ENTAH apa karma kolektif yang menimpa umat Hindu di Bali dan Nusantara? Setelah PHDI pecah kongsi dan berperkara di pengadilan, kini ada kelompok sulinggih berebut membangun Pura di kawasan proyek IKN yang terancam mangkrak?
Sementara itu, tahukah kalian berapa Pura-Pura kuno di Pulau Serangan kini terjebak dan terjepit dalam kawasan reklamasi Kura-Kura Bali (PT BTID)?
Kenapa PHDI yang bertikai dan kelompok sulinggih yang bersemangat ke IKN tidak hadir membela masyarakat Serangan dan memperjuangkan akses umat Hindu Bali di tanahnya sendiri?
Sebelum lahir PT BTID, Pulau Serangan adalah pulau sakral milik krama Bali bisa bebas mekemit (menginap).
Sekarang? Siap sambehin injin. Kebo mebalih gong. Celingak-celinguk pemendek tangkil dilanda kebingungan, “marga agung” dan “pemedal” akses jalur tangkil disulap ilmu hitam reklamasi dan berpagar tinggi, suasana mengintimidasi.
Proyek reklamasi Kura-Kura Bali (PT BTID) telah menghilangkan rasa nyaman beribadah umat Hindu Bali di Pulau Serangan yang dulu terbuka lebar dengan keaslian dan keasrian terumbu karang dan bentang pulau bakau, prapat, pidada, kini terjepit. Proyek Kura-Kura Bali telah menguasai kawasan pidada-prapat-bakau yang dulu adalah kawasan “DUWE IDA BHATARA” — sekarang duwe pemilik saham PT BTID.
Silahkan para sulinggih dan pembesar PHDI sesekali “napak pertiwi” di Pulau Serangan, tangkilah dan carilah, di mana Pura Beji Dalem Sakenan, Pura Pincaking Tingkih, Pura Batu Api, Pura Beji Tirtha Harum, Pura Taman Sari?
“Pemedal agung” yang dulunya langsung lurus tanpa hambatan dari Pura Sakenan ke semua pura tersebut telah tersekat-tercerai.
Lihat peta Pulau Serangan ketika baru selesai jalan-jembatan penghubung Pulau Bali dan Pulau Serangan, sebelum terjadi reklamasi. Jalan dan jembatan itu dibangun bukan untuk masyarakat Serangan, tapi untuk jembatan pembawa kapur urug dari kawasan GWK sekarang. Semenjak ada jembatan tersebut, Serangan tidak lagi sepenuhnya milik krama Serangan.
Yang mulia para prekanggo PHDI dan para Sulinggih yang bersumangat membangun Pura di IKN, datanglah napak pertiwi ke Pulau Serangan.













