilangkan kompleksitas sosialnya.
Pameran ini juga menunjukkan bahwa revolusi tidak selalu lahir dari senjata atau kekuasaan. Revolusi bisa tumbuh dari sebutir padi, setangkai jerami, atau ingatan yang menolak untuk dibungkam. Dalam konteks pertanian di Indonesia yang semakin hancur, karya-karya ini mengingatkan kita bahwa menjaga tanah berarti menjaga masa depan bangsa.***
BIODATA
Wayan Jengki Sunarta, lahir di Denpasar, 22 Juni 1975. Ia menamatkan pendidikan Antropologi Budaya di Fakultas Sastra, Universitas Udayana (1994 – 2000). Ia juga pernah kuliah seni rupa di ISI Denpasar (2002; tidak tamat). Selain dikenal sebagai sastrawan, ia adalah penulis dan kurator seni rupa serta menekuni hobi melukis.













