BALI, Balipolitika.com – Cuaca ekstrem angin kencang dan gelombang tinggi, menerjang wilayah selatan Bali masih akan berlanjut hingga beberapa pekan ke depan, seiring memasuki puncak musim angin pada Juli hingga Agustus 2026.
Kondisi tersebut memicu gelombang tinggi di perairan Selat Bali bagian selatan, sehingga memaksa otoritas pelayaran beberapa kali memberlakukan skema buka-tutup pelabuhan demi keselamatan pelayaran.
Penundaan operasional secara berkala ini pun, berdampak pada penumpukan dan antrean kendaraan di kawasan Pelabuhan Gilimanuk. Staf Analis Stasiun Klimatologi BMKG Bali, Trayi Budi Samantu menjelaskan, bahwa fenomena ini merupakan siklus cuaca tahunan.
Memasuki Juli hingga Agustus 2026, kecepatan angin mencapai puncaknya bersamaan dengan puncak musim kemarau. ”Memang sudah musimnya. Juli dan Agustus merupakan puncak angin, beriringan dengan puncak musim kemarau. Kondisi seperti ini juga terjadi pada tahun-tahun sebelumnya,” terangnya.
Menurut Budi, Ketinggian gelombang di Selat Bali saat ini masih berpotensi mencapai 2 hingga 3,5 meter. Bahkan, pada Agustus 2026 mendatang, tinggi gelombang bisa lebih ekstrem dari akhir Juli. ”Potensi gelombang tinggi masih akan berlangsung sampai Agustus. Puncaknya perkiraan terjadi pada Agustus dengan tinggi gelombang yang bisa lebih besar daripada saat ini,” jelasnya.
Budi menambahkan, kondisi perairan umumnya relatif tenang pada dini hari hingga menjelang pagi Wita. Namun, memasuki siang hingga sore Wita, kecepatan angin mendadak meningkat drastaskan sehingga memicu gelombang tinggi yang mengganggu operasional kapal.
Oleh karena itu, masyarakat serta pengemudi logistik agar rajin memantau prakiraan cuaca sebelum bepergian. ”Kami mengimbau masyarakat agar mengecek perkembangan cuaca sebelum berangkat. Jika terjadi penutupan sementara penyeberangan, harap bersabar karena langkah tersebut diambil demi keselamatan bersama,” tegasnya. (BP/OKA)






