BADUNG, Balipolitika.com- Debur ombak Pantai Kuta tidak seindah dulu bagi Ni Luh Darsini dan Putu Suasih.
Dua perempuan paruh baya yang akrab disapa Bu Rosy (Ni Luh Darsini) dan Bu Isna (Putu Suasih) adalah gambaran nyata dari terkikisnya kejayaan pariwisata di salah satu ikon destinasi wisata Bali.
Di tengah kondisi pantai yang memburuk akibat gempuran abrasi, keduanya masih bertahan untuk mengais rezeki yang kian menipis.
Saat ditemui pada Sabtu, 6 Juni 2026, Bu Rosy menyampaikan bahwa ia sudah 26 tahun setia menawarkan jasa nail art (kutek) di Pantai Kuta.
Sementara Bu Isna, telah memijat pundak-pundak lelah para wisatawan mancanegara dan domestik selama 18 tahun terakhir.
Bagi mereka, pekerjaan ini bukan sekadar sampingan, melainkan urat nadi untuk menyambung kehidupan.
Ada alasan mendalam keduanya bertahan hingga puluhan tahun menjadi pekerja informal di pesisir Pantai Kuta.
Kebebasan waktu menjadi kunci utamanya mengingat sebagai perempuan Bali begitu banyak kewajiban adat dan keagamaan yang suka tak suka harus dijalani.
“Karena pekerjaan ini santai. Jadi, kita kan namanya orang Bali ya, kadang-kadang kita ke banjar segala macam upacara, tidaklah diatur oleh waktu, kita yang mengatur waktunya,” ungkap Bu Rosy.
Hal serupa juga diungkapkan Bu Isna. “Tidak terikat istilahnya, kalau ada ngayah ke banjar kita ngayah, kalau ada odalan kita bisa libur. Jadi bosnya sendiri,” tambahnya sambil tersenyum.
Namun, kebebasan menjadi “bos” bagi diri sendiri kini dibayar dengan ketidakpastian pendapatan.
Pantai Kuta kini tidak lagi ramah; masalah abrasi yang parah ditambah penataan kawasan pantai yang belum optimal membuat keindahannya semakin meredup.
Dampaknya sangat dirasakan oleh para penyedia jasa seperti Bu Rosy dan Bu Isna.
Perbedaan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Pantai Kuta kini terasa sangat jomplang jika dibandingkan dengan masa-masa kejayaan dulu.
“Ya, lumayan menurun, tapi yang namanya rezeki selalu ada saja pemasukan kita, biarpun sepi ya ada aja,” ungkap Bu Rosy.
“Kondisi seperti sekarang ini, dapat 2 atau 3 tamu sudah lumayan banyak. Kalau dulu, bisa sampai 7 tamu bahkan 10 tamu sehari,” tambah Bu Isna sambil mengenang yang lalu.
Urusan tarif harga juga sangat fleksibel seiring sepinya wisatawan yang menggunakan jasa kedua perempuan tangguh itu.
Mereka tidak pernah mematok harga mati agar tetap dilirik; semuanya bergantung pada proses tawar-menawar (nego) di awal dengan tamu yang akan menggunakan jasa dan keramahan keduanya.
“Tamu juga biasanya sudah tahu harga-harga seperti spa, dia bisa compare dengan harga di sana,” ungkap Bu Isna. “Biasanya ada yang ngasih 150.000, kadang 100.000,” sahut Bu Rosy.
Kondisi terberat biasanya datang saat musim penghujan, yang diperparah ketika hantaman abrasi sedang ganas-ganasnya.
Pada momen itu mereka kerap kali harus pulang dengan tangan hampa.
“Waktu musim hujan dan waktu parah-parahnya abrasi pantai, gak dapat jualan sama sekali,” keluh Bu Isna.
Mirisnya, kerusakan Pantai Kuta tidak hanya dikeluhkan oleh warga lokal, melainkan juga memicu rasa iba dari para wisatawan mancanegara yang datang.
“Kadang-kadang tamunya datang bilang ‘duh kasihan’. Sedih tamunya melihat pantainya rusak, pulanglah dia,” cerita Bu Isna menirukan ucapan salah satu turis.
Meski situasi kian menjepit, secercah harapan belum sepenuhnya padam dari benak kedua perempuan tangguh ini. Mereka masih menaruh harapan besar agar pemerintah daerah segera mengambil tindakan untuk memulihkan Pantai Kuta.
“Semoga Pantai Kuta ini ditata dengan baik, semoga turis yang datang ramai, dan ibu juga dapat rezeki,” harap Bu Rosy.
Menutup perbincangan, Bu Isna juga menyuarakan harapan yang sama.
Ia yakin, jika dilakukan penataan pantai maka pantai akan kembali indah dan menarik wisatawan untuk datang.
“Kalau tertata dengan baik kan kemungkinan dia (wisatawan) bisa ke sini, dan kita juga dapat rezeki,” pungkasnya penuh harap. Ni Putu Ayu Ika Natari/4C/PBSI/Undiksha)













