Hikayat Bangkai Pepohonan
: Aku ingin mengutukmu dengan dingin hutan
Kau memenggal pepohonan dengan lembar-lembar kanun
mengetuk meja di balik dinding maha tinggi
membiarkan aklamasi mengharumi garis kandimu
dan menguntungkan para saudagar
yang kau kenal dari dasi dan jabatan.
Kepalamu adalah homograf
mensiasati frasa demi hari kemudian
usai waktu membawamu ke lubang-lubang alpa
kau izinkan suatu kemiskinan meringkuk dan bertapa
semata menunggu janjimu yang dahulu
melawat dan menyentuh.
Dahulu, bibir kami adalah zikirmu
saban hari kau lafal kala mendekatkan diri
kau meminta peruntungan pada tangan-tangan yang lemah
demi suatu panggung
yang mustahil kami sentuh.
Langsa, 9 Maret 2026
Litani Usai Bandang
Di antara lumpur
malam meleleh di bawah lilin
dan rembulan menemani kegelapan
memeluk anak-anak dengan khidmat.
Sedang para ibu
membangun dapur dari pundi-pundi paling merugi
menunggu kepulangan kaum lelaki
yang mencari suatu sembuh
di tengah hukum yang sakit.
Kepada siapa puing-puing mengadu
sebab saban hari, kami masih meratap
dinding-dinding yang retak
rumah-rumah runtuh.
Kendati bangkai-bangkai hutan masih berbaring
menutup segala jalan yang kami tapaki
anak-anak kami tetap menimba ilmu
berlatih hitung:
Berapa kaki meja yang pincang
Dan berapa utang keadilan
Yang mesti dilunasi.
Langsa, 9 Maret 2026
Tak Lagi Mencintai Tanah
Barangkali,
validasi adalah panggung yang sebenarnya gagal kita megahkan
di bumi yang sama kita berpura menjadi kumbang yang mencintai tanah
namun di tempat berbeda
kita sengaja
meludahi bunga-bunga.
Langsa, 9 Maret 2026
Kausalitas
Jika benar tambang menghasilkan
tentu jalan dan jembatan mudah dibangun
jika benar hukum pembatas paling adil
maka pepohonan tak perlu menumpang hidup
di atas retak dan runtuh.
Kadang aku mengira
kita sengaja mencipta neraka
membiarkan yang pandir berkuasa
lalu kembali alpa
tahun berikutnya.
Langsa, 9 Maret 2026
Menyentuh Dinding Langit
Aku ingin berlayar ke Semenanjung Laut Hitam
melihat pasang surut gelombang, berenang ke tengah lautan
menerjang karang-karang tajam
sampai kesedihanku
andam karam.
Aku ingin menyentuh dinding langit
agar doaku bukan saja mantra yang berair
lalu mengering di punggung hukum.
Aku mengetahui nama-nama yang hanya hamba
namun bergaya—berpura laksana Jibril
yang tak pernah Tuhan utus
Lalu aku mengetahui
bahwa Jibril
tak mungkin mewahyukan kafan.
Langsa, 9 Maret 2026
BIODATA
Ilham Nuryadi Akbar lahir di Banda Aceh dan saat ini menetap di Kota Pematangsiantar. Beberapa puisi dimuat media lokal dan nasional seperti: Koran Tempo, Koran Jawa Pos, Republika.id, Suara NTB, Koran Radar Banyuwangi, Omong-omong.co, Sastramedia, Lensasastra, Harian Rakyat Sultra, Sumenep.news, ideide.id, Literasikalbar, Riau Sastra, Litera.co, dll. Dia menjadi peserta Emerging Balige Writers Festival (BWF) 2025.













