BADUNG, Balipolitika.com- Universitas Dhyana Pura secara konsisten menerapkan kurikulum tujuh karakter unik untuk seluruh mahasiswa sejak awal berdiri. Program khusus ini menjadi landasan utama bagi lembaga dalam upaya memperbaiki kelemahan karakter sumber daya manusia di Indonesia.
Kehadiran tokoh nasional dan daerah dalam berbagai kesempatan turut memperkuat motivasi mahasiswa untuk mendalami nilai-nilai kebangsaan tersebut secara praktis di kampus. Salah satunya, Anggota MPR/DPD RI B-67, Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik, yang menyapa dan mengapresiasi pendidikan karakter tersebut.
Anggota DPD RI Bali Ni Luh Djelantik mendorong penguatan pendidikan karakter pada lembaga pendidikan tinggi sebagai tempat lahirnya calon pemimpin bangsa. Ia memberikan apresiasi tinggi kepada kampus lokal yang mampu bertahan dan berkembang dari nol demi mencerdaskan generasi muda. Kehadiran legislator di ruang kelas bertujuan memberikan motivasi agar mahasiswa memiliki keberanian dalam menyuarakan kebenaran demi masa depan negeri.
“Universitas adalah kawasan terbuka untuk menghasilkan calon pemimpin negeri sehingga kita harus bangga dengan kualitas kampus yang ada di Bali,” ucap Ni Luh Djelantik, Jumat (6/2/2026).
Senator kelahiran Bumi Panji Sakti itu mengaku, pendidikan karakter ini nantinya, akan mampu membawa masa depan Indonesia yang lebih baik. Ia mengaku, tidak hanya di Bali, karena mahasiswa juga banyak berasal dari luar Pulau Bali, maka pendidikan karakter dalam sosialisasi empat pilar ini sangat penting untuk diimplementasikan ketika mahasiswa/mahasiswa menghadapi dunia luar, yang penuh tantangan ke depan.
Ni Luh Djelantik, juga mengkritik keras kinerja pemerintah daerah terkait minimnya realisasi fasilitas publik yang layak bagi warga. Ia menilai pejabat daerah sering mengabaikan implementasi undang-undang yang sudah mengatur standar kenyamanan infrastruktur dasar secara jelas. Senator perempuan ini menegaskan bahwa rakyat sudah bosan dengan janji politik tanpa adanya bukti fisik nyata pada lingkungan sekitar mereka.
“Kami bersuara setiap detik dari Senayan untuk memastikan aspirasi masyarakat Bali tidak hanya menjadi tumpukan berkas undang-undang yang usang,” ujarnya.
Luh Djelantik menyoroti ketimpangan antara aturan dalam buku undang-undang dengan kondisi infrastruktur pada sejumlah wilayah di Provinsi Bali. Banyak jalan raya utama masih minim penerangan serta tidak memiliki akses trotoar yang ramah bagi para pejalan kaki. Masalah tata kelola sampah dan drainase yang buruk juga menjadi catatan merah dalam fungsi pengawasan lembaga legislatif daerah.
“Kita sudah tahu fasilitas jalan itu harus aman namun pada praktiknya standar kenyamanan tersebut sering kali tidak terjadi di lapangan,” katanya dengan nada tegas.
Pemerintah daerah dianggap gagal memberikan pertanggungjawaban yang transparan atas penggunaan anggaran triliunan rupiah yang berasal dari pajak rakyat. Ni Luh Djelantik mengingatkan bahwa kepala daerah tidak boleh bekerja seenak hati karena mereka dipilih langsung oleh mandat sah rakyat. Ia menuntut adanya alokasi anggaran yang lebih berpihak pada sektor mendasar seperti pertanian, nelayan, dan pelaku UMKM lokal.
“Anggaran itu mereka yang pegang sehingga pemerintah harus paham bahwa mereka bekerja sepenuhnya untuk mengabdi kepada kepentingan seluruh masyarakat,” tuturnya kembali.
Sementara itu, Ketua Yayasan Universitas Dhyana Pura, Dr. dr. I Made Nyandra mengatakan, manajemen kampus meyakini bahwa pendidikan karakter tidak boleh berhenti pada tataran teori akademik semata di dalam ruang kelas. Pihak universitas menyediakan hari khusus tanpa kegiatan perkuliahan formal guna memfokuskan seluruh mahasiswa pada pengembangan diri. Langkah berani ini bertujuan agar lulusan mampu menjadi individu yang memiliki integritas tinggi saat mulai terjun ke lingkungan masyarakat luas.
“Pendidikan karakter tersebut harus dilakukan secara nyata dan tidak hanya menjadi teori dalam buku pelajaran sekolah saja,” kata I Made Nyandra.
Penerapan kurikulum karakter ini mengacu pada empat pilar pendidikan utama yang telah ditetapkan oleh lembaga internasional dunia yaitu UNESCO. Mahasiswa belajar tentang cara mengetahui, cara melakukan, cara menjadi diri sendiri, serta cara hidup berdampingan dengan orang lain. Integrasi empat pilar tersebut diharapkan mampu menciptakan suasana kehidupan bermasyarakat yang jauh lebih aman, tenang, dan juga damai bagi bangsa.
“Jika empat pilar pendidikan ini bisa kita ajarkan di sekolah, maka kita akan merasa sangat tenang dalam bermasyarakat,” ucapnya.
Setiap hari Rabu, pihak kampus meniadakan jadwal kuliah akademik rutin bagi sekitar tiga ribu mahasiswa aktif dari berbagai jurusan. Sebagai gantinya, sebanyak 55 instruktur karakter yang telah terlatih khusus memberikan pelatihan intensif secara langsung di dalam kelas. Program ini berada di bawah koordinasi tim instruktur profesional untuk menjamin kualitas materi yang diterima oleh seluruh peserta didik.
“Instruktur karakter tersebut melatih mahasiswa setiap hari Rabu di kelas masing-masing tanpa adanya jadwal kuliah akademik rutin,” tutur Nyandra.
Proses pengembangan kemampuan praktis mahasiswa juga diperkuat melalui penyelenggaraan pekan kreativitas yang diadakan pada setiap tengah semester berjalan. Pihak yayasan sering mengundang para pengusaha sukses maupun alumni yang telah berhasil untuk memberikan inspirasi serta motivasi tambahan. Kolaborasi antara teori karakter dan pengalaman nyata dari para praktisi ini menjadi kunci keberhasilan transformasi mental mahasiswa di perguruan tinggi.
“Hasil akhir dari proses panjang ini akan terlihat setelah mahasiswa tamat dan menjadi sosok yang berkarakter kuat,” ujarnya mengakhiri pembicaraan. (BP/CHA).












