Kuburan dalam Paragraf Sunyi
siapa yang berani menatap sunyi?
jika rembulan menggantung, nyaris tanpa busana
seolah ada derap langkah yang tersipu malu
dan bersembunyi di balik bayangannya
malam ini, bukan hanya manusia yang menghirup udara
di semesta yang sama,
ada asap kemenyan mengalun pelan
serupa ritual tradisi yang sesatkan ingatan
menggiring roh pulang tanpa tubuh
dan nada gamelan terdengar begitu profan
dan di ujung jalan,
ada jerit halus serupa nada gelisah yang mengurung dendam
seperti mantra yang tersayat
oleh sepasang doa yang tercekat di tenggorokan
mungkin karena ia menghirup udara kemarau begitu panjang
sementara di sudut kampung,
kuburan tua bergetar lirih, seakan menanti puisi menjelma kalam
nisan-nisan pun berbisik dalam bahasa arwah
langit menghitam pekat tanpa angin
seolah malam sedang bermimpi buruk
gelap, tanpa lukisan
Malang, 2025
Dalam Gigil Panjang
Hari-hari terasa lambat
ketika buku diari-mu mulai gelisah menanti kata-kata dan pesan
halaman-halaman merintih seperti tirai yang mengintip rembulan
tinta mencair menjadi aroma parfum yang kau pakai sewaktu patah hati
Aku menulis namamu dengan huruf-huruf terbalik
di antara sisa kopi dan remah kenangan yang menolak dihapus
lalu kuselipkan sehelai rambutmu
yang berubah jadi akar waktu—mengikatku dalam puisi yang selalu gagal memaknai hidup
Kita tak pernah benar-benar berpisah, hanya tertinggal
di antara jeda kalimat dan napas huruf kapital yang mencemburui koma
aku jatuh cinta lagi pada kesalahan ejaan
karena di sanalah aku menemukan versimu yang tak pernah sempurna tapi abadi
dingin, beku dalam gigil panjang
dan kita tidak pernah tahu,
apakah cinta menjadi titik atau koma pada sebuah kalimat!
Malang, 2025
Kembang Jepun
1/
Kembang Jepun tumbuh di telinga langit
merambat pelan di antara gemuruh bising manusia
ia mencium aspal yang mendidih
dan tersedu oleh kabut dari pabrik-pabrik yang berdoa dalam dosa
2/
Seorang anak menanam kata “maaf” di lubang sampah
tapi bumi tak lagi bisa mengeja kasih sayang
pohon-pohon bernapas dengan asap jelaga
sementara iklan tentang cinta masih tayang tiap sore di sepanjang trotoar
3/
Kembang Jepun berjalan tanpa jejak kaki,
melewati kota yang gemar membakar jari sendiri
darah hujan tumpah dari orbit musim
mengisi selokan dengan cerita yang gagal menjadi air suci
dan sajak membiarkannya tanpa pernah terbasuh
4/
Manusia—ah, spesies paling emosional—
menggantung harapan di langit-langit pendingin ruangan
mereka mencintai bumi dalam caption dan hashtag
namun menusuk akarnya dengan sedotan yang tak putus-putus
5/
Seekor burung kepodang bermigrasi ke mimpi
karena hutan telah jadi kenangan yang dibingkai beton
ia bernyanyi dengan suara serak dan parau
ditonton jutaan mata yang telah melupakan matahari
sebab tanah-tanah mulai tumbuh bara api
dengan pemantik yang tidak dijual di pasar tradisional
6/
Kembang Jepun kini menggugurkan kelopaknya
di pusara plastik, di altar data, di upacara pertumbuhan ekonomi
ia tak menangis, hanya mendesis:
“Barangkali manusia terlalu pintar untuk jadi makhluk hidup.”
7/
Dan di akhir zaman yang kian pekat
Kembang Jepun masih tumbuh di telinga langit
mencatat kerumitan kata-kata yang menjelma kemajuan teknologi
dengan huruf-huruf hijau yang hampir punah
dan telah gagal membaca peradaban
Malang, 2025
Cermin dalam Kesunyian
Dalam sunyi, kata-kata seakan menggumpal di dada
tentang rasa yang tersembunyi
seakan jarak tipis antara rindu dan gelisah
antara hasrat yang tercekat dalam tenggorokan
dan pikiran yang tak pernah diam, berkelana tanpa penghujung
Di sudut malam yang tak berpintu,
aku berbicara pada bayangan sendiri
Tuhan tidak menjawab,
hanya gema dari kehampaan yang setia tinggal bersamaku
Waktu berjalan tanpa arah
aku duduk di hari-hari yang menata kursi kosong
memandangi langit yang bisu,
menunggu arti dari hidup yang tak kunjung datang
Sunyi adalah cermin retak
di mana aku melihat wajahku terpecah-pecah
aku ada, tapi tak utuh—
hanya fragmen dari tanya yang tak pernah selesai
Malang, 2025
Eulogi Kematian
Awal malam, sekaligus juga akhir
cinta berada pada dua sisi berbeda
ketika cinta harus memilih
cinta tidak akan pernah sama
terkadang menjelma rindu; dendam; bahkan terkadang penuh emosional
atau justru menjadi satir dan sarkas
Bukankah puisi tertulis dengan perasaan cinta?
dengan aksara yang menerangkan rasa terselubung
Lalu datang kematian dengan mantel bunga plastik
mengajak berdansa di pelataran sunyi
ia menatapku dengan mata yang bukan matahari
dan berkata: “cinta hanyalah lelucon yang dibisikkan semesta”
Aku tertawa, tubuhku tak ada
lalu menulis puisi dengan jari-jari yang telah dikuburkan
kata-kata pun menjadi batu nisan
dan sajak ini, barangkali hanya eulogi bagi harapan yang tidak pernah terwujud
Malang, 2025
Sonata Sebuah Arca di Kayutangan
: Ki Ageng Gribig
Musik itu seakan memintal ingatanku
begitu dekat, seperti langkah kaki
di koridor malam yang disinggahi Chopin—
lirih, namun menghantam
seperti puisi yang tak pernah selesai ditulis
Arca itu berdiri di Kayutangan,
tak bergerak tapi bersuara
matanya menyimpan pemberontakan tua
dan jemarinya—batu dingin
yang memegang kata-kata sampai dunia retak
Langit sore menguning di sela gedung
dan dari musik jalanan terdengar Sebastian Bach
menggema ke ubun-ubun kota
aku pikir, mungkin Ki Ageng Gribig mendengarnya juga
dari sela-sela nisan dan rindu yang membatu
Aku berdiri di depannya,
seperti berdiri di depan bait yang terlalu jujur
tak ada yang bisa kusembunyikan
ketika Mozart menyayat waktu
dengan piano yang tak pernah tidur
Ia tak menatapku, tapi aku tahu
puisi-puisinya tumbuh dari luka
yang tak bisa dibaca dengan mata saja
angin lewat, membawa debu jalanan
dan aroma kopi dari warung tua di ujung gang seakan menusuk lubang rindu
Kadang aku bertanya,
apakah arca ini juga mendengar
gemuruh Beethoven yang melawan takdir?
mungkin ia pun tahu,
bahwa kesunyian bisa lebih keras dari perang
Kayutangan menyala di malam hari
tapi arca itu tetap hening, larut dalam sunyi
dan musik terus mengalun—
kadang terlalu pelan, kadang seperti teriakan
sementara aku masih berdiri
mencari makna dalam angin dan sonata yang sama.
Malang, 2025
BIODATA
Vito Prasetyo dilahirkan di Makassar, 24 Februari 1964. Bergiat di penulisan sastra sejak 1983. Tulisan-tulisannya dimuat di Koran Tempo, Media Indonesia, Jawa Pos, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Republika, Solopos, Bali Politika, dll. Tahun 2022, ia meraih Juara 3 Lomba Cipta Puisi yang digelar Yayasan Hari Puisi Indonesia.













