AKU mengenal Raras seperti seseorang yang mengenal bayangannya sendiri. Bayangan yang hadir karena cahaya dan hilang karena gelap. Ia selalu berada pada jarak yang sama. Cukup dekat untuk diakui, tetapi terlalu jauh untuk diraih. Seolah-olah ada hukum tak terlihat yang menjaga kami tetap terpisah. Dalam setiap geraknya, ada kesunyian yang bukan berasal darinya, melainkan dari ruang di antara kami yang tak pernah terisi sepenuhnya. Bahkan, ketika aku mencoba mengingat wajahnya dengan saksama, yang tersisa justru bukan rupa, melainkan rasa kehilangan yang datang lebih dulu daripada kehadirannya.
Kota ini membesarkanku menjadi lelaki yang rapi dalam kehilangan. Pagi hari aku berangkat ke percetakan, tempatku menyambung hidup hari demi hari, menyapa mesin-mesin yang lebih setia daripada manusia. Bau tinta dan kertas lebih mudah aku pahami daripada bahasa perasaan. Di sana aku mencetak janji orang lain, tentang tanggal, nama, doa, dan kata “selamanya” yang selalu dicetak tebal.
Ironisnya, hidupku sendiri hanya dicetak tipis. Raras muncul pertama kali di ruang tunggu lantai dua gedung lama yang jarang dipakai. Listrik sering padam di sana. Orang-orang mengeluh, lalu pergi. Raras tetap duduk. Aku juga.
“Setengah empat,” katanya suatu hari, ketika jam dinding mati. Sejak itu, aku percaya waktu bisa berjalan tanpa jarum jam. Kami jarang berbicara. Kadang ia menyebut cuaca yang tidak berubah-ubah. Kadang ia menanyakan pekerjaanku, lalu tersenyum tipis ketika aku berkata aku mencetak undangan pernikahan. Senyum itu seperti awan yang menahan hujan. Ada yang ingin jatuh, tetapi memilih tinggal di langit.
Di antara kami, tidak ada janji. Hanya kebiasaan duduk berdampingan, menatap lorong kosong, seolah menunggu sesuatu yang tidak pernah diumumkan. Aku sering merasa ia mengetahui pikiranku sebelum aku mengucapkannya. Seperti ada suara lain yang mendahului suara kami. Suara yang lebih tua, lebih sabar, dan suara yang tidak memihak siapa pun. Kadang aku merasa Raras bukan hanya perempuan biasa, melainkan pesan yang dikirim kepadaku, entah oleh siapa.
Ia pernah berkata, tanpa menoleh, “Hidup ini terlalu panjang untuk diisi keraguan.” Aku ingin bertanya, “Lalu apa yang harus dilakukan dengan cinta yang tidak jelas alamatnya?” Tapi aku tidak pernah mengucapkan pertanyaan itu. Aku terbiasa mengikuti kata tanpa bicara.
Suatu hari, pesanan undangan masuk ke percetakan. Nama yang tertera membuatku membaca dua kali. “Raras Anggraini.”
Aku memeriksa desainnya. Sederhana. Tanpa ornamen berlebihan. Seperti Raras.
Waktu pernikahan ditetapkan pada hari yang sama dengan kebiasaan kami bertemu, yaitu pukul setengah empat sore. Aku tidak tahu apakah itu kebetulan, sindiran, atau isyarat yang terlalu halus untuk aku pahami. Malamnya, aku kembali ke ruang tunggu. Lampu menyala terang. Tidak ada siapa pun. Aku duduk sendiri, mencoba mengingat bagaimana suaranya menyebut waktu. Aneh, aku tidak lagi yakin pernah mendengarnya dari bibir yang nyata. Kenangan tentangnya mulai terasa seperti cerita yang pernah kubaca, bukan pengalaman yang kualami.
Aku menghadiri pernikahan itu. Gedungnya penuh bunga putih yang tidak beraroma. Orang-orang tersenyum dengan sopan. Musik mengalun pelan, seperti sengaja dijaga agar tidak terlalu bahagia. Aku berdiri di sudut ruangan, menunggu Raras muncul di pelaminan. Ia lama sekali keluar menyapa para tetamu.
Orang-orang bertepuk tangan ketika mempelai perempuan akhirnya keluar dan berjalan menuju pelaminan. Gaunnya panjang. Wajahnya tertutup riasan tebal. Dari jauh, ia mirip seperti Raras. Dari dekat, ia bukan siapa-siapa yang kukenal. “Dia berbeda.” Ujarku dalam batin.
Aku memeriksa undangan yang kubawa. Tulisan di atasnya berubah. Bukan lagi Raras Anggraini, tetapi nama lain yang tidak kukenal. Aku merasa seperti sedang berdiri di dalam cerita yang kalimatnya diganti tanpa pemberitahuan.
Seorang pria di sampingku berbisik bahwa tadi pagi terjadi kecelakaan kecil di jalan tol. Tidak ada korban jiwa. Hanya mobil pengantin yang penyok di bagian depan. “Pertanda gugup,” katanya sambil tertawa. Aku ikut tersenyum. Rasanya seperti menyetujui sesuatu yang tidak kumengerti.
***
Sejak malam itu, Raras tak pernah kembali ke ruang tunggu. Aku mulai meragukan apakah ia pernah ada, apakah hanya bayangan saja. Tidak ada seorang pun di gedung itu yang mengingat perempuan yang sering duduk di lantai dua. Bahkan petugas keamanan menyebut lantai itu jarang dipakai sejak renovasi dua tahun lalu.
“Dua tahun lalu.” pikirku. Padahal aku baru mengenalnya beberapa bulan. Waktu rupanya tidak selalu setia pada ingatan. Di kamar kos, aku mencoba menuliskan namanya di secarik kertas. Tinta bolpoinku macet. Huruf R yang pertama tergores, lalu terhenti. Seolah-olah kertas itu menolak menyimpan jejaknya.
Aku mulai memahami kemungkinan yang paling sunyi. Barangkali Raras adalah bentuk lain dari kesepianku. Ia tumbuh di ruang yang terlalu lama tidak aku isi dengan keberanian. Ia duduk di sampingku setiap sore agar aku tidak merasa sendirian. Ia berbicara dengan suaraku sendiri yang tak pernah berani kuakui.
Hubungan kami hanyalah persinggahan bukan antara dua manusia, melainkan antara aku dan bayanganku. Aku tidak menangis ketika menyadari itu. Aku hanya merasa seperti seseorang yang baru saja selesai membaca cerita tentang dirinya sendiri, lalu menutup buku tanpa tahu apakah kisah itu benar-benar terjadi.
Beberapa minggu kemudian, aku mengajukan pindah ke cabang percetakan yang lebih dekat dengan kampung halamanku. Seratus kilometer bukan jarak yang jauh, tetapi cukup untuk membuat bayangan tertinggal di belakang.
Sebelum pergi, aku kembali ke lantai dua gedung itu untuk terakhir kali. Kursi yang biasa aku duduki bersama Raras sudah dipindahkan. Dindingnya dicat ulang. Jam dinding diganti dengan yang baru yang jarumnya bergerak normal, yang patuh pada detik, yang setia pada menit, dan yang taat pada jam.
Aku duduk di lantai, tepat di tempat kursi itu pernah berada. Setengah empat lewat lima menit. Tidak ada suara yang menyebut waktu. Untuk pertama kalinya, aku menyebutnya sendiri, “Setengah empat.”
Suaraku terdengar asing, seperti milik orang lain. Saat itulah aku tahu, Raras tidak pernah benar-benar meninggalkanku. Ia hanya berhenti. Ia adalah doa yang dulu kupanjatkan agar kesepian memiliki nama. Sekarang, ketika aku berani mengakui sunyi tanpa menyamarkannya sebagai cinta, ia pun selesai. Aku berdiri, turun tangga, dan tidak menoleh lagi.
Di percetakan, sebelum menyerahkan surat pindah, aku mencetak satu lembar kertas tanpa pesanan. Tidak ada nama, tidak ada tanggal. Hanya kertas kosong yang luas. Kertas itu kusimpan di sakuku. Bukan untuk mengenang Raras, melainkan untuk mengingat bahwa tidak semua yang kita cintai harus mewujud.
Aku meraba sakuku, tepat pukul setengah empat, memastikan kertas itu benar-benar ada, lalu untuk pertama kalinya aku ragu, “Apakah aku yang menyimpan kertas itu, atau justru kertas itu yang selama ini menyimpan semua kesepianku?”
BIODATA
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.













