DENPASAR, Balipolitika.com- Menyingkap sejarah Kelurahan Tonja membawa kita kembali ke tahun Saka 1250, era kepemimpinan Raja Sri Astasura Ratna Bhumi Banten atau yang lebih akrab dikenal sebagai Dalem Batu Ireng. Ketika Kerajaan Majapahit mengirim Patih Gajah Mada untuk menundukkan Bali, sang raja terpaksa mengungsi dan menyamar menjadi rakyat jelata demi menghindari pengejaran.
Dalam pelariannya, Sang Raja yang kala itu berpakaian kotor dan berpenampilan acak-acakan tiba di perempatan Desa Pagan. Beliau mampir ke Pura Desa dengan niat melihat upacara yadnya yang sedang digelar oleh I Gusti Ngurah Bongaya. Namun, nasib malang menimpa; wajahnya yang buruk rupa membuat juru canang ketakutan dan berteriak “Tonya!” (hantu/makhluk halus). Dianggap sebagai pengganggu, sang raja pun diusir secara paksa.
Kemarahan Dalem Batu Ireng meledak. Beliau mengutuk Desa Pagan agar terpecah belah sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke arah utara. Di tengah langkah yang penuh amarah menuju wilayah Ajungut-jungut (kini dikenal sebagai Banjar Tega), kaki beliau tersandung atau dalam bahasa lokal disebut ketonjok pada sebuah batu besar.
Di titik itulah sang penguasa memberikan pastu atau kutukan sakral agar tempat tersebut menjadi Bhumi Tonjaya. Seiring berjalannya waktu, kata “Ketonjok” perlahan menyusut menjadi “Tonja”. Nama inilah yang kemudian diwariskan secara turun-temurun sebagai identitas wilayah yang tangguh dan memiliki proteksi spiritual yang kuat.
Harmoni Antara Kutukan Masa Lalu dan Modernitas
Meskipun sejarah Kelurahan Tonja diawali dengan narasi kutukan dan pengusiran, masyarakat setempat berhasil mengubah energi tersebut menjadi semangat pembangunan yang luar biasa. Wilayah seluas 230 hektar ini sekarang telah bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di Denpasar Utara. Kehadiran Mall Living World Denpasar yang megah berdiri berdampingan dengan situs-situs alam seperti Bendungan Oongan yang asri.
Modernitas yang menyentuh Tonja tidak lantas melunturkan kearifan lokalnya. Di tengah laju urbanisasi, warga tetap memegang teguh adat melalui kegiatan Kebun Berdaya Warga dan pengelolaan Bank Sampah yang inovatif. Keseimbangan ini membuktikan bahwa meskipun lahir dari peristiwa “ketonjok” yang menyakitkan, Tonja mampu tumbuh menjadi wilayah yang solid dan mandiri.
Memahami sejarah Kelurahan Tonja menyadarkan wisatawan dan warga bahwa setiap sudut Denpasar memiliki nyawa dan cerita. Saat Anda berkunjung ke sini untuk berbelanja atau sekadar menikmati suasana sungai, ingatlah bahwa nama Tonja adalah pengingat akan martabat seorang raja dan kekuatan sebuah ucapan yang mampu membentuk peradaban selama ratusan tahun. (BP/CHA).













