DENPASAR, Balipolitika.com– Acara bertajuk “Teras Dialog, Kredibilitas Konten di Media Sosial” digelar di Rumah Sinergi, Jalan Tukad Musi I Nomor 5, Renon, Denpasar, Kamis, 18 Desember 2025.
Membahas isu-isu hot terkini, diskusi yang diprakarsai Ikatan Keluarga Besar (IKB) Flobamora Bali tersebut antara lain dihadiri insan media, Forum Komunikasi Paguyuban Etnis Nusantara (FKPEN) Bali, termasuk perwakilan dari Direktorat Intelkam Polda Bali.
Ditemui seusai acara, Yosep Yulius Diaz, Ketua Umum Rumah Besar Flobamora Indonesia (RBFI) masa bakti 2024-2029 bersama Dewan Pembina Flobamora Bali, Ardy Ganggas menjawab foto viral keduanya yang “digoreng” di media sosial alias medsos.
“Bagi teman-teman yang sudah mengenal kami, tentu tidak melihat narasi-narasi dari foto-foto itu saja. Bahwasanya hari itu, kami berdua datang sebagai sesama dewan pembina dari Flobamora Bali. Karena kami melihat tensinya pada saat itu, kami harus turun. Sebelumnya ada kasus Jimbaran langsung ada kasus “kenakalan” atau “ulah tidak sopan” di jalan raya yang bisa memicu antipati publik kepada pendatang, khususnya pendatang dari NTT,” ungkap Yosep Yulius Diaz atau yang akrab disapa Yusdi Diaz.
Terangnya, saat itu, Flobamora Bali langsung menginstruksikan kepada tim untuk menemukan Yulius Moruk untuk diamankan dan diserahkan kepada polisi; syukur aparat kepolisian lebih dahulu menemukan yang bersangkutan.
“Kami datang berdua untuk memberikan penegasan dan dukungan kuat kepada polisi untuk memberikan pembinaan,” tegas Yusdi Diaz yang lahir dan lebih dari 60 tahun menetap di Bali.
Senada, Dewan Pembina Flobamora Bali, Ardy Ganggas yang 42 tahun menetap di Pulau Dewata dan saat ini dipercaya sebagai Staf Ahli Wali Kota Denpasar Bidang Kebencanaan menegaskan bahwa kehadirannya di kantor polisi merupakan dukungan kepada aparat untuk menindak Yulius Moruk.
“Kami bahkan bilang jangan sungkan-sungkan untuk mencari delik (hukuman, red) yang memberatkan untuk memberikan efek jera. Kami memberikan dukungan full kepada polisi. Kami datang selaku orang yang paling tua di Flobamora.
Harus diketahui publik luas, Ardy Ganggas menekankan bahwa dirinya bersama Yusdi Diaz meminta Yulius Moruk untuk sesegera mungkin hengkang dari Bali.
“Kepada yang bersangkutan (Yulius Moruk, red) saya bilang kamu harus segera hengkang dari Bali karena perbuatan kamu sudah mencemarkan warga Flobamora, diaspora NTT yang ada di Bali,” tegas mantan atlet nasional yang berulang kali mengharumkan nama Bali dari cabang olahraga karate itu.
Merespons santai “pelintiran” di medsos saat keduanya datang ke kantor polisi, Yusdi Diaz menyebut hal tersebut sebagai “kreativitas” tak bertanggung jawab si pembuat konten.
“Kami tidak paham pola pikirnya seperti apa. Sekurang-kurangnya harusnya bisa ditanya ke polisi apa yang kami perbuat (di kantor polisi, red). Sebenarnya Om Ardy ini sedang meredam “bencana sosial”,” tegas Yusdi Diaz yang langsung dibenarkan Ardy Ganggas.
“Benar, kehadiran kami ke sana dalam rangka meredam terjadinya “bencana sosial” karena diketahui bersama akhir-akhir ini muncul di permukaan tekanan begitu tinggi berkaitan dengan SARA, suku, agama, dan ras. Itu yang muncul. Makanya kehadiran kami berdua ini untuk menekan sehingga tidak terjadi “bencana sosial”. Intinya sebenarnya demikian. Tetapi rupanya itu digoreng oleh oknum-oknum yang tak bertanggung jawab. Tapi, terus terang saja integritas kami berdua, masyarakat Bali sudah cukup tahu. Kami berdua pun sejatinya tidak mau merespons hal ini. Kami tegas, kami hadir di sana untuk memberikan dukungan kepada pihak kepolisian untuk memberikan tindakan tegas sekeras-kerasnya,” tutup Ardy Ganggas.
Menyikapi lalu lintas informasi di media sosial yang kerap kali membuat gaduh dan kontra produktif, Yusdi Diaz menilai literasi tentang media sosial kembali perlu digaungkan sekaligus digalakkan.
“Agar kita paham mana konten yang hanya mengejar keuntungan semata dari konten kreatornya atau mana yang benar-benar berita. Memang saat ini banyak berita yang berasal dari citizen journalism atau jurnalisme warga. Ini penting diketahui karena media mainstream tidak sepenuhnya bisa menjangkau informasi dengan cepat,” ujarnya.
Meski demikian, Yusdi Diaz mengajak semua pihak untuk lebih selektif menerima informasi dan lebih mengedepankan media mainstream yang sudah terbukti menjadi penjaga arah sekaligus “clearing house” yang “membersihkan” berita-berita hoaks.
“Kalau kita ingin mengetahui apakah informasi ini benar, kredibel, atau bisa dipertanggungjawabkan ya kita harus merujuk kepada media-media mainstream karena sudah mengikuti kaidah-kaidah jurnalisme baku. Sudah ada check and recheck, cover both side, memang agak lambat, tapi lebih valid,” pesan Yusdi Diaz sembari mengimbau agar seluruh warga NTT yang ada di Bali segera mendaftarkan diri di IKB Flobamora Bali. (bp/ken)













