BULELENG, Balipolitika.com– Keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang meraih mimpi setinggi langit.
Prinsip inilah yang dibuktikan oleh Athanasia Gusanto (23 tahun), seorang mahasiswa penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) sejak tahun 2021.
Anak seorang pedagang warung kecil di Singaraja ini sukses menorehkan prestasi gemilang dengan diterima di lima universitas top dunia di Inggris, salah satunya adalah University of Edinburgh.
Perjalanan Atha –sapaan akrab Athanasia Gusanto– yang lulus dari Prodi S1 Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha pada bulan Maret 2025, tidak dilalui secara instan.
Lahir dari keluarga sederhana, ia dididik oleh orang tuanya untuk selalu mengutamakan pendidikan sebagai alat mengubah nasib.
“Meskipun kondisi ekonomi kami terbatas, orang tua saya selalu menanamkan satu nilai yang sangat kuat: pendidikan adalah aset yang tidak dapat diambil oleh siapa pun dan merupakan jalan untuk mengubah kehidupan,” ujar Atha via chat WhatsApp.
Kesadarannya akan ketimpangan akses pendidikan di Indonesia juga menjadi pemantik semangatnya untuk terus belajar.
Saat diterima di Undiksha dengan bantuan beasiswa KIP-K, Atha berjanji kepada dirinya sendiri untuk memanfaatkan peluang tersebut semaksimal mungkin.
Selama menempuh kuliah S1, Atha tidak hanya fokus pada nilai akademik, melainkan juga aktif di berbagai bidang, mulai dari menjadi debater, menyabet gelar Putri Undiksha 2022, hingga mendirikan usaha les privat sebagai Founder & CEO.
“Namanya Alpha Private Course, didirikan tahun 2021. Tempatnya milik sndiri, jadi tidak menyewa,” ungkap Atha.
Menjalani banyak peran sekaligus tentu menghadirkan tantangan besar, terutama dalam hal manajemen waktu.
“Tantangan yang paling sering saya rasakan adalah ketika jadwal yang sudah saya susun dengan rapi tiba-tiba berubah. Misalnya, ada kalanya dosen mendadak memindahkan jadwal kuliah. Kondisi seperti itu sering berbenturan dengan jadwal mengajar les. Pada situasi tersebut, saya harus cepat beradaptasi dan mencari solusi agar tidak mengorbankan salah satu tanggung jawab,” jelasnya.
Tekad Atha untuk melanjutkan studi ke luar negeri semakin bulat ketika ia mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri dan melihat rekan sejawatnya berhasil kuliah di luar negeri.
Momen tersebut menjadi titik balik terbesar dalam hidupnya.
“Saat itu saya mulai berpikir, kalau mereka bisa, kenapa saya tidak mencoba? Saya ingin menjadi orang pertama di keluarga yang meraih gelar master. Saya ingin membuktikan kepada orang tua saya bahwa semua kerja keras dan pengorbanan mereka selama ini tidak sia-sia,” tegas Atha.
Kini, setelah berhasil mengamankan posisi di lima kampus bergengsi Inggris, Atha berharap perjalanannya bisa menjadi motivasi bagi anak muda lain, khususnya sesama pejuang beasiswa KIP-K yang sering kali merasa minder karena keterbatasan fasilitas atau privilege.
“Jangan pernah membiarkan kondisi ekonomi menentukan ukuran mimpi kalian. Kita tidak bisa memilih dari keluarga mana kita dilahirkan, tetapi kita bisa memilih seberapa jauh kita ingin berjuang. Beasiswa KIP-K adalah bukti bahwa negara percaya pada potensi kita. Tugas kita adalah memanfaatkan kesempatan tersebut sebaik mungkin,” pesannya.
Di tengah gejolak geopolitik dunia, Atha yang tercatat lahir di Jakarta, 11 Juni 2003 saat ini menunggu jadwal keberangkatan ke Inggris untuk mengejar gelar akademik Master of Education alias M.Ed.
Jika visa yang diurusnya terbit tahun ini, maka kemungkinan besar Atha akan terbang ke Inggris di bulan September 2026.
“September kalau kita mau ikut orientasinya, semacam PKKMB. Kalau Maret 2027, ya kita langsung berkuliah saja. Saya nanti tinggal di dorm (dormitory atau asrama, red). Sudah dapat pendanaan dari kampus karena dapat beasiswa dari chancellors,” ungkap Atha yang gigih berjuang meski tanpa sosok ayah. (bp/Kadek Indah Sathya Wardani/4C/PBSI/Undiksha)













