MALAM INI, di sebuah ruang yang disulap menjadi laboratorium batin dan nalar, saya duduk di antara para pecinta seni dalam acara serial ngaji budaya bertema bedah lagu religi karya Dhalang Poer. Diselenggarakan oleh Komunitas Sedhapoer Madiun, Lesbumi Madiun, dan Lesbumi Ponorogo, forum ini berlangsung di Sanggar Jatiswara pada Jumat, 12 Desember 2025, sejak pukul 19.00 hingga menjelang larut malam. Saya datang dengan niat sederhana: hanya ingin menonton, menikmati acara tanpa harus naik ke panggung. Namun seperti biasanya, hidup tidak selalu tunduk pada rencana. Nama saya dipanggil, saya diminta ikut urun gagasan, dan saya pun melangkah ke depan.
Saya datang bersama Bagus Yan, seorang bassist asal Madiun dengan jam terbang panjang dalam dunia aransemenn musik. Ia membisikkan sesuatu ketika di sela-sela Dhalang Poer menyanyikan lagu: bahwa lagu-lagu Dhalang Poer ternyata jauh lebih kaya daripada dugaan awalnya. Setelah mendengar sang dalang menyanyi langsung malam ini, ia merasakan kedalaman makna, filosofi Jawa yang kental, dan kontemplasi tentang hidup serta pencarian kesejatian diri. Saya pun merasakan hal serupa, bahkan lebih intens. Sebelum saya mengenal Dhalang Poer secara dekat, saya hanya tahu dia sebagai pencipta lagu Kosro, atau pencipta lagu-lagu Jawa berbahasa kasar seperti Kudu Misuh atau Gang Dolly. Lagu-lagu yang saya hafal nadanya namun tak hafal seluruh judulnya. Namun malam ini, persepsi itu runtuh. Di hadapan saya berdiri seorang seniman yang nyaris seperti begawan; seorang filsuf musik yang menggubah lagu-lagu dengan ketajaman batin luar biasa.
Diskusi malam ini terasa seperti kuliah filsafat yang sesungguhnya: rumit, dalam, namun penuh kejernihan. Menariknya, forum ini tidak tenggelam dalam keseriusan yang kaku, sebab Dhalang Poer sendiri menyelipkan lagu-lagu yang ia nyanyikan langsung, membangun jembatan antara wacana kritis dan kegembiraan musikal. Anak-anak muda yang hadir pun ikut bernyanyi dan larut dalam suasana yang luwes tetapi tetap bernas.
Ahmad Rosyidin, pemilik Sanggar Jatiswara sekaligus penggagas acara ini, mengatakan bahwa mengundang Dhalang Poer adalah pilihan yang tepat. Selain sebagai musisi, ia memiliki sisi kontemplatif yang kuat; lagu-lagunya tajam mengangkat isu sosial, meresapi batin manusia, hingga menyentuh ranah spiritual. Disitulah letak nilai pentingnya: lagu-lagu Dhalang Poer bukan sekadar hiburan, melainkan wahana untuk mengkaji diri. Sementara Yos Ponco, seorang seniman perupa asli Madiun yang turut hadir, memberikan pernyataan yang mendukung atmosfer acara malam ini. Ia mengatakan bahwa forum seperti ini adalah ruang langka yang menghadirkan seni bukan hanya sebagai tontonan, tetapi sebagai tuntunan; ruang di mana masyarakat dapat membaca ulang persoalan hidup melalui simbol-simbol musikal dan narasi budaya yang selama ini mungkin terabaikan.
Pada tulisan ini, saya mencoba untuk memaknai lagu-lagu yang dibawakan Dhalang Poer dari sudut pandang filosofis. Salah satu lagu yang dibedah malam ini berjudul “Durung Karuan”. Lagu berbahasa Jawa ini, ketika diterjemahkan dan direnungkan, membawa kita pada sebuah kesadaran yang tak terhindarkan: bahwa manusia sering kali terlalu cepat menilai, terlalu tergesa menghakimi, seolah sedang menonton lakon yang sudah selesai. Padahal hidup adalah cerita yang belum rampung. Dhalang Poer menulis, belum tentu orang kaya hidupnya tenteram jika batinnya belum bersyukur. Belum tentu orang miskin amalnya besar jika batinnya masih penuh keluh kesah. Belum tentu orang pintar mulia derajatnya jika ilmunya tak diamalkan. Belum tentu orang yang rajin merapal dzikir menemukan cahaya sejati jika batinnya masih didominasi rasa memiliki berlebih. Belum tentu orang ahli ibadah mendapat kemurnian iman jika hatinya masih tertutup oleh dunia.
Dari sini saya melihat bahwa lagu Durung Karuan adalah kritik lembut bagi kita semua. Kritik terhadap watak manusia modern yang terburu-buru melakukan penilaian, seakan-akan apa yang tampak adalah kebenaran mutlak. Padahal Dhalang Poer mengingatkan: manusia bukan iblis, bukan pula malaikat; manusia berada di antara keduanya, dan perjalanan panjangnya ditentukan oleh kemampuan untuk memohon ampun, untuk merendah, dan untuk memperbaiki diri. Ia menulis bahwa tidak ada jaminan bahwa seseorang yang tersesat akan sesat selamanya; begitu pula tidak ada jaminan bahwa seseorang yang benar akan benar terus-menerus. Di akhir hiduplah cerita manusia ditutup. Sebagaimana ia katakan, kita ini hanya hamba yang menjalani hidup, pasrah pada takdir, dan tidak akan pernah benar-benar mencapai kebahagiaan jika keinginan kita tidak dibatasi. Pernyataan ini mengingatkan saya pada ucapan Søren Kierkegaard: manusia adalah makhluk yang diikat oleh kemungkinan. Kemungkinan itulah yang membuatnya cemas sekaligus terus bertumbuh.
Lagu kedua berjudul Kae memberikan kesan spiritual yang lebih eksplisit. “Kae”, jagade gumelar; dunia ini sudah dibentangkan. Kitab diturunkan, rasul diutus, sabda dijelaskan. Ibadah ditegakkan, maknanya dirasakan, dzikir merasuk ke dalam jiwa dan menyempurnakan iman. Lagu ini seperti pengingat yang lembut namun tegas bahwa seluruh perangkat spiritual sebenarnya telah tersedia. Yang dibutuhkan manusia hanyalah kesediaan untuk memahami, menghayati, dan menjadikan spiritualitas sebagai pusat kehidupan. Ketika saya mendengarkan lagu ini, saya teringat gagasan Plato tentang mimesis: bahwa seni adalah cermin dari realitas yang lebih tinggi. Saya menemukan pula Aristoteles yang berbicara tentang katarsis dalam tragedi, bagaimana seni membebaskan kita dari beban emosional dan membawa jiwa pada keseimbangan baru. Saya mengingat Immanuel Kant dengan estetika modernnya, bahwa pengalaman seni mampu menggerakkan fakultas-fakultas dalam diri manusia. Bahkan saya melihat jejak Arthur Schopenhauer: seni sebagai jeda dari penderitaan dunia, sebagai ruang di mana manusia dapat melihat hakikat terdalam realitas.
Dalam konteks itu, lagu-lagu Dhalang Poer tidak berbeda dari teks-teks besar dalam tradisi filsafat. Ia menawarkan pertanyaan-pertanyaan yang jauh lebih penting daripada jawaban-jawaban yang mudah. Ia menantang kita untuk menunda penghakiman, menunda kesombongan, dan berhenti menganggap diri paling benar. Pada titik tertentu, ia juga mengkritik dunia yang kini penuh dengan kebisingan moral: orang saling menyalahkan tanpa bercermin, orang saling menunjuk tanpa menengok ke dalam diri. Kritik ini relevan dalam konteks isu kontemporer di mana masyarakat sering terjebak dalam polarisasi. Friedrich Nietzsche pernah mengatakan bahwa manusia sering kali lebih senang menghakimi moral orang lain daripada menata kehendaknya sendiri. Dalam lagu Dhalang Poer, kritik itu hadir bukan sebagai serangan, tetapi sebagai cermin.
Malam ini, saya pulang dengan sebuah kesadaran baru. Ternyata seni, terutama musik yang lahir dari jiwa yang jernih, dapat menjadi jalan sunyi menuju pencerahan. Lagu-lagu Dhalang Poer bukan sekedar karya seni, melainkan ajakan untuk memaknai ulang hidup. Pertanyaannya: apakah kita sendiri sudah berani membaca hidup kita seperti membaca lagu-lagu itu? Apakah kita cukup jujur untuk mengakui bahwa kita masih sering tergesa menghakimi, masih sombong, masih lalai, masih menutup diri dari makna-makna yang telah Tuhan bentangkan?
Jika hidup adalah pertunjukan yang belum selesai, maka bukankah kita sebaiknya memperbaiki naskah lakon kita masing-masing, sebelum tirai benar-benar ditutup?
Fileski Walidha Tanjung adalah penulis dan pendidik kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis esai, puisi, dan cerpen di berbagai media nasional. Mengajar seni budaya dan aktif berkesenian di Madiun. (bp/ken)













