JAKARTA, Balipolitika.com- Analisis terbaru mengungkap adanya lobi intensif dari Arab Saudi dan Israel di balik serangan Amerika Serikat ke wilayah Iran. Kekuatan besar dari Timur Tengah tersebut diduga kuat membujuk Donald Trump agar segera menghancurkan kekuatan militer Teheran secara total. Langkah provokatif ini memicu kekhawatiran global karena dapat menyeret dunia ke dalam jurang krisis energi yang sangat mengerikan.
“Serangan Amerika Serikat ke Iran itu ternyata ada aktor di belakangnya yakni lobi kuat dari Israel dan Arab Saudi,” ujar pengamat ekonomi Bennix melalui saluran YouTube resminya, Minggu, 8 Maret 2026.
Aksi militer bertajuk Operasi Epic Fury tersebut telah menelan biaya operasional yang sangat fantastis bagi kas negara Amerika Serikat. Dalam empat hari pertama saja pemerintah Washington diperkirakan menghabiskan anggaran hingga 3.500 triliun rupiah lebih. Beban finansial ini semakin memperparah kondisi utang nasional Amerika Serikat yang saat ini sudah menembus angka tiga puluh enam triliun dolar.
“Amerika Serikat saat ini sudah berada di pusaran hutang yang sedemikian kompleks dan dalam akibat membiayai peperangan,” kata Bennix.
Rakyat Amerika Serikat menunjukkan sikap menolak keras terhadap keterlibatan militer negaranya yang tidak memberikan keuntungan ekonomi secara langsung. Mereka harus menanggung beban pajak tinggi demi mendanai operasional kapal induk serta penggunaan rudal tomahawk yang sangat mahal. Donald Trump terus mengganti alasan penyerangan mulai dari ancaman nuklir hingga dalih penegakan demokrasi guna meredam kritik publik.
“Mayoritas rakyat Amerika Serikat sebetulnya tidak setuju dengan peperangan ini karena mereka merasa sedang mengalami kesulitan ekonomi,” tutur Bennix.
Konflik bersenjata ini secara langsung memutus jalur distribusi minyak utama dari Iran menuju pasar besar di negara Tiongkok. Penutupan Selat Hormus memaksa pemerintah Beijing untuk mengalihkan seluruh pesanan minyak mentah mereka menuju pelabuhan milik Arab Saudi. Hal ini menyebabkan lonjakan ekspor minyak Arab Saudi hingga mencapai satu koma delapan juta barel per hari pada Maret ini.
“Begitu Selat Hormus terganggu maka Tiongkok terpaksa belanja minyak ke Arab Saudi sehingga minyak mereka laku keras,” jelas Bennix.
Peralihan pesanan minyak dalam volume besar ini memberikan keuntungan finansial yang sangat melimpah bagi pihak kerajaan Arab Saudi. Harga energi dunia yang terus melambung tinggi membuat pendapatan ekstra dari sektor migas mereka melonjak hingga ribuan triliun rupiah. Skema ini diduga kuat menjadi motivasi utama di balik lobi rahasia untuk menyingkirkan Iran dari peta persaingan energi global.
“Arab Saudi secara diam-diam melobi Donald Trump untuk menyerang Iran agar pesanan minyak dunia berpindah ke tangan mereka,” tegas Bennix.
Indonesia juga berpotensi menghadapi dampak buruk berupa ketidakstabilan ekonomi domestik akibat permainan kekuatan segitiga iblis di Timur Tengah. Lonjakan harga komoditas energi akan membebani anggaran pendapatan belanja negara serta menurunkan daya beli masyarakat secara signifikan di lapangan. Masyarakat internasional kini menunggu langkah diplomasi nyata guna menghentikan bisnis darah yang hanya menguntungkan sekelompok elit pemegang modal.
“Indonesia juga akan terganggu oleh ketidakstabilan ekonomi akibat ulah segitiga iblis antara Israel, Arab Saudi, dan Amerika,” pungkas Bennix. (BP/CHA).











