Bualan Petinggi Pertiwi
Pernahkah mereka berjanji?
Menjamin setiap mimpi akan terjadi?
Ya, ia bersumpah dengan kemampuan yang dimiliki.
Pernahkah pula ia berjanji?
Bahwa perut-perut kosong itu akan terisi?
Ya, ia bersumpah dengan kitab suci di atas diri.
Terlalu banyak pertanyaan yang lahir,
Atas kekuasaan yang telah kau ukir.
Nyatanya kau sungguh tak mahir,
Sekali pun dengan bantuan ilmu sihir.
Lalu, memaksa kami untuk terus berpikir,
Jikalau petinggi sepertimu itu tidaklah kikir.
Maaf Tuan,
Sumpahmu itu kosong,
Tak membantu atau pun menolong.
Ironisnya, percaya kami rusak,
Oleh janjimu yang amat banyak.
Hingga tak terhitung lagi oleh jemari,
Tak terlihat pula wujud janji yang pernah kau beri.
Harta Dari Bumiku
Aku,
Anak yang lahir di negeri ini,
Darahku menetes nan kering di sini.
Juga menutup haus lapar sendiri,
Dengan tanah yang kugarap padi.
Lantas,
Mengapa banyak aturan baru,
Yang dibuat tanpa rasa ragu,
Merajut banyak rugi bagi negeri,
Dan keuntungan tuk saku sendiri.
Lalu,
Lebih berharga mana,
Aku atau tamu luar benua?
Lebih indah mana,
Banda Neira atau bangunan Eropa?
Jika aku, obatilah sawah itu,
Agar petani tak menyimpan luka di kalbu.
Usir tamu itu dari lautku,
Agar nelayan tak menyerah tuk berburu.
Usir tamu itu dari tambang batu,
Agar emasnya diwarisi oleh anak cucu.
Hilangkan pula egois pikirmu,
Agar tercipta damai selalu.
Noda Pikiran
Bagaimana,
Jika kematian tiba lebih awal,
Ketika manusia sedang penuh khayal?
Tak ada taubat yang dikerjakannya,
Adakah peluang surga baginya?
Jawabmu mungkin tiada arti,
Karena kau bukanlah Tuhan atau Nabi.
Tak berhak menilai atau menghakimi,
Cukup lihailah dalam mengurus diri.
Tak ada yang tahu,
Manusia dengan dosanya,
Tak benar-benar masuk neraka.
Manusia dengan amalnya,
Juga tak benar-benar masuk surga.
Karena manusia itu beragam,
Kau tak perlu risau dan belaku kejam,
Menghitung mana pendosa mana imam,
Karena tak membuatmu dosamu ringan saat mati terpejam.
Adakah
Apa itu cinta,
Hasil karya dari manusia,
Akankah wanginya terasa,
Hingga ke lubuk orang yang disuka.
Mengapa nafsu lebih semerbak?
Menyeret manusia hingga rusak,
Tak heran musibah dimana-mana,
Karena manusia tak benar-benar menjaganya.
Memendam rasa hanyalah anomali.
Menyembunyikan nafsu agar terkendali.
Agar terlihat suci dan berbudi,
Tak pula menjatuhkan harga diri.
Masih adakah cinta,
Yang benar-benar saling menjaga,
Tanpa nafsu yang menjadi kemalangan,
Yang merusak ranah segala kehidupan.
Tiada Berarti
Di sini,
Kicauan hanyalah kicauan.
Tak perlu untuk dihiraukan,
Meskipun menandakan sebuah pesan.
Di mana harus kami jumpai?
Ketika kami berkicau, langsung diberi makan.
Bukan diusir ataupun ditekan,
Bukan pula disiksa ataupun dibiarkan.
Di mana harus kami jumpai?
Sebuah keluhan yang langsung diobati,
Tanpa diperhitungkan lagi
Jikalau menolong kami
Bukanlah sebuah rugi
BIODATA
Salwa Nurul Fajriah. Seorang penggemar sastra yang duduk di bangku SMA. Tak hanya sastra, kegemaran lainnya adalah hal yang berbau seni. Seperti drama, lagu, film, dan lainya. Kini ia telah terlibat banyak dalam antologi buku, sekiranya 10 buku sudah mengantongi namanya. Jika ingin mengenalnya lebih dalam, hubungi ia di Instagram: @salwafazriyah; Gmail: [email protected].













