BULELENG, Balipolitika.com– Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha).
Tim yang terdiri atas Ari Rapael Cristian Sembiring Milala, Kadek Ivania Putri, dan Nyoman Dhea Nanda Parmitha berhasil meraih medali perunggu (bronze medal) pada ajang National Essay and Business Plan Competition dalam rangkaian National Excellence Competition (NEC) 2026 Chapter Lombok yang diselenggarakan di Universitas Mataram pada 9-10 Mei 2026 lalu.
Kompetisi yang merupakan kolaborasi antara Scalla Education Factory dan Himpunan Mahasiswa Budidaya Hutan (Himasepta) Universitas Mataram tersebut mengusung tema “Integrasi Pemikiran Kritis, Inovasi Sosial, dan Kapabilitas Entrepreneurial Berkelanjutan dalam Kerangka Pembangunan Inklusif dan Pencapaian SDGs di Indonesia.”
Pada kompetisi ini, Tim PBSI Undiksha berhasil meraih medali perunggu dalam kategori esai subtema sosial ekonomi.
Ketua tim, Ari Rapael Cristian Sembiring Milala mengungkapkan bahwa motivasinya mengikuti kompetisi tingkat nasional tidak hanya untuk mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga untuk memperkaya pengalaman dan portofolio.
“Salah satu motivasi saya mengikuti lomba ini adalah untuk menambah CV atau portofolio yang nantinya dapat menjadi nilai tambah ketika mencari pekerjaan setelah lulus,” ujarnya.
Ia juga mengaku terinspirasi oleh teman-temannya yang aktif mengikuti berbagai perlombaan.
“Saya tertarik mengikuti lomba karena melihat banyak teman saya yang aktif berkompetisi dan berhasil meraih prestasi. Hal itu memotivasi saya untuk mencoba dan mengembangkan kemampuan yang saya miliki,” urainya.
Salah satu anggota Tim PBSI Undiksha, Kadek Ivania Putri menjelaskan bahwa keikutsertaan mereka dalam kompetisi ini juga didorong oleh keinginan untuk memperoleh pengalaman baru di luar Bali.
“Saya melihat teman-teman di luar program studi sudah ada yang mengikuti lomba esai tingkat nasional hingga ke luar daerah. Dari situ saya mengajak beberapa rekan untuk mencoba mengikuti lomba di luar Bali. Selain berkompetisi, kami juga bisa mengenal daerah tempat lomba tersebut diselenggarakan,” tuturnya.
Menurut Ivania, dukungan yang diberikan fakultas turut menjadi faktor pendorong bagi mahasiswa untuk terus berprestasi.
“FBS sangat mendukung mahasiswanya untuk mengikuti berbagai perlombaan. Dukungan tersebut membuat kami semakin termotivasi untuk mengikuti lomba tingkat nasional di Universitas Mataram,” tambahnya.
Dalam kompetisi tersebut, Tim PBSI Undiksha mengangkat esai berjudul “Mahasiswa sebagai Arsitek Pembangunan Inklusif: Transformasi Kewirausahaan Sosial Berkelanjutan untuk Mewujudkan Indonesia Tanpa Kemiskinan.”
Melalui gagasan tersebut, mereka berupaya menunjukkan peran mahasiswa sebagai agen perubahan yang tidak hanya mampu berpikir kritis, tetapi juga menciptakan solusi nyata bagi masyarakat.
“Kami percaya mahasiswa tidak hanya mampu berpikir kritis, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang membutuhkan,” jelas Ivania.
Rapael –sapaan akrab Ari Rapael Cristian Sembiring Milala– menambahkan bahwa pemilihan tema esai dilakukan dengan mempertimbangkan relevansinya terhadap isu pembangunan berkelanjutan.
“Tema besar lomba ini berkaitan dengan peran generasi muda dalam menciptakan inovasi untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), sedangkan subtema yang kami pilih adalah bidang ekonomi,” katanya.
Proses penyusunan esai berlangsung cukup panjang. Tim harus melalui berbagai tahapan mulai dari pencarian ide, diskusi, observasi, penyusunan kerangka tulisan, hingga konsultasi dengan dosen pembimbing.
“Menentukan judul saja membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga hari. Setelah itu kami melakukan observasi, menyusun inovasi yang akan ditawarkan, membuat draf esai, berkonsultasi dengan dosen pembimbing, lalu berlatih presentasi dan tanya jawab sebelum berangkat ke Lombok,” ujar Ivania.
Senada, Rapael menekankan pentingnya kerja sama tim selama proses penyusunan karya.
“Langkah pertama yang kami lakukan adalah mencari ide yang sesuai dengan tema. Setelah itu kami menyusun kerangka penulisan, berdiskusi bersama anggota tim, lalu mengembangkan ide tersebut menjadi sebuah esai yang utuh,” sambungnya.
Keberhasilan tim ini juga tidak terlepas dari peran dosen pembimbing, Dr. I Dewa Gede Budi Utama, S.Pd., M.Hum., yang terus memberikan arahan dan motivasi sejak awal persiapan hingga kompetisi berakhir.
“Bapak Dr. I Dewa Gede Budi Utama sangat mendukung kami sejak awal. Beliau membimbing kami dalam penyusunan esai, latihan presentasi, hingga memberikan motivasi sebelum keberangkatan ke Lombok,” kata Ivania.
Menurut Rapael, setelah kompetisi berakhir, dosen pembimbing juga memberikan apresiasi dan dorongan untuk terus berprestasi.
“Beliau mengucapkan selamat dan memberikan motivasi agar kami terus mengikuti kompetisikompetisi tingkat nasional berikutnya,” urainya.
Menghadapi presentasi di hadapan dewan juri tentu menjadi tantangan tersendiri; namun, persiapan yang matang membuat tim mampu tampil dengan percaya diri.
“Rasa gugup tentu ada, tetapi kami mengatasinya dengan memperbanyak latihan. Selama kurang lebih satu bulan kami berlatih presentasi dan tanya jawab sehingga saat hari pelaksanaan kami lebih percaya diri dengan materi yang dibawakan,” ungkap Ivania.
Rapael menambahkan bahwa menjaga ketenangan menjadi kunci utama saat berada di depan juri.
“Cara saya mengatasi rasa gugup adalah dengan tetap tenang dan berpikir positif. Saya percaya bahwa persiapan yang sudah dilakukan bersama tim menjadi bekal yang cukup untuk tampil maksimal.”
Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan ini juga memberikan kesempatan bagi peserta untuk bertemu mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia dan memperluas jaringan pertemanan.
Setelah rangkaian lomba pada 9 Mei 2026, peserta mengikuti kegiatan field trip pada 10 Mei 2026 sebelum kembali ke Bali.
Bagi Ivania, pengalaman tersebut menjadi salah satu manfaat terbesar dari mengikuti kompetisi tingkat nasional.
“Kami bisa bertemu mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia, bertukar pikiran, saling belajar, dan membangun relasi yang bermanfaat,” tandasnya.
Atas pencapaian yang diraih, seluruh anggota tim mengaku merasa bangga dan bersyukur. Meski belum berhasil meraih posisi tertinggi, medali perunggu yang diperoleh menjadi bukti bahwa kerja keras dan kolaborasi mampu menghasilkan prestasi yang membanggakan.
“Kami sangat senang dan bangga. Meskipun belum meraih posisi tertinggi, kami cukup puas karena hasil ini merupakan buah dari proses panjang dan kerja keras yang telah kami lakukan bersama,” tutup Ivania.
Prestasi tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus mengembangkan potensi diri, berani berkompetisi, serta membawa nama baik Universitas Pendidikan Ganesha di tingkat nasional maupun internasional. (bp/I Putu Jehoshua Defta Daniel/4A/PBSI/Undiksha)










