CINGKRANG
Sepasukan itik, tanpa berkutik, berbaris baik
Menuju satu titik, dilarang berbalik
Meski dunia jungkir balik, itik tak melirik
Adanya intrik, saling mengulik
Manusia picik, berhati burik, saling tarik
Mata mendelik, merasa terusik, mudah panik
Hati tercabik, kurang piknik, serupa jurik
Saling kilik, alergi kritik, dasar jangkrik
Lapar mencekik tak ada nasi di balik tudung saji
Dahaga menukik persediaan air minum tak ada lagi
Sandang cingkrang roda ekonomi digerus pandemi
Menyumpah serapah seperti dukun kurang sesaji
Sikap saling menyalahkan jadi tradisi
Bersikap sok baik sembunyikan tendensi
Cingkrang pikiran kerdilkan pribadi
Ayo bangkit sudahi bermimpi
Agar otak tak cingkrang lagi
Blitar, 2025
CURANG
Jika negeri ini selayak sungai
Demokrasi adalah ikan kecil yang berenang mengarungi
Dengan kail sederhana rakyat memancing
Tapi penguasa membawa potas sejinjing
Jika negeri ini selayak samudra
Demokrasi bisa dibilang gelombangnya
Dengan sampan rakyat coba mengarungi
Penguasa datang menciptakan badai
Blitar, 2025
CELOTEH EMPRIT
Seekor emprit terbang rendah di pepohonan perdu
Bingung mencari sarang tempat kemarin bercumbu
Sebab pohon-pohon meranggas tanggalkan daun
Sisakan batang kering jauh dari kata rimbun
Pada angin emprit berceloteh pedih
Karena habitatnya kini telah tersisih
Tergusur oleh manusia bersifat rakus
Yang janji manisnya berbau kakus
Blitar, 2025
CURUT
Berpesta di tong sampah
Menikmati hidangan mewah
Dari sekumpulan limbah
Hasil orang muntah
Curut memang bedebah
Suka buat masalah
Bikin orang serba salah
Mengunyah serapah
Curut di kantor megah
Gerogoti barang mewah
Memakan surat tanah
Tilep duit sedekah
Curut memang payah
Bersikap pongah
Siapa pun pantas meludah
Sungguh bedebah!
Blitar, 2025
CARUT MARUT
Tut tut tut
Bunyi kentut
Dari sebuah perut
Berbau kecut
Seperti tikus curut
Siapa menghirup jadi semaput
Jangan menghasut
Dalam kondisi carut marut
Tut tut tut
Bunyi kentut tetap berlanjut
Hingga larut
Tak perlu lagi ribut
Saling rebut
Adu sikut
Sebab penyebar kentut
Segera dijemput
Maut
Blitar, 2025
BIODATA
Heru Patria adalah nama pena dari Heru Waluyo seorang guru SD sekaligus novelis dari Blitar yang gemar menulis cerpen dan puisi. Selain termuat dalam 50 lebih antologi bersama, karya puisi dan cerpennya telah dimuat di berbagai media cetak dan online. Selain menulis karya dalam bahasa Indonesia, ia juga menulis karya berbahasa Jawa seperti gurit, cerita cerkak, dan wacan bocah yang juga sudah dimuat di Majalah Panjebar Semangat, Majalah Jayabaya, Majalah Djaka Lodang, Majalah Kinasih, Jelata.co, Literanesia.com, Koran Suara Merdeka, NegeriKertas.com, serta Harian Solopos.
Pendiri Paguyuban Swara Sastra Jawa ini profil dan giat literasinya telah dimuat di Radar Tulungagung, Kawentar Radar Blitar, Blitar Terkini, Literanesia, serta rubrik Sosok di Harian Kompas. Buku puisinya yang berjudul Orasi Anak Negeri mendapatkan penghargaan sebagai Buku Sastra Tak Terlewatkan Tahun 2024 dari Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia.
Peraih Anugerah Sutasoma 2024 ini juga memperoleh penghargaan sebagai (1).Penulis Eksis Of The Years dari Penerbit Eksis (2020), (2).Penghargaan Setyasastra Nagari (30 tahun kesetiaan sastra Indonesia) dari Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia (2021), (3).Penghargaan Literasi Award kategori Penulis Terproduktif dari Bupati Blitar (2022), (4).Penghargaan Sastratama (Sastrawan Utama) dari Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia (2023), (5).Anugerah Pena Jatim Award kategori Penulis Terproduktif dari Forum Lingkar Pena (FLP) Jawa Timur (2023), (6).Penghargaan Sastrawan dan Mentor Literasi Nasional dari Bupati Blitar (2024), (7).Anugerah Sutasoma kategori Guru Bahasa dan Sastra Indonesia dalam membina dan mengembangkan sastra Indonesia di Jawa Timur dari Balai Bahasa Jawa Timur (2024), (8).Lolos Kurasi SIBI Pusbuk Kemendikbud Ristek kategori novel anak jenjang C (2024)













