BADUNG, Balipolitika.com – Asa menjadi dokter kini tidak hanya impian kalangan atas saja. Pemkab Badung memberikan kesempatan bagi anak petani, untuk menjadi seorang dokter.
Melalui program beasiswa yang telah Adi Arnawa gagas, anak petani kini bisa menjadi seorang dokter bukan asa semata.
Program ini pada tahun 2026 mendatang, tentu saja membuat anak-anak petani memiliki kesempatan luas untuk mengenyam pendidikan tinggi di berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
Bahkan hingga fakultas kedokteran. Adi Arnawa menegaskan, komitmen Pemkab Badung dalam memberikan dukungan nyata bagi masa depan generasi muda, khususnya anak-anak dari keluarga petani.
Sehingga pihaknya akan membantu memberikan beasiswa sekolah perguruan tinggi bagi generasi muda di Badung.
Namun tetap ada beberapa kreteria, bagi yang bisa mendapatkan bantuan tersebut, seperti anak petani, anak ketiga dan keempat (Komang dan Ketut) dan yang orang tuanya memiliki pendapatan Rp 5 Juta ke bawah.
“Kami sudah berhitung terkait dengan program beasiswa ini. Pada tahap awal nanti kita siapkan kuota 400 orang,” ujar Adi Arnawa.
Pihaknya menyebutkan, generasi muda di Badung biaya kuliahnya di kampus mana pun di Indonesia akan jadi tanggungan pemkab. Mulai dari biaya kuliah, pemondokan, laptop, hingga wisudanya.
“Kurang lebih kami rata-ratakan mereka mendapat Rp 2 juta perbulan. Namun semua masih OPD terkait siapkan,” ucapnya
Lebih lanjut, mantan Sekda Badung itu menekankan bahwa program beasiswa ini tidak membatasi pilihan fakultas atau jurusan yang siswa pilih.
Artinya, anak-anak petani yang bercita-cita menjadi dokter, insinyur, guru, atau profesional di bidang lain memiliki peluang yang sama untuk mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah daerah.
“Kami ingin menegaskan bahwa anak petani pun bisa jadi dokter. Pemerintah hadir agar mereka tidak lagi terbebani oleh persoalan biaya. Ini bentuk perhatian kami kepada petani, agar mereka merasa berharga dan dapat dukungan,” tambahnya.
Program beasiswa ini merupakan salah satu strategi Pemkab Badung, meningkatkan kesejahteraan masyarakat sektor pertanian yang selama ini menjadi tulang punggung ketahanan pangan daerah.
Selain memberi insentif langsung berupa bantuan sarana produksi dan infrastruktur pertanian, pemerintah juga ingin menghadirkan dukungan jangka panjang melalui investasi di bidang pendidikan.
Adi Arnawa menilai, masa depan pertanian tidak hanya bergantung pada lahan dan hasil panen, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia yang lahir dari keluarga petani.
“Kami ingin anak-anak petani memiliki masa depan yang cerah. Mereka harus bisa naik kelas, punya pendidikan tinggi, dan bisa membanggakan orang tuanya. Pemerintah wajib hadir untuk itu,” imbuhnya. (BP/OKA)













