NGAWI, Balipolitika.com– Ruang Graha Loka Pustaka di Perpustakaan SMA Negeri 1 Ngawi terasa berbeda.
Perpustakaan yang biasanya dipenuhi siswa yang sibuk membaca, kali ini dipenuhi oleh para guru, insan literasi, dan pegiat pendidikan yang datang untuk satu tujuan: merayakan buku.
Tepat pukul 11.40 WIB, acara Bedah Buku Fiksi dan Nonfiksi dimulai; menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi ke-80 Provinsi Jawa Timur.
Acara yang diselenggarakan oleh Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Madiun ini menghadirkan dua karya yang berbeda, namun sama-sama lahir dari ide gagasan seorang pendidik.
Buku fiksi “Gubuk Kecil dan Rintik Hujan” karya Fileski Walidha Tanjung, S.Sn., guru SMAN 2 Madiun dibedah oleh Rhesi Elmia Ningsih, S.Pd., guru SMAN 1 Ngawi.
Di sisi lain, buku nonfiksi berjudul “Semangat Orang Tua Membiayai Pendidikan Anak dengan Hati Ringan” karya Dr. Lamijan, S.Pd., M.Si. dibedah oleh Dr. Afifudin Khoir, S.Psi., M.Pd.
Kehadiran Kasubag TU Cabdin Madiun, Yulinar Quartina, S.Pd., mewakili Kepala Cabdin Madiun, memberi nuansa khusus dalam acara ini.
Ia menekankan bahwa bedah buku semacam ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan tonggak penting dalam membangun budaya literasi di lingkungan pendidikan.
“Acara ini membuktikan bahwa para pendidik kita tidak berhenti pada tugas mengajar, tetapi juga menulis dan menghadirkan karya. Dari sinilah lahir inspirasi yang akan terus tumbuh, baik di kalangan guru maupun siswa,” ungkapnya penuh optimisme.
Sebagai pembedah buku fiksi, Rhesi Elmia Ningsih melihat momentum ini sebagai jendela untuk memahami sisi lain seorang guru.
“Membaca karya fiksi seorang pendidik membuka kesadaran kita bahwa di balik rutinitas mengajar, ada ruang batin yang kaya dan penuh imajinasi. Buku ini memberi inspirasi tidak hanya kepada sesama guru, tetapi juga mendorong siswa agar berani menulis dan menyalurkan gagasannya,” ujar Rhesi Elmia Ningsih.
Bagi Fileski Walidha Tanjung, menulis adalah perjalanan personal yang jauh lebih dalam dari sekadar menerbitkan buku.
Di hadapan audiens, ia berbicara tentang menulis sebagai jalan sunyi seorang guru untuk menjaga kejernihan batin.
“Sastra bagi saya adalah ruang kebebasan. Ia memberi kesempatan untuk menyuarakan nurani tanpa harus melukai pihak lain. Saya berharap semakin banyak guru berani menulis, karena melalui tulisan kita bukan hanya mendidik di kelas, tetapi juga menyalakan cahaya pemikiran untuk bangsa,” tuturnya.
Suasana bedah buku ini menghadirkan lebih dari sekadar diskusi akademis. Ia adalah ruang perjumpaan: antara pendidikan dan sastra, antara fakta dan imajinasi, antara guru sebagai pengajar dan guru sebagai penulis.
Dari percakapan hangat itu, muncul kesadaran baru bahwa menulis bagi guru bukan hanya aktivitas tambahan, melainkan kebutuhan batin.
Bedah buku di Ngawi hari ini menjadi bagian kecil dari perayaan besar Hari Jadi ke-80 Provinsi Jawa Timur.
Namun, dari ruang sederhana itu, lahir percikan api yang bisa membakar semangat literasi lebih luas.
Jika setiap guru berani menulis, maka sekolah tidak hanya akan dipenuhi dengan buku pelajaran, tetapi juga dengan cerita-cerita yang lahir dari nurani, dari kegelisahan, dan dari harapan.
Di sanalah sastra menemukan kembali rumahnya: di tangan para pendidik yang tak hanya mendidik dengan kata-kata, tetapi juga dengan karya. (bp)













