BULELENG, Balipolitika.com– Berjarak sekitar 2,5 km dari pusat Kota Singaraja, Pantai Eks Pelabuhan Buleleng yang berlokasi di Jalan Erlangga menawarkan wisata sejarah dan ruang publik di ujung utara Provinsi Bali.
Lokasi ini menawarkan perpaduan pesona pantai utara dengan peninggalan era kolonial Belanda serta Klenteng Ling Gwan Kiong yang berdiri sejak tahun 1873.
Klengteng sekaligus Pelabuhan Buleleng ini menjadi saksi sejarah saat Kota Singaraja berstatus sebagai Ibu Kota Provinsi Bali dan Pusat Pemerintahan Kepulauan Sunda Kecil pada masa penjajahan Belanda hingga hingga tahun 1960, sebelum akhirnya pusat pemerintahan dipindahkan secara resmi ke Denpasar.
Sisa-sisa peninggalan sejarah inilah yang membuat Pantai Eks Pelabuhan Buleleng menjadi salah satu destinasi wisata yang ramai dikunjungi masyarakat, terutama saat akhir pekan dan hari libur.
Keindahan pantai yang berada di pusat Kota Singaraja ini mampu menarik perhatian wisatawan lokal maupun luar daerah untuk menikmati suasana pantai yang tenang dan pemandangan laut yang indah.
Kondisi yang ramai ini disyukuri oleh salah seorang pedagang yang mengais rezeki di objek wisata tersebut, yakni Jro Sandat (46 tahun).
Perempuan kelahiran Karangasem, 31 Desember 1980 yang tercatat sebagai warga Kampung Anyar, Buleleng itu mengaku kondisi tersebut memberikan peluang yang baik untuk mencari nafkah.
“Pantai ini selalu ramai pengunjung. Banyak orang datang untuk berwisata, sehingga saya memilih berjualan di sini untuk mencari nafkah,” ujarnya.
Jro Sandat menjelaskan bahwa Pantai Eks Pelabuhan Buleleng merupakan salah satu pantai yang sudah lama dikenal masyarakat.
Sebelum berkembangnya destinasi wisata pantai lainnya di Buleleng, pantai ini telah menjadi tujuan wisata favorit warga setempat.
Karena itu, pantai ini dapat dikatakan sebagai salah satu pantai utama yang dimiliki Kota Singaraja.
Selain ramai pengunjung, kebersihan pantai juga menjadi hal yang mendapat perhatian.
Jro Sandat mengaku kondisi pantai cukup terjaga karena ada petugas kebersihan yang rutin membersihkan area pantai setiap pagi.
“Ada petugas kebersihan yang menjaga dan membersihkan lingkungan pantai setiap pagi. Jadi pengunjung tidak perlu khawatir mengenai kebersihan pantai,” katanya.
Meski demikian, ia berharap adanya peningkatan fasilitas di kawasan wisata tersebut.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah minimnya penerangan di area pantai saat malam hari.
“Lampu di sekitar pantai masih kurang. Saat menjelang malam, suasana menjadi cukup gelap sehingga perlu adanya penambahan penerangan agar pengunjung lebih nyaman,” tambahnya.
Dengan keindahan alam, keramaian pengunjung, serta kebersihan yang terjaga, Pantai Eks Pelabuhan Buleleng terus menjadi salah satu destinasi wisata yang diminati masyarakat.
Peningkatan fasilitas diharapkan dapat menambah kenyamanan dan keamanan bagi wisatawan yang berkunjung.
Selain kebersihan area pantai, fasilitas toilet juga menjadi salah satu hal yang diperhatikan oleh pengunjung.
Menurut Jro Sandat, fasilitas toilet di kawasan Pantai Eks Pelabuhan Buleleng tersedia dan dapat digunakan oleh pengunjung secara gratis.
Kondisi toilet cukup baik dan bersih sehingga pengunjung tetap merasa nyaman saat berada di kawasan pantai.
“Kalau mau ke toilet sudah tersedia dan gratis digunakan. Kebersihannya juga cukup dijaga agar pengunjung tetap nyaman,” ujar Jro Sandat.
Imbuhnya, pengunjung Pantai Eks Pelabuhan Buleleng hanya dikenakan biaya parkir sebesar Rp2.000 per kendaraan. (bp/Nur Laili/4C/PBSI/Undiksha)













