KLUNGKUNG, Balipolitika.com – Nasib tragis menimpa Ni Ketut Suarti, wanita paro baya yang menjadi korban tewas dalam tragedi pohon tumbang di Pura Segara Penataran Ped, Desa Ped, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung Rabu (5/11) malam.
Pohon kepuh berukuran besar itu, tumbang dan menimpa pamedek yang berada di sekitarnya. Beberapa orang lain juga terluka akibat pohon tumbang ini.
Lima korban lainnya mengalami luka ringan hingga sedang, I Wayan Lilar (65) mengalami luka di bagian dahi. Ni Kadek Rumiani (36) masih mengalami syok.
Sunarmi Liaturrofiah (20) dalam keadaan hamil muda dan mengalami nyeri bahu, I Wayan Sudiasa (40) luka di bagian mulut, serta Ni Luh Dewiantari (22), luka robek ringan di kaki kanan.
“Akibat insiden tersebut, enam orang menjadi korban, terdiri dari 1 orang meninggal dunia dan 5 lainnya mengalami luka-luka,” ujar Kapolsek Nusa Penida AKP I Ketut Kesuma Jaya, Kamis (6/11). Evakuasi pun segera kepada para korban.
Musibah pohon tumbang tersebut terjadi sekitar pukul 21.15 WITA. Ketika itu ada rombongan yang berjumlah 12 orang dari Desa Aan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung datang melaksanakan persembahyangan di Pura Penataran Ped.
Saat melintas di depan Pura Segara, tiba-tiba pohon besar di area pura tumbang dan menimpa beberapa orang di lokasi. Dari hasil pemeriksaan awal, bahwa cuaca di sekitar lokasi saat kejadian dalam keadaan cerah, tanpa angin kencang maupun hujan.
Sehingga dugaannya pohon berukuran besar tersebut tumbang akibat kondisi batang yang sudah rapuh. Personel Polsek Nusa Penida bersama masyarakat dan petugas pura, segera melakukan pemotongan dan pembersihan pohon tumbang agar area persembahyangan kembali aman bagi umat.
“Kami turut berduka cita atas meninggalnya salah satu korban. Personel kami langsung bergerak cepat untuk mengevakuasi korban dan mengamankan lokasi. Kami juga mengimbau masyarakat agar selalu berhati-hati saat beraktivitas di area pura yang banyak pepohonan besar,” ujar Kesuma Jaya.
Sementara itu, jenazah dan para korban lainnya berangkat dari Nusa Penida menuju Klungkung daratan. Pemberangkatan korban mulai sekitar pukul 07.30 WITA dengan pengawalan langsung personel Polsek Nusa Penida di bawah pimpinan AKP Kesuma Jaya.
Korban berangkat melalui dua jalur laut, masing-masing menggunakan Kapal Roro Nusa Jaya Abadi dari Pelabuhan Roro Nusa Penida menuju Pelabuhan Padang Bai, serta speed boat Gangga Express 27 dari Pelabuhan Sampalan menuju Padang Bai.
Adapun jenazah Suarti, korban asal warga Dusun Swelagiri, Desa Aan, Banjarangkan, Klungkung, berangkat dari Nusa Penida ke Bali daratan, Kamis (6/11).
Jenazah sementara di RS Sanjiwani Gianyar, karena di RSUD Klungkung intalasi penitipan jenazah penuh. Pihak keluarga masih akan berunding, untuk menentukan hari baik untuk upacara pengabenan terhadap jenazah Ketut Suarti.
AKP Kesuma Jaya menjelaskan, pihaknya menurunkan sejumlah personel untuk mengawal dan mengamankan proses evakuasi serta pemberangkatan korban sejak pagi hari.
“Kami pastikan seluruh proses pemberangkatan berjalan dengan aman dan lancar. Personel kami hadir di setiap titik pelabuhan untuk membantu keluarga korban dan memastikan tidak ada hambatan selama proses berlangsung,” ujar Kesuma Jaya.
Dari hasil pengawasan di lapangan, pemberangkatan korban total 13 orang, terdiri dari 5 korban dan 8 anggota keluarga. Di sisi lain, duka mendalam menyelimuti keluarga Suarti. Lansia tersebut berpulang karena musibah pohon tumbang. Padahal saat itu, ia dan keluarganya hendak melakukan persembahyangan Hari Purnama.
Perbekel Desa Aan, I Wayan Wira Adnyana menjelaskan, ketika itu korban bersembahyang bersama keluarganya. “Beliau bersembahyang ke Nusa Penida bersama keluarganya. Ada suaminya, ada keponakannya, karena memang kemarin Hari Purnama,” ungkap I Wayan Wira Adnyana, Kamis (6/11).
Pasca insiden pohon tumbang yang menewaskan seorang pemedek di areal Pura Segara Penataran Ped, Desa Ped, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, pengempon pura berencana menggelar upacara guru piduka. Upacara ini sebagai bentuk permohonan maaf serta untuk memulihkan kesucian pura pasca musibah tersebut. (BP/OKA)













