JAKARTA, Balipolitika.com- Tren pasar ponsel pintar menjelang Idul Fitri tahun ini menunjukkan anomali harga yang cukup meresahkan para calon pembeli. Pengamat gawai David GadgetIn mengungkapkan bahwa banderol perangkat keluaran terbaru mengalami lonjakan nilai yang sangat signifikan bagi konsumen. Fenomena kenaikan harga ini memicu pergeseran strategi belanja agar masyarakat tetap mendapatkan perangkat mumpuni tanpa harus menguras kantong.
“Saya sangat menyarankan konsumen untuk mencari stok ponsel keluaran tahun lalu karena harganya jauh lebih stabil dan masuk akal,” kata David dalam unggahan video terbarunya, Jumat, 13 Maret 2026.
Kelangkaan pasokan komponen RAM menjadi pemicu utama yang membuat ongkos produksi perangkat elektronik meningkat tajam secara global. Selain itu, fluktuasi nilai tukar dolar dan tingkat inflasi tahunan turut memberikan tekanan besar pada harga jual retail. Kebijakan beberapa prodkan ponsel yang memanfaatkan momentum ini juga disinyalir menjadi penyebab harga ponsel 2026 melonjak tinggi.
“Faktor utama kenaikan harga ini adalah suplai RAM yang menipis serta kondisi ekonomi global yang sedang tidak menentu sekarang,” ujar David menjelaskan situasi pasar.
Pada segmen entry level, Samsung Galaxy A07 produksi tahun 2025 menjadi pilihan yang jauh lebih rasional bagi masyarakat. Ponsel ini mengusung prosesor Helio G99 yang memiliki performa lebih tangguh jika kita bandingkan dengan Redmi A7 Pro. Perangkat lawas tersebut justru menawarkan keseimbangan antara performa mumpuni dan harga yang jauh lebih murah bagi kantong.
“Kapan lagi kita bisa bilang spesifikasi dan harga Samsung lebih bagus daripada Xiaomi untuk kelas ponsel di bawah dua jutaan,” tutur David memberikan perbandingan.
Bergeser ke kelas menengah, Infinix Note 50s tetap menjadi primadona karena memiliki komposisi fitur yang sangat seimbang bagi pengguna. Meskipun Infinix Note 8 sudah meluncur, versi terdahulu ini tetap unggul dalam hal nilai guna terhadap setiap rupiah. Pengguna akan mendapatkan kualitas kamera dan daya tahan baterai yang tidak kalah bersaing dengan produk rilisan terbaru.
“Jika bicara soal aspek yang paling worth it, saya masih lebih memilih Infinix Note 50s keluaran tahun lalu,” ucap David menekankan pilihannya.
Namun, tidak semua ponsel keluaran 2026 patut dihindari karena beberapa model masih menawarkan peningkatan performa yang sebanding. Xiaomi Redmi Note 15 Pro 5G menjadi salah satu pengecualian karena kenaikan harganya tidak lebih dari sepuluh persen. Selain itu, Infinix Note 60 juga layak dipertimbangkan meskipun harganya kini sudah menyentuh angka empat juta rupiah.
“Kenaikan harga pada Redmi Note 15 Pro 5G masih terasa sangat sesuai dengan peningkatan performa yang mereka tawarkan,” kata David memberikan penilaian objektif.
Kejutan terbesar muncul pada segmen performa tinggi melalui kehadiran iQOO 15R yang membelah pasar dengan harga sangat kompetitif. Perangkat ini menjadi anomali karena tetap memberikan spesifikasi tinggi di tengah badai kenaikan harga ponsel flagship lainnya. Dengan rentang harga tujuh hingga delapan juta rupiah, ponsel ini menjadi opsi terbaik bagi para pemburu performa.
“iQOO 15R adalah sebuah anomali yang harus dipelajari oleh merek lain karena mampu memberikan nilai yang sangat luar biasa,” ujar David menambahkan.
Bagi pencinta produk kelas atas, memilih Vivo X300 atau Find X9 keluaran 2025 adalah langkah yang sangat cerdas. Langkah ini jauh lebih baik daripada memaksakan diri membeli seri terbaru yang harganya sudah menembus angka empat belas juta. Sementara itu, iPhone 17 Plus juga menunjukkan kestabilan harga yang jarang terjadi pada kategori ponsel premium tahun ini.
“Daripada membeli ponsel menengah yang harganya naik, lebih baik sekalian ambil flagship tahun lalu yang kualitasnya tetap juara,” tutur David menutup rekomendasinya. (BP/CHA).













