YANG TELAH KITA MILIKI
Bait manakah yang paling engkau nikmati
Dari puisi-puisi yang mengurai bayang esok
Bukankah kita telah belajar dari setiap lariknya?
Mengenakannya di setiap langkah?
Kau tahu, kusukai matamu yang tajam
Seperti engkau menikmati alis mataku
Dan menatap bibir yang mengeja ayat-ayat suci di malam sunyi
Sembari kita peluk doa yang terpanjat diam-diam
Bukankah kita telah memilikinya?
Meski esok tak berpihak kepada langkah kita
Ya, kita telah menikmatinya dalam sepi,
Alunan cinta senyap, tanpa kata.
HASRAT
Lihatlah langit kelam
Menyimpan bintang yang kita rindukan
Namun dengan tabah kita susuri pekat malam
Tertatih-tatih mengikuti cahaya
Dalam keikhlasan, mencium takdir
Pada rangkaian bunga lily
Kita simpan mimpi
Mengiring waktu melangkah
Namun jangan lagi bicara tentang rasa
Meski mata kita menyimpan warnanya
Seperti senja, yang mendekap erat cinta,
Biarlah hening menjadi tembang terindah dalam angan kita.
KENANGAN
Selalu jatuh ingatanku, membaca sajakmu
Meski telah kusimpan pada musim yang telah rebah
Kini tak ada lagi alasan untuk saling membaca hati
Atau menduga-duga, masihkah cinta ada?
Semua telah renta dalam ingatan
Tersungkur pada sunyi
Menjadi beku
Diammu telah menjadikan semua menjadi batu
Bebicaralah, walau itu hanya sebuah kalimat perpisahan
Lalu berhentilah mengingat kenangan
Bukankah malam telah mengikatmu dengan ikrar pernikahan?
AKHIR I
Berbagai buku telah kita baca
Menumbuhkan kekaguman
Karena kecintaan pada puisi
Begitu lamanya waktu, tak terhitung lagi
Kita penuhi mimpi dengan diksi
Memenuhi nurani
Seperti sepasang cincin, melekat di jari manis
Layaknya sayap-sayap terbang tinggi
Mengantar imajinasi
Kepada kerinduan serupa di benak kita
Bukankah ini ibarat cermin?
Melihat wajahku di dalam hatimu
Duhai……andai seperti yang kita pinta
Kini jalan telah lengang
Dan bulir air mata menjadi karib
Tidakkah kau pun merasakan?
Ketika rindu datang mencabik-cabik hati
Puisi-puisi cinta berguguran
Sepertinya doa yang hanya tiba di atap
Tak pernah turun ke bumi dalam ijabah
Lalu sore hanya serupa gerimis
Turun membawa rindu yang kelu
Hingga secangkir kopi pekat
Menjadi teman berbincang
Melewati sepi yang kian menyekat.
AKHIR II
Ternyata, waktu telah berlalu
Sisa-sisa malam masih membekas pada telapak pagi
Embun dalam tetesan rindu
Merona bertengger pada dedaunan, hati
Akh rasanya baru kemarin kurasakan hangatnya senyummu
Mendekap, hingga dingin berlalu
Mewarna pada hari yang melenggang
Namun bagaimamapun ranum cinta pernah menjadi pelangi
Dan aku puas memeluknya dalam setia
Meski hujan deras tiba-tiba menghujam
Lalu memecahkan mimpi menjadi serpihan
AKHIR III
Jangan lagi menatapku seperti itu, sayang
Tak ingin lagi kupeluk rindu
Meski sajak hujan masih terngiang samar, mesra
Melepas aroma petrichor yang kita sukai
Kita masuki malam yang tak lagi beraroma kesturi
Telah tiba waktu untuk menutup segalanya
Lalu menguburnya
Dalam nisan kenangan
BIODATA
Elisa Lewizza bernama asli Alice L. Dia lahir di Surabaya, 14 Februari 1976. Puisi-puisinya pernah dimuat dalam antologi bersama. Dia juga pernah aktif menjadi jurnalis pers kampus Universitas Brawijaya.













