BADUNG, Balipolitika.com- Ekspedisi arya tan kaur. Setiap desa pasti menyimpan latar belakang sejarah di baliknya. Hal ini menjadi alasan nama desa tersebut dipilih dan dipakai. Untuk mengungkap sejarah Desa Abiansemal tidaklah mudah. Sumber pendukung tertulis dan tak tertulis sangat langka. Penulisan ini memadukan sumber tertulis dan informasi tepercaya.
Sejarah Desa Abiansemal sudah ada sejak abad ke-14. Periode ini sejajar dengan zaman Majapahit di Jawa Timur. Juga sejajar dengan zaman Dalem Ketut Ngulesir di Bali. Patih Gajah Mada menguasai Pulau Bali tahun 1343. Ia mengirim ekspedisinya yang dipimpin Arya Tan Kaur. Ini perwujudan dari Sumpah Palapa Gajah Mada yang terkenal.
Kata Abiansemal ditinjau dari arti kata. Abiansemal terdiri dari dua kata, yaitu Abian dan Mal. Abian berarti tanaman dalam bahasa Bali. Mal berarti tanah yang sangat subur. Abianmal kemudian berubah menjadi Abiansemal. Artinya tanaman yang tumbuh di tanah subur.
Bukti kesuburan tanahnya dapat dilihat jelas. Beberapa Banjar di Abiansemal memakai nama buah-buahan. Contohnya adalah Banjar Juwet dan Banjar Aseman. Kata Abiansemal kini menjadi nama desa sekaligus kecamatan.
Lelatu: Bunga Api yang Menjadi Nama Subak
Abiansemal berada di wilayah kekuasaan Raja Mengwi. Ini terjadi pada abad ke-17 di sana. Raja Mengwi mengutus keluarga Kaba-kaba ke Abiansemal. Mereka melewati Desa Sibang dan Desa Mambal. Karena kemalaman, mereka memakai penerangan darurat. Penerangan itu berasal dari daun kelapa kering (Api Prakpak).
Setelah melewati Sungai Ayung dan Jembatan Mambal. Api penerangan itu makin suram dan akhirnya padam. Yang tersisa hanyalah bunga-bunga api yang berserakan. Bunga api itu disebut lelatu dalam bahasa Bali. Lelatu jatuh berserakan di areal persawahan selatan desa. Tempat itu dinamakan Latu sesuai namanya. Areal persawahan itu kini bernama Subak Latu. Rombongan kemudian menetap di Banjar Aseman. Sejak saat itu, Abiansemal masuk wilayah Kerajaan Mengwi.
Penguasa Tunggal dan Perjuangan Pahlawan
Abiansemal berkembang dan kuat dari tahun ke tahun. Mereka membangun Pura Kahyangan Tiga untuk persatuan. Pura Desa, Pura Puseh, dan Pura Dalem didirikan. Putra Raja Mengwi dinobatkan menjadi penguasa tunggal. Gelarnya Cokorda Abiansemal, dinobatkan tahun 1903.
Setelah Belanda menguasai wilayah Abiansemal. Belanda mengangkat Cokorda Abiansemal sebagai Punggawa. Wilayahnya meliputi tiga kedistrikan dan satu kemancaan. Wilayah itu Distrik Abiansemal, Blahkiuh, dan Sibang. Juga termasuk Kemancaan Angantaka yang luas.
Tahun 1911, Belanda melebur sistem pemerintahan. Tiga Distrik dijadikan satu Distrik Abiansemal. Wilayahnya diperluas meliputi Sedang dan Jagapati. Distrik itu kini menjadi Kecamatan Abiansemal. Pusatnya berkedudukan di Blahkiuh sampai kini.
Penindasan penjajah Jepang membuat rakyat menderita. Sistem kerja paksa atau Ayah Rodi diberlakukan. Setelah Proklamasi, penderitaan berlanjut. Pemerintah Nica menindas rakyat dengan kejam. Pemuda Abiansemal berjiwa patriotisme tinggi. Mereka gigih mengadakan perlawanan dengan pengorbanan besar.
Pada 28 Juni 1948 terjadi pembantaian kejam. Pemerintah Belanda menembak sejumlah tokoh pejuang. Tiga belas orang pemuda pejuang disiksa Belanda. Mereka ditembak secara massal di depan masyarakat. Tempat penembakan itu diabadikan menjadi Tugu Pahlawan.
Penyatuan Wilayah
Tahun 1958, wilayah Desa Abiansemal mengalami perubahan. Desa Gerih digabungkan ke wilayah Desa Abiansemal. Penggabungan ini didasarkan pada dua hal utama. Jumlah penduduk pada waktu itu belum memadai. Pendapatan desa dirasakan sangat minim. Kedua desa tersebut digabung menjadi satu Desa Dinas. Desa gabungan ini diberi nama Desa Abiansemal. (BP/CHA).
Sumber artikel: https://desaabiansemal.wordpress.com













