BULELENG, Balipolitika.com– Di usia yang masih terbilang muda, Gede Eka Saputra (21 tahun) atau kerap disapa Deka membuktikan bahwa status sebagai mahasiswa tidak menjadi hambatan untuk berkarya dan meraih kesuksesan.
Di tengah kesibukannya menjalani perkuliahan di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), ia mampu mengembangkan sejumlah bisnis sekaligus menekuni dunia kepenulisan.
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia tersebut saat ini mengelola beberapa usaha yang bergerak di bidang berbeda, di antaranya HANNAS, LENSA CERITA, dan yang terbaru MATCHA DEPAN.
Ketiga bisnis tersebut lahir dari kreativitas dan semangatnya untuk terus berkembang sejak usia muda.
MATCHA DEPAN menjadi usaha terbarunya yang bergerak di sektor food and beverage (F&B).
Sementara itu, HANNAS merupakan bisnis fesyen yang telah dirancangnya sejak duduk di bangku 3 SMP dan terus berkembang hingga kini.
Adapun LENSA CERITA hadir sebagai wadah untuk mengabadikan berbagai momen berharga melalui cetakan foto yang sarat kenangan.
Usaha MATCHA DEPAN yang dibangun pada akhir tahun 2025, kini telah meresmikan toko tersendiri pada 5 April 2026 yang berada di kawasan Penatih, Denpasar.
Bagi Deka, memulai bisnis sejak dini merupakan langkah penting untuk mewujudkan impiannya menjadi seorang entrepreneur yang sukses.
Ia menyadari bahwa setiap perjalanan usaha pasti menghadirkan tantangan, namun hal tersebut tidak menyurutkan tekadnya untuk terus melangkah.
Menurutnya, setiap orang memiliki kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya masing-masing.
Karena itu, ia memilih untuk menghadapi berbagai rintangan yang ada di depan mata dengan penuh keberanian dan tanggung jawab.
“Setiap individu punya hak untuk memilih. Aku memilih menerobos semua tantangan yang ada di depan. Apa pun yang ingin aku capai akan aku perjuangkan, dengan segala konsekuensi yang nantinya harus aku terima. Karena sesuatu yang sudah kita mulai, wajib kita akhiri juga,” ujar Deka, Senin, 8 Juni 2026.
Meski berhasil membangun dan mengembangkan berbagai usaha di usia muda, Deka tidak mengesampingkan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa.
Ia mampu menyeimbangkan antara aktivitas perkuliahan dan bisnis dengan menerapkan manajemen waktu yang baik serta menentukan skala prioritas.
Ketika salah satu di antaranya membutuhkan perhatian lebih karena bersifat mendesak, ia akan fokus menyelesaikannya terlebih dahulu agar keduanya tetap berjalan secara optimal.
Perjalanan bisnis yang ia bangun tentu tidak selalu berjalan mulus; berbagai tantangan dan hambatan pernah ia hadapi, salah satunya ketika muncul permasalahan yang melibatkan salah seorang karyawan.
Situasi tersebut memberikan dampak pada berbagai aspek operasional usaha, termasuk hubungan kerja sama yang terjalin dengan sejumlah pihak.
Meski demikian, pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga baginya untuk lebih cermat dalam memilih orang yang akan diajak bekerja sama.
Selain itu, ia juga belajar untuk lebih mengandalkan kemampuan dan penilaiannya sendiri dalam mengelola bisnis, sehingga mampu menghadapi berbagai dinamika dunia usaha dengan lebih bijak dan matang.
“Masalah itu yang membuat aku terpukul sekali dan juga lebih selektif lagi dalam memilih orang untuk dipercaya. Karena dari sini aku belajar bahwa jangan terlalu percaya pada orang lain, namun percayalah dengan kemampuan diri sendiri,” tandas Deka.
Bisnis yang dirintisnya juga membawa banyak dampak positif dalam kehidupannya.
Melalui berbagai usaha yang dijalankan, Deka semakin dikenal oleh masyarakat dan memperoleh kesempatan untuk terlibat dalam sejumlah kegiatan berskala besar.
Pengalaman tersebut semakin memperluas jaringan serta membuka berbagai peluang baru bagi dirinya.
Bagi Deka, masa muda adalah waktu yang tepat untuk menunjukkan potensi dan kemampuan yang dimiliki.
Ia meyakini bahwa generasi muda memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya, berkembang, dan bersinar melalui bidang yang mereka tekuni.
Tak hanya dikenal sebagai entrepreneur muda, Deka juga aktif di dunia kepenulisan dan telah menerbitkan tiga buku, yaitu Kutipanku Untukmu, Kutipanku dalam Sunyi, dan Dewasa itu Melelahkan.
Buku terakhirnya bahkan ramai diperbincangkan dan dibedah dalam berbagai podcast karena dinilai mewakili keresahan serta perjalanan emosional anak muda yang mengalami sebuah trauma.
“Aku ingin membuka wawasan bagi pembaca lebih luas lagi bahwa yang membuat faktor trauma itu bukan dari sendiri, namun di lingkungan pun dapat membentuk sebuah trauma. Jadi dari buku inilah aku memberi sudut pandang dari seorang anak dan bagaimana orang tua harus bersikap pada anaknya,” bebernya.
Kegemaran menulis dimiliki Deka sejak duduk di bangku SMK dan dari aktivitas ituia mulai menaruh minat pada dunia psikologi.
Baginya, ketertarikan itu bukan sekadar pilihan, melainkan lahir dari pengalaman saat berada di titik terendah dalam hidupnya.
Pengalaman tersebut mendorongnya untuk lebih memahami diri sendiri dan orang lain yang kemudian banyak menginspirasi karya-karya tulisnya.
“Ketika aku sudah berada di titik terendah, ada something yang membisikkan aku untuk ‘coba kamu menjadi seorang psikolog, maka kamu akan mengerti isi dunia’,” ungkap Deka.
Deka meyakini bahwa setiap hal yang terjadi dalam hidupnya merupakan bagian dari rencana Tuhan.
Meski sempat merasa salah memilih jurusan kuliah, ia percaya bahwa jalan yang telah ditetapkan Tuhan justru akan membawa manfaat terbaik bagi dirinya.
Melalui keyakinan tersebut, ia belajar menerima setiap proses kehidupan dan berhasil berdamai dengan berbagai pengalaman traumatis yang pernah dialaminya melalui tulisan-tulisan yang ia ciptakan.
Kegemarannya dalam dunia kepenulisan berangkat dari keyakinannya bahwa tidak ada tulisan yang buruk dan tidak ada karya yang sia-sia.
Baginya yang terpenting adalah bagaimana seseorang belajar menuangkan gagasan dengan baik serta menjadikan tulisan sebagai jejak yang mampu mengabadikan cerita dan perjalanan hidup dalam lembaran kertas.
Deka berpesan kepada generasi muda agar tidak takut mengejar cita-cita karena menurutnya setiap impian adalah hal yang mulia dan kegagalan bukanlah alasan untuk berhenti.
Ia menegaskan bahwa keberanian untuk mencoba, menjalani, dan menyelesaikan apa yang telah dimulai merupakan kunci untuk meraih kesuksesan.
Baginya, setiap kegagalan adalah pelajaran yang membawa seseorang semakin dekat pada mimpinya. (bp/Carlos Daniel Van Ellan/4C/PBSI/Undiksha










