BADUNG, Balipolitika.com- Dari perselisihan raja ke kawasan elit. Pernahkah Anda menyusuri jalanan ramai di Kerobokan, Badung? Di balik kemewahan vila dan kafe yang hype, ternyata tersimpan sebuah kisah kelam. Nama Kerobokan sendiri bukan sekadar sebutan biasa. Ia berakar dari kata Bali yang berarti perpecahan. Kata itu adalah kerobok yang bermakna pertikaian atau kehancuran.
Tragedi ini terjadi jauh di masa lampau, sekitar abad ke-XVI. Ingin tahu bagaimana sejarah Desa Kerobokan Badung dimulai? Mari kita buka lembaran kisah cinta, cemburu, dan dendam para raja.
Kerajaan Lepang dan Putri Taulan yang Memukau
Kisah ini menceritakan tiga kerajaan kecil yang pernah berdiri berdekatan. Mereka adalah Kerajaan Lepang, Kerajaan Taulan, dan Kerajaan Kelaci. Semua rajanya menyandang gelar kebanggaan I Gusti Ngurah. Raja Lepang dan Raja Kelaci saat itu merupakan raja muda.
Keduanya sedang gencar mencari pendamping hidup untuk mengisi istana. Di kerajaan Taulan, Sang Raja memiliki seorang putri. Putri itu terkenal sangat cantik dan ramah luar biasa. Ia juga menunjukkan sopan santun yang memikat hati.
Tidak mengherankan jika banyak raja di sekitar kawasan Kerobokan tertarik. Mereka semua berminat besar untuk memperistri Sang Putri Taulan. Raja Taulan sempat bingung menentukan pilihan terbaik. Ia butuh waktu yang cukup lama memutuskan.
Cinta, Penculikan, dan Api yang Membakar
Akhirnya Raja Taulan menjatuhkan pilihan kepada Raja Kelaci. Raja Kelaci disetujui menjadi calon suami putrinya. Raja-raja lain yang meminati sang putri tentu saja kecewa. Raja Kerajaan Lepang merasakan kekecewaan yang paling mendalam.
Kekecewaan itu berubah menjadi kemarahan besar. Raja Lepang secara diam-diam masuk Kerajaan Taulan. Ia akhirnya berhasil menculik Sang Putri Taulan yang menjadi rebutan. Berita hilangnya Sang Putri cantik segera tersebar.
Raja Kelaci yang telah resmi dijodohkan menjadi sangat marah. Ia murka kepada calon mertuanya yang dianggap gagal melindungi putrinya. Tanpa pikir panjang, Raja Kelaci langsung membakar hangus Kerajaan Taulan.
Ngerobok: Nama yang Lahir dari Darah
Raja Lepang membalas tindakan penghancuran itu dengan cepat. Ia menyerang balik dan membakar hangus Kerajaan Kelaci. Raja Kelaci pun berbalik menyerang, menghancurkan seluruh Kerajaan Lepang. Dalam waktu yang tidak begitu lama, ketiga kerajaan itu hancur total.
Persada Kerobokan dipenuhi darah yang mengalir di mana-mana. Rakyat yang berhasil menyelamatkan diri terpaksa lari ke desa lain. Sepanjang pelarian itu mereka terpaksa ngerobok atau mengarungi darah. Peristiwa ngerobok mengarungi darah inilah menjadi simbol.
Peristiwa ini diabadikan menjadi nama desa baru. Daerah yang hancur itu selanjutnya dinamai Desa Kerobokan. Nama ini menjadi simbol peringatan atas tragedi pertikaian. Kisah ini dipicu oleh cinta, kekecewaan, dan dendam para raja.
Kisah sejarah Desa Kerobokan Badung ini diceritakan oleh Wayan Primawan. Kisah tersebut termuat dalam kutipan artikel Gamelan Gong Luang. Gamelan itu adalah instrumen tradisional Bali yang terbuat dari perunggu. Cerita Kerobokan ini terus dituturkan turun temurun. Kerobokan telah bertransformasi menjadi kawasan pariwisata maju di Kuta Utara. (BP/CHA).













