Uma Mbatangu
Di tanah Sumba yang kaya budaya,
Berdiri megah Uma Mbatangu,
Rumah adat atas atap menjulang tinggi,
Mencapai langit, dengan kuatnya
Panggung kayu menyangga kehidupan,
Empat tiang akar penopang sejarah,
Dinding anyaman bambu dan daun lontar,
Menyimpan cerita leluhur yang abadi.
Tiga kepala membentuk harmoni,
Lei Bangun, Rongu Uma, Uma Daluku,
Setiap ruang memiliki makna mendalam,
Menjaga tradisi, warisan nenek moyang.
Atap berundak, lahir dari ilalang,
Sejarah hubungan dengan marapu,
Menara tinggi pusat semesta,
Mengikat bumi dan langit yang luas.
Uma Mbatangu, simbol identitas,
Kekayaan budaya patut dijaga,
Keseimbangan adalah harmoni,
Antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Nyanyian Marapu
Antara ilalang yang diam dan batu yang bisu,
terdengar nyanyian tanpa suara
Namanya nyanyian Marapu,
menyusup lewat angin, menetap dalam dada
Dengan doa bukan lagu dengan bait dan nada,
tapi getar yang hidup di akar dan udara.
dinyanyikan bukan oleh mulut,
tapi pohon tua dan langit yang luruh.
Marapu ialah suara leluhur,
yang tak pernah mati meski tubuh telah rapuh
Ia berjalan di belakang Umbu yang menuntun
dan bersembunyi di jalinan benang Rambu yang sunyi.
Dengarlah
saat malam menggantungkan bintang di langit timur
saat kuda liar berhenti di puncak bukit
saat api menyala di batu megalit
di sanalah nyanyian itu hidup.
Nyanyian Marapu bukan tentang dunia ini,
tapi jembatan ke dunia leluhur
Ia ajarkan hidup adalah titipan
dan mati bukan akhir, tapi pulang.
Nyanyian marapu tidak berdoa dengan teriakan
mendengar dalam keheningan
Sebab yang sakral bukan yang keras
tetapi yang mengakar diam dan terus hidup dalam warisan darah
Umbu dan Rambu
-Puisi untuk Leluhur Sumba-
Umbu namanya langit yang tinggi,
tak pernah jatuh meski badai datang.
Ia bicara dalam diam pagi,
dengan tatap mata dan langkah tenang tanpa usang
Rambu namanya bumi yang setia,
memeluk luka tanpa suara.
menenun cahaya dan rahasia
pada kain yang hidup dalam warna-warni
Umbu berjalan di depan kuda,
menyusuri sabana tanpa ragu.
Rambu duduk di teras rumah adat tua,
mengikat benang dengan hati yang ayu.
Umbu Rambu bukan sekadar nama,
tapi lambang arah dan tata.
Umbu menanam akar bijaksana,
Rambu menyiramnya dengan air cinta.
Ketika petir membelah langit barat,
Umbu berdoa di bawah batu megalit.
Ketika tangis lahir di tengah larat,
Rambu membisikkan nyanyian nenek moyang yang arif.
Tanpa Umbu, tak ada keberanian.
Tanpa Rambu, tak ada pengampunan.
Umbu Rambu adalah dua sisi keheningan,
yang menjaga Sumba dari kesepian zaman.
Cinta yang Tertinggal di Sumba
Sumba, cinta bukan sekadar kata,
ia tumbuh perlahan di sela sabana.
Tak bersuara, tak mengiba,
tapi menetap seperti senja di ufuk barat sana
Aku mengenalmu di antara ilalang tinggi,
di tempat angin menyebut nama tanpa bunyi.
Tatapmu tak bertanya,
Hebatnya mengerti luka yang tak pernah kubagi.
Berjalan tanpa janji,
melewati kampung, menenun pagi
Langkahmu seperti tanah ini
keras, jujur, dan penuh arti
Di bawah menara rumah adat yang tua,
kau ajarkan aku setia.
Cinta walau tak memiliki,
Tetap tinggal meski tak bisa kembali.
Laut Sumba mengingat napasmu,
pasir putih menyimpan jejak waktu.
Bahkan saat kau tiada
kau tetap tinggal dalam langit biru
Sumba menyimpanmu dalam tiap doa
Ama nggu, Kuatlah
Ama nggu, kuatlah meski langit runtuh,
meski badai datang tanpa permisi.
Kau adalah tiang yang tak boleh rebah,
penopang rumah dan jiwa yang rapuh.
Tangismu tersembunyi di balik senyum,
lelahmu terbungkus dalam doa-doa sunyi.
Namun kami tahu, di dalam dadamu,
terdapat lautan kekuatan tak bertepi.
Ama nggu, kuatlah walau dunia berat,
karena di pundakmu kami berteduh dan percaya.
Kuatlah demi langkah kecil yang menatap,
yang berharap kau jadi pelindung dan cahaya.
Biarlah waktu menggores wajahmu,
biarlah jarum-jarum hidup menusuk.
Tapi jangan biarkan semangatmu pudar,
karena kau adalah pahlawan tanpa tanda jasa
Wanggameti
Di timur Sumba,
Wanggameti berdiri senyap
tak berseru
Ia selalu menjawab
jiwa-jiwa yang datang membawa sunyi.
Ia bukan sekadar puncak tanah dan batu,
tapi altar tua bagi angin dan waktu.
Di lerengnya, pohon-pohon berdoa,
di lembahnya, burung-burung melagukan rahasia.
Awan bersandar di pundaknya,
seakan lelah mengejar makna.
Wanggameti diam yang tak pernah mati
Jejak kuda dan jejak doa,
bertemu di tanah yang disakralkan.
Umbu menatapnya sebagai penjaga,
Rambu menenunnya dalam bisikan.
Dari puncaknya,
langit Sumba terasa lebih dekat.
Bumi Sumba tampak kecil,
namun begitu dalam seperti luka yang disimpan baik-baik.
Wanggameti,
engkau bukan sekadar gunung,
engkau adalah dada pulau ini
tempat semua rahasia dan rindu kembali.
Perempuan di Ruang Patah
Apa yang mereka tahu tentang perempuan itu
Berjalan sendiri ditemani malam dan air mata
Apa yang mereka tahu tentang perempuan itu
Melawan sunyi menutup kesedihan paling sakti
Apa yang mereka tahu tentang perempuan itu
Menjahit luka mencari kesembuhan abadi
Apa yang mereka tahu tentang perempuan itu
Bertahan dengan jiwa perlahan lenyap
Apa yang mereka tahu tentang perempuan itu
Memahat rumah untuk diri sendiri,
menyulam kembali dinding sobek dengan jarum air mata
Berdiri dengan jiwanya di ruang patah
Indonesia, Mengapa kau Semakin Nganga?
Delapan puluh tahun kemerdekaan
Delapan dekade kau berdiri
dibaptis darah, digendong sunyi
dibisikkan mimpi-mimpi
oleh mereka yang tak lagi bisa kembali
Tapi kini
Mengapa kau semakin nganga?
Nganga jalan-jalanmu yang berlubang
seakan lupa cara menambal luka tanah sendiri
Nganga sekolah-sekolahmu
Seakan lupa cara memberi ilmu
buku-bukumu hanya hiasan
ilmu jadi barang dagangan
Nganga perut-perut yang tak kenyang
sementara istana gemuk tertawa riang
Nganga hutan-hutanmu yang ditebang
ditukar dengan janji dan asap yang palsu
Kau punya suara,
tapi dibungkam oleh janji-janji yang tak setia
Kau punya tanah
tapi dijual seharga mimpi murahan di meja rapat negara
Delapan puluh tahun
bukan waktu sebentar untuk melangkah
tapi mengapa luka justru makin mewah?
Indonesia, dengarlah
kami tak ingin hanya merayakan
dengan bendera dan nyanyian
kami ingin menambal nganga
dengan kejujuran, kerja, dan harapan
Kami ingin di tahun-tahun mendatang
engkau bukan hanya nama di peta
tapi rumah yang utuh bagi semua,
izinkan kami bangga sekali lagi
BIODATA
Ia bernama lengkap Rambu Raina Wangi Pawulung Wulang Paranggi, lahir di Lewa, Sumba Timur, NTT, 19 Juli 2002 dari pasangan Umbu Domu Wulang Maramba Andang dan Ermilda Ester Peda. Setelah menamatkan sekolah di Kananggar, Sumba Timur, ia melanjutkan kuliah “Sistem Informasi” di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah. Ia menggemari puisi sejak tahun 2017 dan baru belajar menulis puisi secara otodidak sejak tahun 2021.













