SAJAK YANG DIPATAHKAN
Kau dulu bangga jadi kursi.
Dibuat dari kayu jati terbaik
hutan utara, dipernis oleh
tangan-tangan tukang
yang diberkati doa
dari ibu dan anak-anaknya.
Katamu, kau akan menopang
pantat para pemimpin
yang membawa cahaya.
Seperti para kunang-kunang
di bawah kemilau purnama.
Hari demi hari berlalu.
Kau gemetar, menahan bobot
kata-kata yang ia ucapkan.
Ia makin sering menyebut
nama-nama desa, yang bahkan
tak bisa dieja dengan benar.
Tubuhnya makin berat
oleh jubah-jubah titipan.
Suaranya makin dalam
oleh naskah pidato pinjaman.
Kau mulai ragu
tapi takdirmu terlanjur dipaku.
Pada malam ke seribu
ia duduk sambil tertawa
untuk menandatangani
kontrak, yang menghapus
hutan. Tempat di mana
kau tumbuh dan dibesarkan.
Untuk pertama kalinya, kau
merasa rapuh; patah dan jatuh.
8 Juni 2025
LANGIT BIRU
seseorang menjatuhkanmu—
tapi kau tahu,
engkau tidak mati,
hanya berpindah dunia.
dari satu mimpi
ke dalam mimpi berikutnya.
sebab jiwa, kata para penyair tua
dari timur, hanya singgah sebentar
di rumah
yang akan ditinggalkan juga
dan kini kau
belajar diam pada dinding batu.
di sana tidak ada pintu,
tidak ada jendela,
aliran waktu pun tidak bekerja
kecuali mimpi orang lain
datang kepadamu
dan menanyakan maknanya.
seseorang menjatuhkanmu—
tapi kau tahu,
lubang itu adalah rahim baru,
tempat engkau menunggu
untuk menjadi dirimu
sekali lagi, menatap langit biru.
6 Juni 2025
MENGAPA KITA TAK BERPAPASAN?
Tuhan, aku pernah berjalan
di antara pohon-pohon
yang selalu berpakaian
dan manusia-manusia
yang dibebaskan telanjang.
Tapi mengapa kita tak berpapasan?
padahal di sana, timur dan barat
dipertemukan.
Mata sipit, mata biru,
kebaya putih, kutang jambu.
Tuhan, aku pun pernah duduk-duduk
di antara denting botol minuman
dan lagu ‘poem without words’
yang menggetarkan
Tapi mengapa kita tak berpapasan?
Padahal di sana, jiwa-jiwa terbang.
8 Juni 2025
TOPLES KOSONG
Ada gunung es yang meleleh
dan berubah jadi sertifikat saham.
Anak-anak pesisir
menjiplak bentuknya di kertas buram.
Lalu menamai lukisan itu:
“Rumah Yang Akan Tenggelam.”
Kemudian mereka memasukkannya
ke museum, yang terbuat dari pasir.
Di dalamnya ada pula ikan plastik,
boneka tanpa kepala,
dan sebuah toples kosong.
Mereka bilang, itu semua dilelang.
Satu anak menunjuk boneka
tanpa kepala, lalu berkata:
“Dia adalah manusia pertama
yang bisa hidup tanpa berpikir.”
Anak lainnya mengambil pasir
dan menaruhnya di toples kosong.
“Ini adalah tanah leluhur
yang dijual permeter persegi,” ucapnya.
Di sudut museum,
masih ada lukisan dan ikan plastik.
Tak bisa dimakan
tapi tetap dianggap artefak harapan.
8 Juni 2025
PATUNG SEORANG PAHLAWAN
Di kotamu,
patung seorang pahlawan
berdiri dengan satu tangan ke langit
dan dua kaki terpendam di beton.
Tak ada yang tahu
ia menunjukkan arah kemajuan
atau sekedar mencari pertolongan.
Tiap sore bayangannya memanjang
hingga menyentuh sepatu
tukang parkir
yang konon juga tak mengenalnya.
“Yang penting berdiri,” katanya,
sambil menggulung karcis
dan menghitung uang kembalianku.
Di kotamu,
aku menuliskan alamatku
di kertas yang terus
diterbangkan waktu.
Berharap suatu hari
ada yang menemukannya
lalu membaca kegelisahanku.
31 Mei 2025
BIODATA
M Abdul Roziq, wiraswasta, tinggal di Bojonegoro. Tulisan-tulisannya berupa sajak-sajak dan cerpen. Ada yang dimuat koran/media, ada pula yang dibukukan dalam antologi tunggal maupun bersama.













