CLARA akhirnya memutuskan menikahi pria Prancis itu setelah untuk sekian kalinya melawan perasaannya sendiri atas pertentangan-pertentangan kata hati, bias informasi, gossip sana sini dan harapan yang tidak selalu ajek tentang lelaki ideal dan semuanya nampak serba situasional dan tergantung perasaan atau mood, sehingga dia semakin ambigu untuk memastikan dengan siapa dia menikah?
“Perempuan sebaiknya jangan banyak memilih,” demuikian kata-kata itu sebagai pesan Rini Soewito, neneknya, yang kini dipandangnya sebagai sesuatu yang konvensional. Bukan berarti tidak baik, hanya sudah ketinggalan zaman.
Sebagai perempuan kekinian, yang independen, memiliki knowledge, memiliki posisi dan karir yang bagus, Clara sering berada dalam hubungan multi-relationship dengan laki-laki demi mencari pasangan ideal untuk menuju jenjang perkawinan. Hubungan multi-relationship ini kadang bersifat penuh kadang separuh-separuh. Artinya dia bisa menganggap semua hubungan itu serius, bisa juga tiba-tiba merasa lelah, capek dan menurunkan tingkat hubungan itu sebagai teman biasa.
Tidak mudah baginya menjelaskan ini semua. Hidup juga memang tak mudah, jadi tak mudah juga membangun dan membina hubungan serius perempuan-laki-laki. Hanya dalam diri Clara telah tumbuh suatu ideologi atau keyakinan diri yang menjadi acuan atau point of interest bahwa sebagai perempuan modern dan independen dalam berhubungan dengan laki-laki: Pertama, dia harus mengedepankan sifat setara dan setara, dan setara. Kedua, dalam hubungan dengan laki-laki tersebut, pada situasi dan kondisi tertentu yang krusial dia harus meneguhkan posisi membela kepentingan dirinya sebagai perempuan, sebagai sadar gender, sebelum keadaan menjadi lebih buruk.
Dan ketiga, yang paling urgen baginya, dia tidak ingin menikahi pasangannya karena kasihan. Dan ini yang akhirnya terjadi dan dirasakan pada Iqbal,. Setelah lama berhubungan dengan Iqbal dia menjadi tak tahu kenapa mencintai Iqbal dan ketika pertanyaan dan waktu terus bergulir sampai akhirnya dia berpikir sudah saatnya bagi dirinya untuk menikah, yang tinggal pada Iqbal hanya rasa kasihan.
Meskipun suatu keputusan itu bukan suatu jaminan bagi kebahagiaan atau ketidakbahagiaan hidup. Tapi bagi Clara sebuah keputusan yang diambil secara cerdas dan cermat akan lebih memungkinkan mendapatkan keberhasilan dan kebahagiaan sepanjang hidupnya.
—–*****—–
Aku tidak pernah berpikir hubungan dengan kekasihku, Clara Putri Soewito, akan menjadi sesuatu yang rumit seperti menghitung perkalian dan pembagian bilangan desimal pada soal matematika. Artinya, bilangan itu ada hanya dalam pelajaran sekolah tapi tidak kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Clara berpikir seperti bilangan desimal itu.
Aku merasa kami telah membina hubungan yang setara, bahkan mungkin tak ada kesetaraan bagiku selain hubungan dengan Clara. Aku tak pernah melarang ini itu padanya. Clara begitu sedemikian bebasnya, seakan-akan kami tidak dalam hubungan khusus. Dia bebas menyatakan keinginannya, ingin ini ingin itu, yang bila ditunjukkan dengan laki-laki umum, tak mungkin ada sikap toleran seperti itu. Dia juga tidak perlu membela dirinya dan kepentingannya bila terjadi pertentangan atau cekcok di antara kami, karena sedari awal aku selalu terlebih dulu membela dirinya dan kepentingannya.
Ternyata kini semua hal tentang Clara tinggal bullshit. Semua pengorbananku untuk membawanya kepada tingkat setara untuk membela diri dan segala kepentingan Clara pada akhirnya hanya tinggal menerbitkan rasa kasihan Clara kepadaku. Pada suatu malam, yang semestinya indah, dan nampaknya hubungan kami malam itu akan semakin bersemi untuk segera melangkah ke pelaminan. Tiba-tiba Clara berbicara hal lain, yang jauh dari perkiraan dan harapan. “Aku tak mungkin menikah dengan laki-laki karena kasihan,” ucapnya seperti menunjukkan bom waktu yang sesaat lagi meledak menghancurkan hubungan kami.
Pikiranku seakan melompat mendengar kata-katanya itu. Aku sesaat memandang Clara seperti seorang badut yang sedang memainkan gerakan salto di hadapanku. Dan aku merasa lucu dan kecewa padanya, karena hubungan cinta kami telah dijadikannya arena kuasa.
Aku tak habis pikir bagaimana kata kasihan bisa muncul dalam pikirannya. Aku sesaat menelusuri makna kasihan yang dikatakannya kepadaku. Apakah kasihan menunjuk pada penderitaan? Apakah kasihan bukan bagian dari rasa cinta sebagai rasa peduli dan empati.
Tapi soalnya Clara terlanjur menyatakan hal itu sambil menyodorkan satu nama laki-laki yang menurutnya paling layak untuk menikahi dirinya. Seorang laki-laki Prancis yang telah lama tinggal di Jakarta, dan bekerja di sebuah perusahaan Prancis bersama dirinya.
Aku merasa pada malam itu tiba-tiba seperti tak mengenal Clara. Dan keputusannya yang sudah bulat itu bagiku tampak lonjong. Bayangkan, bilamana Clara ingin membandingkan leberadaanku dengan lelaki Prancis itu dan berani bilang kasihan kepadaku, lelaki sebangsanya orang Indonesia, apakah dia lakukan segala hal itu berdasarkan karena dia merasa lebih bangga dan lebih tinggi derajatnya menikah dengan lelaki bule berkebangsaan Prancis.
Aku pun tegas mengambil kesimpulan bahwa Clara menganggap lelaki Prancis lebih tinggi dari lelaki sebangsanya. Bagiku, dari sini arti setara yang dikedepankan Clara selama ini sudah hilang dari dirinya, dan keinginan membela diri dan kepentingannya, itu semua semata sifat egois bukan atas dasar landasan gender.
—–*****—–
Erik tiba-tiba secara spontan dan santai menemuiku pada suatu acara kesenian di Pusat Kebudayaan Prancis, di Jakarta. Entah untuk apa? Apakah sekedar say hello, atau mengkonfirmasi akan menikahi Clara, atau lebih jauh membela posisi Clara dengan menunjukkan sikap gentleman bahwa Clara dan dirinya akan segera menikah dan sebagai mantannya Clara, aku jangan pernah menyalahi Clara.
Awalnya, saat pertama berbincang denganku, Erik, lelaki Prancis itu, sikapnya seperti sudah dikomandoi Clara, berbicara soal hubungan setara, membela diri kepentingan Clara dan tatapannya menunjukkan sikap kasihan kepadaku. Sebelum komando Clara padanya bergerak lebih jauh, aku mulai mengambil pembicaraannya itu. Aku kira dia harus tahu siapa diriku dalam waktu perbincangan yang singkat.
Aku tunjukkan padanya bahwa aku bekerja sebagai wartawan, dan juga seorang penyair. Mengetahui hal itu, pandangan Erik terhadapku perlahan-lahan berubah, lebih menunjukkan sikap respek dan simpati. Kami sedikit bercakap soal seni dan sastra, tentang puisi, tentang Rhimboud yang puisinya banyak bicara tentang kerinduan, kemajuan dan kemanusiaan.
Tapi sayangnya perbincangan kami malam itu hanya singkat saja. Sebelum berpisah Erik berkata padaku: “Saya respek pada kalian berdua dan tidak ingin menyalahkan kalian berdua: Iqbal dan Clara.” Malam itu kupikir, Erik benar-benar bicara hanya sebatas dirinya, dan tidak mencoba mewakili Clara. Setelah itu dia mengucap say goobye, dan sehat selalu untukku katanya.
Beberapa hari kemudian Clara bilang dia tahu bahwa Erik telah bertemu denganku. Dia bilang dalam pesan whatsapp-nya padaku: “Hanya dirimu Iqbal mantanku yang ditemui Erik, yang lain tidak!” Dan beberapa hari setelah itu mereka menikah, Clara dibawa Erik ke Prancis.
Aku hanya bersyukur terselamatkan oleh puisi-puisiku dari rasa kasihan Clara. Erik dalam percakapan berikutnya lewat email padaku bilang bahwa dia telah membaca puisiku dan dia bilang puisi-puisi itu sangat cemerlang meski bahasa Indonesia yang dikuasainya masih terbatas untuk membaca sastra. Tapi dia bilang sebagai orang Prancis dia suka puisi dan dapat memahami puisi dengan baik.
—–*****—–
Hubunganku dengan Clara kuanggap tuntas pada malam itu, malam sebelum esoknya dia menikah.
Tiba-tiba Clara ingin dan merasa berani untuk bicara kepadaku. Itu aku kira mungkin karena dia sedikit mabuk wine setelah pesta mengakhiri masa lajang bersama teman-temannya malam itu.
Dalam kondisi mabuk rasanya orang seperti leluasa mengungkapkan perasaan dan segala yang terbersit dalam benaknya. Tapi meski demikian aku berusaha meresponnya sebagai Clara yang sadar, tidak sebagai orang yang tengah mabuk.
Clara secara dalam menyatakan permohonan maafnya, diikuti isak tangis, mengungkapkan perasaannya: “Aku mencintaimu, Iqbal. Aku mungkin salah, tapi aku telah mengambil keputusan untuk menikah dengan Erik.”
Aku terima permohonan maafnya. Aku hanya bilang tegas kepadanya: “Clara, kamu boleh menjadi modern, boleh menjadi perempuan independen, tapi jangan pernah merasa kasihan padaku atas Erik, itu sama saja sebagai menganggap rendah lelaki bangsamu sendiri.”
Clara semakin tersedu-sedu di tengah mabuk yang menguasai dirinya. Dia terus memohon maaf padaku, dan katanya sekarang dia tidak tahu lagi caranya untuk tidak mencintaiku.
Aku tegaskan padanya dia telah mengambil keputusan menikah dengan Erik, dan aku telah mengenal Erik sebagai lelaki yang baik dan pantas untuknya. “Aku memaafkanmu dan merestui pernikahanmu dengan Erik,” demikian percakapan dengan Clara kuakhiri.
Seminggu setelah menikah melalui surat Email Erik mohon pamit dan bilang akan membawa Clara tinggal di Prancis. Aku mengucapkan selamat jalan, “Hatiku selalu bersama kalian berdua,” ucapku.
Kepada Erik, kuberikan sebuah sajak sebelum berpisah.
Orang Bilang Salju Di Musim Panas Akan Mencair
orang bilang salju di musim panas akan mencair dan airnya
mengalir hingga ujung sungai rhein aku terharu menatap
biru cuaca ketika kekasih pergi bersandarkan perahu di atas
sungai seine
pada sungai seine aku minta kepadanya untuk kembalikan
kekasihku karena hidup yang sekali tinggal sakit menahan
rindu di kesendirian; sungai seine mengucap, “kasihmu
telah menjadi rembulan bergaun malam putih berjalan
di atas teluk prancis
orang bilang salju di musim panas akan mencair dan airnya
mengalir hingga ujung sungai rhein; seratus tahun dalam
kepiluan air mataku menggenang di atas sungai seine
Erik bilang dia suka dengan sajak ini. “Aku akan menjaga Clara sebagaimana aku akan menjaga sajak ini darinya. Dan aku juga nanti akan menceritakan kepada orang-orang di Prancis tentang sajak ini,” janji Erik.
BIODATA
Muhammad Solihin Oken lahir di Jakarta, 26 Oktober 1970. Pernah kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, dan mengikuti Program Course Paska Sarjana di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Aktif bersastra sejak mahasiswa. Pernah menekuni profesi wartawan sejak 1996 hingga 2013. Sejak 2009 ia rajin menulis puisi di media sosial. Buku puisi terbarunya berjudul “Sajak Selikur” (2022).










