BALI, Balipolitika.com – Sebelum Galungan, umat Hindu mengenal Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Namun banyak yang salah paham, mengira Sugihan Jawa untuk orang Hindu luar Bali dan Sugihan Bali untuk umat Hindu di Bali.
Lalu apa makna dari kedua Sugihan ini. Hari suci Sugihan Jawa dan Sugihan Bali, oleh umat Hindu sebagai hari suci yang sangat tepat untuk melaksanakan ritual dalam rangka penyucian atau pebersihan bhuana agung, alam semesta (makrokosmos).
Serta penyucian alam manusia sendiri atau bhuana alit (mikrokosmos). Pembersihan atau penyucian bhuana agung dengan cara membersihkan alam dari sampah-sampah, menjaga kelestarian alam dan juga membersihkan palinggih, tempat persembahyangan sehingga tampak bersih dalam rangka akan menghaturkan sesaji.
Pada saat itu, juga datangnya hari besar kemenangan dharma pada hari suci Galungan. Hari suci Sugihan Bali untuk membersihkan bhuwana alit alam manusia itu sendiri atau mikrokosmos. Sehingga tumbuh kesucian lahir dan batin.
Secara filosofi, menurut lontar Sundarigama bahwa kata ‘Sugihan‘ dari kata Sugi yang artinya penyucian atau pembersihan dan mendapat sufiks – an artinya membuat jadi. Yang berarti membuat jadi bersih atau suci, baik bhuwana agung, maupun bhuana alitnya.
Kata Jawa, pada Sugihan Jawa beranalogi dengan jaba yang artinya luar yaitu alam semesta. Kata Bali berarti kembali ke dalam diri sendiri alam manusia itu sendiri.
Sehubungan dengan itu, kedua alam ini harus melalui proses pembersihan. Pembersihan alam manusia dengan penyucian semisal prosesi malukat pada air campuhan, mata air, mandi di pantai atau malukat dengan kelungah nyuh gading.
“Dan yang tidak kalah pentingnya membersihkan hal-hal negatif dalam pikiran, dengan jalan menerapkan ajaran kebenaran (ajaran agama),” tegasnya. Hal seperti ini akan mewujudkan kesucian lahir batin para umat Hindu sendiri.
Di samping itu, bahwa kedua hari suci ini jangan sampai salah mengartikan. Misalnya Sugihan Jawa adalah hari suci umat Hindu yang berasal dari Jawa. Sugihan Bali adalah hari sucinya umat Hindu asli Bali.
Sedangkan yang benar bahwa kedua hari suci Sugihan ini harus terlaksana oleh umat Hindu di manapun, karena berkaitan dengan dualitas dalam kehidupan umat manusia, yaitu makrokosmos dan mikrokosmos.
Dengan pembersihan kedua alam ini, maka akan berimplikasi pada pencapaian kemenangan dharma melawan adharma pada puncak hari suci Galungan.
Menurut keyakinan umat Hindu, bahwa kemenangan dharma akan terwujud jika para umat Hindu melaksanakan penyucian diri dan penerapan ajaran kebenaran dengan konsisten.
Sehingga akan mewujudkan kebersihan lahir dan batin, serta ini juga akan berpengaruh terhadap kebersihan alam semesta sehingga terwujudlah keharmonisan, ketenteraman dan kesejahteraan hidup.
Kesimpulannya, bahwa hari Suci Sugihan Jawa dan Sugihan Bali, adalah wujud umat Hindu untuk pembersihan bhuwana agung dan bhuana alit. Dan kedua hari suci ini wajib untuk mencapai keseimbangan alam semesta dan alam manusia itu sendiri.
Sehingga memunculkan apa yang sesuai dengan tujuan hidup umat Hindu. Yakni Mokshartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma mencapai kebahagian lahir dan batin. Baik di atas dunia maupun di akhirat berdasarkan kebenaran. (BP/OKA)













